MARI KITA KEMBALI

  • Whatsapp

Oleh : Yayat Y Biaro

Berapa lama dibutuhkan waktu untuk mengubah peradaban Mekkah yang kufur? Hanya 23 tahun. Ya, hanya segitu. 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah.

Bacaan Lainnya

Berapa banyak elite jamaah di Mekkah yang aktif dalam berdakwah? Tidak banyak. Dimulai konglomerat wanita, Sitti Khadijah, anak muda cerdas dan berani bernama Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat terpercaya Abu Bakar as Shiddiq, tokoh Quraisy yang disegani Hamzah, “pemuka preman” yang teguh hati Umar ibnu Khattab, dan beberapa martir dari jamaah yang rela ikhlas mengorbankan nyawa untuk sebuah perjuangan ketauhidan.

Berapa lama periode Madinah? Tidak lama, hanya sekitar 10 tahun. Siapa saja pemimpinnya? Masih sama dengan beberapa tambahan kekuatan dengan bergabungnya orang-orang kaya, ahli ilmu, ahli dagang, ahli logistik dan strategi perang dan jamaah yang bertambah kualitas ideologisnya. Bagaimana jumlahnya? Tidak banyak. Tak mencapai seribu orang. Mereka yang kemudian disebut sebagai para sahabat, orang-orang yang bersama Rasul, melihat Rasul, dan meninggal dalam keadaan beriman.

Apa hasil perubahannya? Berapa luas dan berapa lama daya jangkau perubahan yang dihasilkan? Sangat luas, menyebar hampir seluruh pelosok dunia. Hingga kapan pengaruh perubahannya? Terasa hingga sekarang, sudah hampir 1500 tahun, hampir 15 abad, dan kita meyakini akan bertahan dan terjaga dengan baik hingga kiamat datang!

Kenapa kita tidak belajar dari prestasi luar biasa yang hingga kini belum ada yang menandingi daya dobrak dan daya jangkau perubahannya itu?

Berapa banyak pemimpin di HMI? Berapa lama organisasi dahsyat ini berhimpun? Berapa ribu jamaah yang telah dibina? Berapa banyak ahli yang telah dilahirkan? Berapa banyak saudagar dan orang kaya yang dibesarkannya?

Tapi, kenapa setelah hampir 70 tahun kelihatan tetap tak berdaya? Hanya seperti buih di tepi pantai? Apa yang terjadi? Apa yang harus diperbaiki secara mendasar? Bagaimana strategi perjuangan yang diajarkan hanya indah ketika diajarkan di bangku latihan, dan lumpuh ketika diterapkan dalam kehidupan?

Kawan-kawan tentu punya lebih banyak lagi koleksi pertanyaan serupa. Tapi untuk apa kita mengeluh, karena mengeluh sama sekali tak membantu menghasilkan solusi. Kita juga tak mesti menyalahkan orang lain, generasi lain, karena itu hanya mekanisme psikologis untuk menghindar dari tanggung jawab.

Yang tepat, kita segera turun tangan melakukan perbaikan. Sekecil apapun itu.

Sayidina Ali tak mengeluh saat melaksanakan perannya menggantikan orang yang hanya tidur dalam selimut Nabi. Padahal saat itu nyawanya hampir 99% pasti melayang di tangan kaum kafir. Demikianpun ia tak pernah menyombongkan diri dalam peran besarnya sebagai panglima perang Khaibar. Lantas?

Banyak lagi dan teramat banyak, contoh ahlak pemimpin dan keutamaan para sahabat Nabi yang secara konteks dan urgensinya sangat cocok dengan zaman dan tantangan kita saat ini dan kedepan sebagai alumni HMI.

Soalnya tinggal satu :

Segera kita kembali,
karena kita tahu jalan untuk kembali.

Salam perjuangan.
Yakin Usaha Sampai

Pos terkait