Take a fresh look at your lifestyle.

Cara POLRI Menyatukan Sesama Abdi Negara

Oleh : Varhan Abdul Aziz (Wasekjend DPP LIRA)

+100%-

“Selesaikan Tugas Dengan Kejujuran, Karena Kita Masih Bisa Makan Nasi dengan Garam”

(Jenderal Hoegeng , Kapolri 1968 – 1971)

Jenderal Idham Azis, begitu ia mendapat kata sapa didepan namanya sekarang. Seperti hal-nya pejabat baru lainya, tentunya ia berusaha menunjukan gebrakan terbaik dengan langkah – langkah yang totalitas. Kadang pejabat baru terlihat terlalu bersemangat, sehingga pada beberapa kasus ada yang dinilai over dalam framing kinerja di awal – awal era jabatnya. Maklum, lensa kamera masih terus memburu, menunggu good news yang kalau bisa berupa bad news untuk disajikan pada masyarakat. Apalagi saat ada langkah atau kebijakan hingga ucapan yang terpleset, lezat sekali untuk jadi santapan media.

Namun ada yang beda dengan biasanya, Kapolri Idham Azis berusaha natural dalam mengisi hari – hari awalnya memikul amanah tertinggi tribrata. Justru yang sederhana ini tercermin menunjukan kelurusan langkah yang ingin ditunjukan sebagai bagian dari pelaksanaan tugasnya 14 bulan kedepan sebelum pensiun. Tidak lama waktu yang ia miliki, maka sepertinya ia ingin menghitung dengan makna terisi dalam setiap detik Komando Polri yang ia emban. Sebagaimana Tito Karnavian berujar, Idham tidak pernah mau menjadi Kapolri, ia menolak dicalonkan. Namun panggilan takdir membawanya pada tugas ibu pertiwi. Dan tugas itu ia terima dengan satu prinsip saklek, 14 bulan mewakafkan diri sebagai KAPOLRI. Setelahnya pension. Titik. Bulat. Tegas.

Langkah pertama melakukan silaturahmi kepada Panglima TNI adalah pola yang cerdas. Meskipun pernah berada dibawah naungan ABRI, sempat dianak bungsukan di era itu, namun kini, posisi POLRI sangat kuat dalam tupoksi penegakan keamanan. Kapolri memiliki jalur langsung melapor kepada Presiden sehingga posisinya sangat strategis. Namun keistimewaan ini tidak membuat Idham Jumawa. Dengan kesederhanaan ia menghadap Panglima TNI sebagai seorang Junior, yang juga sesama kepala institusi untuk menunjukan teladan terbaik kepada prajurit bhayangkara di bawah. Keteladan termahal lahir dari contoh seorang pimpinan.

advertize

advertize

Tidak selesai disana ia juga langsung mendatangi KPK dalam misi soliditas antar aparat penegak hukum. Seperti menjadi rahasia umum, hubungan KPK dan POLRI berjalan kurang sinergis karena adanya perbedaan – perbedaan pandangan dan kasus – kasus yang bersilangan antar keduanya. Langkah sederhana yang powerful, disaat dengan legowonya, Kapolri hadir menemui ketua KPK, dalam suasana yang cair, dan saling menguatkan. Pertemuan ini langsung memecahkan anggapan negatif yang selama ini menjadi asumsi. Kini masyarakat tegas bisa melihat, POLRI – KPK sepenuhnya searah dan sinergis padu.

Kepala Staf angkatan menjadi tujuan “nyuwun sewu” berikutnya. Sebagai lulusan AKPOL 88, Idham adalah yang paling junior diantar Jenderal Bintang Empat aktiv yang menjabat saat ini.. Agaknya etiket ini akan tetap dilakukan Jenderal Idham, sekalipun ia adalah pejabat paling senior yang dilantik. Menerawang gaya kepemimpinanya, Idham berhitung penuh, dengan segala potensi yang ada , POLRI masih tetap membutuhkan instansi lain dalam menguatkan tugasnya menjaga kondusifitas keamanan NKRI.

Bahkan Jaksa Agung tidak luput ia sowani, Idham menempatkan Kejaksaan sebagai mitra terdekat dalam penindakan dan penegakan hukum. Dari sana kita membaca, meskipun sebagai lembaga sipil hukum tak bersenjata, Kejaksaan Agung ditempatkan terhormat oleh POLRI. Tidak sampai disana , Ketua MPR menjadi incaran selanjutnya upaya konsolidasi cerdas Kapolri ini, dalam suasana santai, di hari libur, ia tetap jalankan tugasnya. 24 Jam Sehari, 7 Hari Seminggu , 14 bulan paling melalhkan dalam hidupnya akan ia persembahkan untuk membuat langkah terbaik meneguhkan stabilitas nasional.

“Mereduksi lawan seminimum mungkin, merangkul kawan sebanyak mungkin, membujuk lawan menjadi kawan. “ Quotes YB Mangunwijaya sangat kental tercermin dalam gaya Kapolri Idham. Bukan hanya menjadi pembantu Presiden sebagai elemen Eksekutif , ia mempererat ikatan unsur – unsur Yudikatif dan bersinergi kuat dengan pemeran Legislatif. Promoter menjadi jargon utama yang tetap diusungnya, sehingga tidak ada perbedaan arah kepemimpinan POLRI , sejalan dan tegak sesuai patron awal. Jenderal Tito bisa tersenyum menyerahkan lencana Kapolri di dada Junior yang tepat.

You are in the right way General .
POLRI sedang menyatukan para abdi negara!

Komentar FB

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Send this to a friend