Take a fresh look at your lifestyle.

Surat Terbuka Untuk Gubernur Sultra “Pak Ali Kerja Untuk Siapa”

+100%-

 

Oleh Aliyadin Koteo, Penulis adalah Pendiri OASIS Sultra ,Pendiri GMKM Konsel, Founder Rumpun Yatim Piatu Menginspirasi Sultra

Bismillah
Hormatnya Hormat.

Taabea, Pak Ali Mazi saya adalah salah satu dari sekian banyak anak yang sampai hari ini masih menyimpan rekam lirik dan nada sebuah lagu yang diberi judul SMS, (Sel Sel Masyarakat Sejahterah), lagu itu adalah lagu wajib di zaman pemerintahan Pak Ali yang juga mengandung makna program saat itu. Setiap kali perayaan hari kemerdekaan Indonesia lagu itu kami lombakan. Liriknya kurang lebih seperti ini, “Satukan langkah dan bulatkan tekadmu, membangun Sulawesi Tenggara, dan seterusnya” Semoga saya tidak salah dan semoga pak Ali masih ingat.

Pak Ali Mazi, Nama bapak dengan saya hampir memiliki kesamaan, saya karib disapa Ali juga. Namun begitu saya masih kurang paham, harus dengan sapaan akrab apa untuk menyapa bapak secara santun.

Tapi siapapun, Pak Ali Mazi adalah gubernur, dan Pak Ali adalah sapaan yang mungkin kurang tepat tapi yang pasti tidak salah. Mohon izinkan saya mengingatkan sederet misi Ali Mazi- Lukman Abunawas (AMAN) sekiranya melalui surat terbuka ini, Pak Ali sadar, jika memang sedang terlupa, dan jika masih sadar, maka ada baiknya pak Ali tersinggung.

Surat terbuka ini saya beri judul ” Pak Ali Kerja Untuk Siapa” jawabannya hanya Pak Ali yang tahu persis, selebihnya, saya, kami , dan seluruh masyarakat sudah punya jawaban tersendiri dari hasil menghayal, hasil telaa, dan sudut pandang lain yang mungkin ilmiah, bahkan boleh jadi hanya sebatas prasangka subyektif. Tapi itulah dinamika sosial.

Ibarat Menulis Skripsi, Tesis, dan Desertasi, Judul surat terbuka ini adalah “Pak Ali Kerja Untuk Siapa” yang sekaligus menjadi rumusan masalah, sedang hipotesis sementara, Pak Ali Kerja Belum Untuk Rakyat dan sedang bekerja untuk diri sendiri.

Sejak dua bulan terkahir pasca lebaran idul Fitri tahun ini, Pak Ali Mazi dinilai publik sedikit oppside, dengan keluarnya kebijakan membangun Gedung Baru DPRD Sultra dengan rencana anggaran sangat fantastic.

Padahal Gedung DPRD Sultra yang saat ini berdiri kokoh masih sangat layak, terdapat gedung baru, bahkan gedung lamanya belum rampung rehab dan perbaikannya.

Tidak tanggung- tanggung, antara rakyat, tokohnya tokoh (istilah yang lagi viral), publik society, dan Ali Mazi sendiri saling berbalas pantun di media.

Pak Ali mesti realistis, dan ilmiah, instrumen apa dan menggunakan metode dan kajian apa sampai ngotot akan membangun gedung DPRD baru hingga mengabaikan penolakan dari rakyat.

Yah penolakan, kalau rakyat sudah menolak, berarti rakyat tidak butuh, rakyat belum butuh, sebab di Sultra ini banyak yang harus didahulukan, dan diprioritaskan.

Sederhananya, Pak Ali mesti objektif, mungkin rakyat butuh, tapi tidak sekarang, dan Pak Ali mesti rasional, arif dan bijaksana menyikapi itu, sebab mandat dan garuda yang melekat pada seragam baju pak Ali adalah MANDAT SUCI RAKYAT yang harus Pak Ali turuti. Jika tidak, maka Pak Ali Gubernurnya siapa? Dan Kerja Untuk Siapa, “Analoginya si AMAN seragamnya masih sangat bagus, tidak usah beli baru, dan belum butuh, Belikan saja buku dan polpen karena polpen dan buku AMAN sudah habis/rusak”

Gambar 1, Jembatan sementara di Sampara yang baru-baru ini dibuat, betapa melumpuhkan ekonomi Sultra saat tidak bisa diakses. (Sumber poto: Antaranews). Gamabr dua kondisi jalan di kepulauan

Pak Ali yang terhormat, mungkin Pak Ali jauh lebih tahu, bahwa leader itu paling penting adalah memahami rakyatnya, mengerti dan mampu melayani karakter dan kebutuhannya. Leader itu meneduhkan, dan tidak merawat kegaduhan, dan harus selalu AMAN. Hukumnya Fardu A’in. Leader itu bekerja untuk daerah dan rakyatnya.

