Take a fresh look at your lifestyle.

GP-AMM Sultra Pertanyakan Tolak Ukur Radikalisme

+100%-

Kendari, Sultrademo.co (11/10) Gerakan Mahasiswa Pembebasan (GP) bersama Aliansi Mahasiswa Muslim Sulawesi Tenggara mempertanyakan tolak ukur radikalisme ke pemerintah.

Mereka menggelar dialog intelektual yang bertemakan,” Menyingkap Konspirasi di Balik Isu Radikalisme” di Balai Kota Kendari dan dihadiri sekira lima puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Kendari, ahad malam (10/11).

Muhtar yang bertindak sebagai moderator menjelaskan, radikalisme harus diperjelas batasan pengertiannya, sehingga tidak terkesan sebagai alat pukul pemerintah terhadap yang mengkritiknya.

Di tempat yang sama, Nafsahu, Ketua Aliansi Mahasiswa Muslim Sultra mengatakan, kita harus memahami sejarah negara, siapa yang merasa terganggu dengan ideologi Islam dan membangun narasi Islamophobia. “Kita tahu bahwa selain ideologi kapitalis sekuler, bersisa ideologi Islam, setelah sebelumnya ideologi komunis sosialis runtuh di Uni Soviet,” Jelasnya.

“Dan untuk meruntuhkan ideologi Islam, tahun 2001, Amerika menyetting kejadian World Trade Center (WTC) yang menimbulkan banyak korban. Dari situlah awal Islamophobia di bangun dan menjadi isu internasional. Selanjutnya, Alqaeda yang dibentuk Amerika justru berbalik melawan Amerika. Tahun 2014, dibentuklah ISIS atau Negara Islam Irak dan Suriah,” tambahnya.

Untuk di Indonesia isu radikslisme dimulai sejak awal pemerintahan Jokowi dan makin menajam saat penikaman Pak Wiranto.

“Seharusnya kita tahu sejarah bahwa kaum muslimin Indonesia berperan besar dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang,” ujarnya.

Sementara, Hikmah Sangggala, Humas GP diawal diskusi menyatakan dirinya adalah salah satu korban stigma radikalisme.
“Seharusnya ada putusan pengadilan untuk memvonis saya,” ungkapnya.

“Radikalisme yang digaungkan oleh rezim adalah gambaran kekhawatiran. Isu itu sengaja diopinikan untuk menutupi kebobrokan pemerintah hari ini. Oposisi yang keras selalu di patahkan geraknya dengan berbagai cara”

“Seharusnya Pemerintah memperjelas tolak ukur seseorang atau lembaga dikatakan radikalisme itu seperti apa. “Sehingga tidak terkesan sebagai pemukul untuk oposisi dan pengalihan isu,” tandasnya.

Laporan: si

Komentar FB

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Send this to a friend