GOLKAR MENUJU 2029

ilustrasi Partai Golar menatap politik 2029

Oleh : Baso Affandi

Kemenangan tidak lahir dari banyaknya baliho, atau kuatnya barisan pengurus di atas kertas. Kemenangan yang bertahan lama justru tumbuh dari hal yang fundamental, seperti organisasi yang solid, kader yang bekerja, kepemimpinan yang terukur, dan kepercayaan masyarakat yang dirawat melalui tindakan nyata. Kita perlu membaca arah konsolidasi Partai Golkar menuju Pemilu 2029, terutama ketika Melkiades Laka Lena, Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Indonesia Timur yang juga Gubernur Nusa Tenggara Timur, saat menekankan pentingnya soliditas organisasi, peningkatan kapasitas anggota fraksi, dan kerja politik yang menjawab kebutuhan rakyat.

Bacaan Lainnya

Pesan yang disampaikan bukan sekedar instruksi organisasi menjelang kontestasi elektoral. Di baliknya terdapat persoalan mendasar tentang bagaimana partai politik mempertahankan relevansi di tengah perubahan perilaku pemilih, meningkatnya tuntutan publik, serta semakin terbukanya ruang bagi masyarakat untuk menilai kinerja para wakilnya. Pemilu 2029 memang masih menjadi agenda yang harus dipersiapkan melalui proses panjang, tetapi kualitas persiapannya akan menentukan apakah partai mampu hadir sebagai kekuatan yang dipercaya atau sekadar menjadi mesin elektoral yang bergerak menjelang pemungutan suara.

Rakornis dan Bimbingan Teknis yang diselenggarakan di Makassar, dengan mempertemukan struktur pusat, pengurus daerah, dan anggota legislatif Partai Golkar di kawasan Indonesia Timur, menjadi ruang strategis untuk menyatukan orientasi politik. Namun, nilai penting forum semacam ini tidak boleh berhenti pada keseragaman pandangan dan penyampaian arahan dari pimpinan kepada kader. Forum tersebut harus menjadi titik temu antara strategi pemenangan, evaluasi kinerja, penguatan kapasitas legislator, dan pemetaan persoalan konkret yang dihadapi masyarakat di daerah masing-masing.

Indonesia Timur bukanlah ruang politik yang seragam. Kawasan ini memiliki karakter geografis, struktur ekonomi, kebutuhan pembangunan, dan persoalan sosial yang berbeda-beda. Tantangan masyarakat Nusa Tenggara Timur tentu tidak sepenuhnya sama dengan Sulawesi, Maluku, atau Papua. Ada daerah yang menghadapi keterbatasan infrastruktur, ada yang membutuhkan perluasan akses pendidikan dan kesehatan, sementara daerah lainnya berhadapan dengan persoalan lapangan kerja, konektivitas antarpulau, ketahanan pangan, serta ketimpangan pembangunan.

Strategi pemenangan yang efektif tidak cukup dengan satu pola pendekatan untuk seluruh wilayah. Golkar membutuhkan strategi yang memiliki arah bersama, tetapi tetap memberi ruang bagi pembacaan lokal yang tajam. Konsolidasi harus menyatukan tujuan tanpa menghilangkan kepekaan terhadap karakter masyarakat yang menjadi basis perjuangan politik.

Penegasan Melkiades Laka Lena bahwa kemenangan tidak dapat hanya mengandalkan struktur organisasi atau popularitas merupakan pernyataan yang patut dibaca secara serius. Struktur adalah fondasi, popularitas dapat menjadi modal, tetapi keduanya bukan jaminan bahwa rakyat akan memberikan kepercayaan. Organisasi yang besar bisa kehilangan daya apabila kadernya tidak bekerja, sementara popularitas dapat menghilang ketika masyarakat tidak menemukan bukti nyata dari janji-janji politik.