Kembali ke laptop. Belum selesai urusan Gedung DPRD, Penolakan terus berdatangan, hadir lagi pernyataan kebijakan baru, Pak Ali Mazi mau bangun kantor Gubernur Sultra 17 lantai.

“HEBAT”Mudah- mudahan Pak Ali tidak sedang mengumpul pundi- pundi rupiah untuk mengembalikan biaya politik saat mencalonkan, ini bukan rahasia umum lagi. Jika demikian, maka kasiannya kasian.

Pak Ali Mau Sejahterakan Pejabat, Kontraktor, Pengusaha, Atau mau sejahterakan rakyat, sangat irasional jika Pak Ali Berdali untuk pelayanan rakyat dan kebutuhan rakyat.

Pak Ali, ukuran keberhasilan itu bukan fisik bangunan yang kokoh, tapi manfaatnya kepada rakyat. Ketersesuaian antara pemenuhan kebutuhan dan keperluan rakyat. Sekali lagi Rakyat belum perlu kantor DPRD dan Kantor Gubernur. Rakyat perlunya jalan, jembatan diperbaiki, kesehatan, pendidikan, pengembangan ekonomi kerakyatan, pertanian, dan perikanan dan lainnya.

Pak Ali boleh sebutkan satu perumpamaan saja, rakyat siapa yang bapak maksud membutuhkan sekali Kantor Gubernur, rakyat mana yang saat ini membutuhkan kantor DPRD Baru,?

Barangkali ada yang rusak dengan alat ukur, metode, dan instrumen yang digunakan Pemprov ( gubernur) jika mengatakan dan memaksa kedua gedung mewah dimaksud sudah dibutuhkan dan prioritas.

Kalau bukan alat ukurnya yang rusak, maka gagasannya yang cacat.

Pak Ali, jika berkenaan, saya siap antar tengok jalan Provinsi di Lalembuu Konsel yang tidak pernah disentuh pemprov, itu juga menjadi bagian dari janji pak Ali saat kampanye di Konsel, termaksud jalan lintas Bandara menuju Sampara Konawe, yang sudah masuk jalan provinsi dan sempat Pak Ali Janjikan ketika kampanye di Kecamatan Ranomeeto Barat, Konsel, mari saya antar, disana, setiap hari warga makan debu.

Gambar 1, kondisi jalan provinsi di Buton, yang sudah 22 tahun rusak parah (sumber Okesultra.com). Gambar 2 kondisi jalan di Lalembuu Konsel yang sudah 20 tahun tidak disentuh pemprov.

Pak Ali tengoklah, sudah berapa pohon pisang tumbuh subur di badan jalan disetiap daerah, tengoklah jembatan rusak yang menghambat akses ekonomi kerakyatan, itu baru dari segi infrastruktur, belum soal di sektor lainnya, semua serba mendesak.

Hemat saya, Pak Ali harus mengurungkan niat itu dulu, mungkin perlu, tapi tidak sekarang. Pak Ali boleh sebutkan berapa persen rakyat yang minta pelayanan di dua bangunan mewah yang dipaksa akan dibangun, dan seberapa berpengaruh terhadap kebutuhan rakyat. Pak Ali sekali lagi harus realistis menyikapi ini, rakyat berharap tidak memaksa kehendak sendiri dengan mengatasnamakan rakyat.

advertize

advertize

Kondisi sekolah dan suasana belajar di suatu sekolah di Sultra. Sumber poto : Portal Sultra

Semoga beberapa gambar yang saya lampirkan mampu menembus sanubari Pak Ali, turunnlah di pelosok, sekian banyak kebutuhan rakyat yang mendesak. Bukan Kantor Gubernur 17 lantai, bukan juga Kantor DPRD Sultra.

Meminjam kata “Jangan membangun karena mengharap pujian dan mengharap fee,”.

Berikut saya ingatkan kembali visi- misi dan lima pilar membangun Sultra yang dikenal dengam Sultra Emas pemerintahan Ali Mazi – Lukman.

Substansinya, program yang termuat dalam visi Ali Mazi adalah terwujudnya Sultra yang Aman, Maju, Sejahterah, dan bermartabat ” dengan pilar Sultra cerdas, Sultra sehat, Sultra bantuan keluarga miskin, Sultra beradab dan beriman, dan Sultra produktif.

Mencapainya, ada beberapa poin utama yang dituang dalam misi.

