Neraca Perdagangan Sultra Defisit, Impor Melonjak Tajam

Kendari, Sultrademo.co — Neraca perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara kembali tertekan setelah mengalami defisit sebesar US$1,74 juta pada Februari 2026, dipicu lonjakan impor yang jauh melampaui nilai ekspor. (Rabu, 01/04/26).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada Februari 2026 mencapai US$291,74 juta, lebih rendah dibandingkan impor yang menyentuh US$293,49 juta. Kenaikan impor yang signifikan menjadi faktor utama pembalikan kinerja neraca perdagangan menjadi negatif.

Bacaan Lainnya
 
 
 

Secara tahunan, ekspor Sulawesi Tenggara sebenarnya menunjukkan pertumbuhan 4,00 persen dibandingkan Februari 2025. Namun, dari sisi volume justru mengalami penurunan 3,10 persen menjadi 199,07 ribu ton. Kenaikan nilai ekspor terutama didorong oleh komoditas besi dan baja yang meningkat 11,54 persen.

Sepanjang Januari–Februari 2026, ekspor daerah ini masih didominasi sektor industri pengolahan yang mencapai 99,82 persen dari total ekspor, dengan pasar utama Tiongkok yang menyerap lebih dari 96 persen.

Di sisi lain, impor melonjak tajam hingga 167,02 persen dibandingkan Februari tahun lalu. Lonjakan ini terutama berasal dari masuknya mesin dan peralatan mekanik yang nilainya meningkat drastis hingga lebih dari 2.400 persen. Tiongkok, Singapura, dan Malaysia tercatat sebagai tiga negara pemasok utama.

Selain sektor perdagangan, BPS juga mencatat inflasi tahunan (year-on-year) Sulawesi Tenggara pada Maret 2026 sebesar 3,37 persen. Kenaikan harga terutama terjadi pada kelompok perumahan, energi rumah tangga, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) justru menurun 1,64 persen menjadi 98,55, menandakan daya beli petani melemah akibat turunnya harga hasil produksi dan naiknya biaya yang harus dikeluarkan.

Kinerja sektor pariwisata juga menunjukkan pelemahan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Februari 2026 turun menjadi 28,70 persen, disertai penurunan tingkat pemakaian tempat tidur.

Penurunan aktivitas juga terlihat pada sektor transportasi. Jumlah penumpang angkutan udara domestik turun hampir 14 persen, sementara angkutan laut merosot lebih dari 20 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Secara keseluruhan, berbagai indikator ekonomi Februari hingga Maret 2026 menunjukkan tekanan pada perekonomian Sulawesi Tenggara, terutama akibat lonjakan impor, melemahnya daya beli petani, serta penurunan aktivitas transportasi dan perhotelan.

 
 
*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Penulis: Hani
Editor: UL

Pos terkait