Take a fresh look at your lifestyle.

Cipayung Plus Sultra Tegaskan, Tolak Kedatangan Presiden di Sultra

+100%-

Kendari, Kamis (31/10/2019) – Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) HMI, GMNI, GMKI, PMKRI, KMHDI, GPM, GPII yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Plus Sulawesi Tenggara (Sultra) menegaskan, menolak rencana kedatangan Presiden Joko Widodo di Sultra untuk menghadiri Hari Pangan Sedunia (HPS).

Menurut Cipayung Plus Sultra penolakan rencana kunjungan presiden, karena pemerintah dianggap lamban menyelesaikan penanganan kasus meninggalnya Randi dan Yusuf saat melakukan aksi penolakan revisi UUKPK yang dianggap kontroversial.

Ketua Badko HMI Sultra, Eko mengatakan, pihaknya mendesak Presiden Joko Widodo untuk segera menuntaskan kasus pelanggaran HAM di Sultra terkait penembakan dua mahasiswa pada saat aksi penolakkan RUU kontroversional beberapa waktu lalu.

Sebagai wujud komitmennya, Presixen Jokowi diharapkan memberi kepastian penuntasan kasus ini. “Jika Presiden Jokowi tidak mampu menyelesaikan kasus ini, kami menolak untuk mengijakkan kaki di bumi anoa yang kita cintai ini,” tandasnya.

Eko mengatakan, kasus ini sudah sebulan lebih namun belum ada titik terang.

Dengan terpilihnya Komjen Pol. Idham Azis sebagai 1Kapolri, yang notabene merupakan putra Sulawesi Tenggara, diharapkan mampu menyelesaikan kasus penembakan dua mahasiswa Sulawesi Tenggara tersebut.

advertize

advertize

Sementara Ketua DPC GMNI Kendari, Abdul Wahab menyatakan hsl yanga sama. “Kami dengan tegas menolak kehadiran Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo di Sultra,” ujarnya.

Menurutnya, kematian Randi dan Yusuf adalah duka Indonesia. Dua sosok mahasiswa yang memperjuangkan kebenaran ini malah dibunuh oleh bangsanya sendiri.

Bahkan ketika dua kawan kita itu meninggal, pada saat itu pula bapak Jokowi selaku Presiden Republik Indonesia mengucapkan bela sungkawa terhadap dua korban. Tentu itu adalah salah satu bentuk keprihatinan kepada kedua almarhum yang telah gugur di medan perjuangan.

Tapi hal itu tidaklah cukup, karena 30 hari sudah kematian Randi dan Yusuf, namun sampai sekarang belum ditemukan pelakunya.

“Makanya, kami meminta pak Jokowi agar mendesak Kapolri untuk menyelesaikan kasus 2 korban mahasiswa UHO tersebut,” katanya.

Sebelumnya, pada aksi 26 September lalu di depan Kantor DPRD Sultra, menimbulkan korban jiwa dua mahasiswa UHO di Kota Kendari. Hasil visum atas meninggalnya dua mahasiswa itu karena luka parah di bagian kepala Alm. Yusuf dan juga luka tembak di dada kanan Alm. Randi.

Reporter: Irvan.

Komentar FB

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Send this to a friend