1. Membangun keamanan insani pada pilar ekonomi, pangan, kesehatan, lingkungan, pribadi, komunitas dan politik

2. Membangun Manusia Sulawesi Tenggara menjadi warganegara yang bermoral, dengan menghadirkan kepemimpinan yang humanis, dan birokrasi moderen.

3. Memajukan ekonomi lokal, melalui peningkatan infrastruktur secara berkeadilan dan berkelanjutan.

4. Memajukan kesehatan, pendidikan, dan masalah sosial

5. Meningkatkan inklusifitas melalui perwujudan pemerintahan desa yang baik, kesejahteraan desa, dan pembangunan perdesaan.

6. Meningkatkan konektivitas dan kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat dalam rangka peningkatan daya saing daerah.

Demikian deretan kiat dan misi yang harus diselesaikan Ali Mazi Lukman. Saya menilai deretan misi utama itu barangkali belum terkoneksi secara signifikan dan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Pembangunan dua gedung yang dipaksakan itu sedikit tidak duduk dengan misi, belum lagi rakyat belum sama sekali membutuhkan.

Sehingga wajar saja jika publik termasuk saya menyebut, Pak Ali Mazi sedang Bekerja untuk diri sendiri.

Terakhir, Pak Ali harus menjadi contoh, menjaga harmoni dengan wakil, jangan kekanak-kanakan main petak umpet, jangan membiarkan kondisi daerah kian keruh akibat kegaduhan, akibat harmoni antara pak Gub dan pak wagub ditenggarai sekat sekat. Sebab itu menentukan konsentrasi pelayanan dan pembangunan Sultra.

Menjaga hubungan dan harmonisasi adalah bagian dari misi pemerintahan AMAN, sehingga Pak Ali dan Pak Lukman wajib malu pada persoalan ini.

Melalui surat terbuka ini, ingin juga saya sampaikan bahwa pernah suatu ketika akibat dari tulisan saya sebelumnya yang mengkritisi Pak Ali, saya ditemui oleh salah seorang yang diduga kuat adalah karib terdekat Pak Ali. Sepertinya dia paling tahu privasi Pak Ali, dan bahkan dia yang mengatur agenda Pak Ali.

Waktu itu di sebuah Hotel di Kendari , dia datang dan mencoba menghentikan saya untuk tidak memberi pesan dan masukan konstruktif.

Saya rasa Pak Ali pasti tentu sudah tahu siapa gerangan dimaksud, jika saya pelajari bahasanya, dan denga latar belakang tugasnya, sepertinya memang dia datang spesial karena diutus Pak Ali.

Sebut saja namanya kira-kira Stevhen (nama karangan), Pak Ali tahu apa yang dia lakukan,? Dia tidak hanya berusaha menghentikan saya, tapi dia juga seolah ingin mencipta kegaduhan, atau bahasa langsungnya “membenturkan” satu organisasi yang memiliki dua pucuk pimpinan. Kala itu, sekira hampir dua bulan berlalu, terdapat satu organisasi yang memiliki dua pucuk pimpinan (dualisme), satu pimpinan sangat kontra dan paling getol menolak kebijakan pembangunan gedung DPRD yang Pak Ali canangkan.

Pimpinan lainnya dihadapan saya dibujuk membuat rilis seolah olah pro dengan kebijakan gubernur, hingga sampai akhirnya kedua pucuk pimpinan yang dualisme itu saling serang di media.

Bahkan, saat kelompok yang saya maksud menolak pembangunan gedung DPRD itu melakukan aksi penolakan, sekelompok pemuda yang menutupi muka, juga diduga kuat adalah preman datang dan berusaha mengagalkan aksi itu. Saya menduga itu juga adalah utusan entah dari siapa, yang pasti kedatangan mereka untuk menggagalkan aksi unjuk rasa penolakan pembangunan gedung baru DPRD Sultra.

Pak Ali, jika itu benar itu adalah framming bapak, maka saya perlu ingatkan bahwa gaya itu adalah gaya tercelah dan sangat tidak beradab serta tidak layak dipercontohkan oleh seorang gubernur, apalagi mereka adalah anak-anak daerah generasi yang mesti dirawat idealismenya, dilindungi pendapatnya, bukan dibenturkan.

Sengaja saya menyampaikan ini, sebab hanya dengan cara seperti ini masukan dari orang kecil seperti kami bisa didengar. Ini juga bagian dari penolakan saya atas dua wacana pembangunan gedung Baru DPRD dan Kantor Gubernur Sultra.

Terimaksih untuk dimaklumi.
Kendari, Sultra 21 Agustus 2019

Tertanda
Aliyadin Koteo.

Komentar FB

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Send this to a friend