Menakar Potensi Kandidat Pada Pilgub Sultra. ( Asrun : Matahari Baru di Bumi Anoa)

  • Whatsapp

Oleh : Andi Muhammad Hasgar AS., SH, MH.

Bacaan Lainnya

Selasa, 20 Juni 2017.

Pemilihan kepala daerah dan Wakil kepala daerah (Pilkada) 2018 yang akan digelar serentak di 171 daerah di Indonesia merupakan Pilkada serentak untuk ketiga kalinya, gelombang pertama yang dihelat pada tahun 2015, gelombang kedua yang dihelat pada tahun 2017 dan untuk ketiga kalinya di tahun 2018 mendatang.

Untuk Sulawesi Tenggara sendiri ada dua kabupaten yaitu Kabupaten Konawe, Kabupaten Kolaka dan satu kota yaitu Kota Bau-bau dimana akan bersamaan serentak dengan pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur di Sulawesi Tenggara.

Pada kesempatan kali ini penulis tidak akan mengulas mengenai pilkada yang akan dihelat di kabupaten ataupun kota melainkan lebih fokus ke pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur 2018 di Provinsi Sulawesi Tenggara. Yang mana pada momen kali ini banyak memunculkan tokoh –tokoh potensial yang telah teruji dan berhasil menuntaskan amanah demokrasi di masing-masing kota dan kabupaten.

Hal ini tentunya menjadi semakin menarik karena pasca dua periode H. Nur Alam (Gubernur Sultra) yang juga mantan Ketua Partai PAN di Sultra menjadi tanda tanya besar siapakah yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinannya, dan mampukah PAN menempatkan kadernya mempertahankan kejayaan yang telah bertahan selama 10 tahun dengan begitu nyamannya.

PAN Sultra :

Pasca lengsernya Nur Alam dari Ketua DPW PAN Sultra dan Umar Samiun yang terjerat kasus hukum di KPK., PAN Sultra saat ini terkesan sudah menjadikan Ir. Asrun sebagai kader yang akan membawa bendera dan bertarung dalam Pilgub Sultra yang akan datang.

Hal ini tidak lepas dari keberhasilan Asrun memimpin kota Kendari dua periode dan juga menempatkan ADP (Putra bungsunya) sebagai Walikota Kendari selanjutnya. Ditambah lagi dengan banyaknya selentingan bahwa Asrun berada dalam tiga besar elektabilitas tertinggi oleh beberapa lembaga survey lokal maupun nasional.

Mesin Partai dan Figur pendamping :

Bahwa selama sepuluh tahun PAN sangat berkuasa dalam kanca perpolitikan di Sultra, dimana hampir seluruh kabupaten dan kota berhasil menempatkan kadernya sebagai pemenang dalam ajang pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Hal ini tentu menjadi menarik karena kejayaan PAN di Sultra tidak bisa dilepaskan dari kehebatan H. Nur Alam sebagai seorang navigator yang dimana saat ini beliau terkesan terbuang dari partai yang telah dia besarkan (PAN).

Kini harapan matahari biru tersematkan di pundak Asrun yang telah berhasil dengan sebidang prestasi sebagai Walikota Kendari. Tentu, tantangan utamanya ialah mensolidkan internal partai di seluruh kabupaten/kota untuk bahu-membahu mempertahankan kursi 01 Sultra. Yang mana hal ini sedikit banyaknya bisa terganggu dengan adanya kader-kader potensial yang bermahzab pada H. Nur Alam. Dan hal tersebut harus dituntaskan secepat-cepatnya.

Sementara itu hal lain yang tidak kalah pentingnya ialah memutuskan figur pendamping Asrun dalam menghadapi Pilgub 2018. Mengingat Asrun berasal dari daratan maka kemungkinan terbesar tokoh-tokoh dari kepulauan (Buton dan Muna) akan menjadi prioritas. Dan hal ini pun perlu banyak kajian yang mendalam serta kebijakan tepat dalam memutuskan untuk memperbesar peluang kemenangan.
Menarik untuk di tunggu dan di ikuti perkembangannya !!!

Membangun tanpa utang VS Bencana banjir tahunan :

Membangun tanpa utang’ menjadi slogan yang di gembar-gemborkan si tukang Insinyur’ di akhir masa kepemimpinannya. Dengan bertambahnya infrastruktur, sarana dan prasana pendukung dan menjadikan kendari layak sebagai ibu kota Provinsi Sultra yang mana hal tersebut menjadi tolak ukur keberhasilan Asrun menjadi walikota selama sepuluh tahun. Ditambah dengan beberapa penghargaan tingkat nasonal (adipura, WTP dll) serta berjalan mulusnya kesepakatan dangan pemerintahan di salah satu kota di Perancis untuk merencanakan dan mengembangkan pembangunan terutama dibidang kemaritiman yang pastinya menambah nilai jual, potensi serta populariatas Asrun untuk merebut hati masyarakat di bumi anoa.

Di lain sisi, riak-riak ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Asrun di kota Kendari juga tidak sedikit. Dan musibah banjir yang hampir tiap tahun menjadi langganan warga Kota Kendari bisa menjadi salah satu blunder serta negative image bagi Asrun dan PAN untuk bisa menang dan menjadi jawara di bumi anoa Sultra. Hal yang terkesan kecil namun bisa menjadi ganjalan berarti.

Salam hormat kami untuk Sultra yang lebih baik
Tidak ada manusia yang sempurna’
Sebuah proses tidak akan mengkhianati sebuah hasil’.

Pos terkait