Take a fresh look at your lifestyle.

Oputa Yi Koo, Dalam Perspektif Diskresi Politik Pemerintah, Filosofis, Hukum, Sejarah, dan Kebijakan Universitas

+100%-

Kendari, (SultraDemoNews) – Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Semenjak Indonesia berdiri, Sulawesi Tenggara belum memiliki pahlawan Nasional.

Hari ini, Senin 22 Juli 2019, Universitas Halu Oleo bekerjasama dengan pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menyelenggarakan seminar dengan tema “Heroisme Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo) Sebagai Kandidat Kuat Pahlawan Nasional RI Dalam Ragam Perspektif (Diskresi Politik Pemerintah, Filosofis, Hukum, Sejarah, dan Kebijakan Universitas)”.

Beberapa pemateri yang direncanakan hadir yaitu Prof. Dr. Zamrun F, M.Sc selaku pimpinan Perguruan Tinggi Universitas Halu Oleo, Alimazi, SH selaku Gubernur Sultra, Prof. Dr. Susanto Zuhudi selaku Peneliti Buton dan Guru Besar Universitas Indonesia, Dr. H. AS. Tamrin selaku Walikota Baubau, serta Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H selaku Dewan Pemberi Gelar Pahlawan Indonesia.

advertize

advertize

Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung dan mensosialisasikan kepada publik bahwa sudah saatnya Sulawesi Tenggara memiliki pahlawan Nasional.

Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi dianggap layak mendapatkan gelar pahlawan, mengingat perjuangannya untuk mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Semangatnya untuk mengusir penjajah dilakukannya dengan strategi perang gerilya, sebuah strategi perang yang kemudian menginspirasi banyak perjuangan di Nusantara, termasuk Pangeran Diponegoro.

Strategi perang itulah kemudian yang diadopsi oleh Vietnam dan Korea Utara untuk memenangkan perang melawan mesin perang berteknologi canggih. Kelihaian strategi itu, kemudian mampu menenggelamkan kapal Belanda di teluk Lawele, Buton.

Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi juga merupakan sosok yang disegani oleh kawan maupun lawan termasuk Belanda karena kegigihannya mempertahankan harkat dan martabat bangsa Buton dari intevensi Belanda. Ia bahkan rela mundur dari jabatannya sebagai Sultan Buton untuk berperang melawan Belanda, demi nilai-nilai manusia bangsanya. (MA)

Komentar FB

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Send this to a friend