Pemilu merupakan mekanisme untuk menguji hubungan antara representasi dan pertanggungjawaban. Masyarakat memberikan mandat kepada partai dan wakil rakyat bukan semata-mata karena kesamaan simbol atau kedekatan emosional, melainkan juga karena harapan bahwa mandat tersebut akan digunakan untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Politik harus dipahami sebagai pekerjaan yang memiliki konsekuensi moral dan sosial, bukan hanya sebagai kompetisi untuk memperoleh jabatan.

Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Max Weber dalam bukunya Politics as a Vocation atau Politik sebagai Panggilan. Weber mengingatkan bahwa politik menuntut tanggung jawab atas konsekuensi tindakan. Dalam praktik kepartaian, gagasan tersebut relevan untuk menegaskan bahwa keberhasilan politik tidak semestinya diukur dengan perolehan kursi, tapi juga melalui kemampuan menggunakan kekuasaan untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

Perolehan kursi tetap penting. Tanpa dukungan elektoral yang memadai, partai akan kesulitan memperjuangkan agenda kebijakan melalui lembaga perwakilan. Akan tetapi, kursi seharusnya menjadi instrumen untuk memperluas pengabdian, bukan tujuan akhir yang menghalalkan segala cara. Ukuran keberhasilan elektoral yang sehat adalah saat kemenangan politik berbanding lurus dengan peningkatan kualitas representasi dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Perhatian terhadap kapasitas anggota fraksi menjadi sangat penting. Anggota legislatif bukan sekedar penyambung suara partai atau pelaksana keputusan politik. Mereka adalah bagian dari lembaga negara yang memiliki tanggung jawab dalam pembentukan peraturan, penganggaran, dan pengawasan. Ketiga fungsi tersebut menuntut kemampuan memahami persoalan publik, membaca dokumen anggaran, mengevaluasi kebijakan, menyerap aspirasi, serta menyusun rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bimbingan teknis tidak boleh diperlakukan sebagai agenda administratif yang selesai ketika peserta menerima materi dan kegiatan ditutup. Pendidikan politik bagi anggota fraksi harus menghasilkan perubahan dalam cara mereka bekerja. Mereka perlu memiliki kemampuan mengidentifikasi masalah di daerah pemilihan, menghubungkan aspirasi masyarakat dengan perencanaan pembangunan, mengawasi pelaksanaan program pemerintah, dan memastikan kebijakan publik tidak hanya menguntungkan kelompok yang memiliki akses terhadap kekuasaan.

Robert D. Putnam, melalui Making Democracy Work: Civic Traditions in Modern Italy, membahas pentingnya kepercayaan, jejaring sosial, dan norma kerja sama bagi kualitas kelembagaan. Jika gagasan tersebut ditarik ke dalam kehidupan partai politik, soliditas organisasi tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan struktural. Soliditas yang sehat membutuhkan kepercayaan antarkader, mekanisme kerja yang dapat diandalkan, dan orientasi bersama terhadap tujuan yang melampaui kepentingan pribadi.

Itu artinya, organisasi yang solid bukan organisasi yang tidak memiliki perbedaan pendapat. Organisasi yang matang justru mampu mengelola perbedaan secara produktif, mengambil keputusan melalui mekanisme yang jelas, dan memastikan seluruh kader bekerja berdasarkan tujuan bersama. Konsolidasi yang hanya mengutamakan keseragaman sikap tanpa memperkuat kapasitas berpikir dan kualitas kerja berisiko menghasilkan organisasi yang tampak kompak, tapi lemah ketika menghadapi persoalan nyata.

Bagi Golkar, tantangan berikutnya adalah memastikan agar hubungan antara struktur partai dan anggota fraksi tidak berhenti pada koordinasi menjelang pemilu. Keduanya harus membangun hubungan kerja yang berkelanjutan. Struktur partai perlu menyediakan informasi mengenai persoalan masyarakat, sedangkan anggota fraksi harus mengolah informasi tersebut menjadi agenda legislasi, penganggaran, dan pengawasan yang terukur. Hasil kerja anggota fraksi kemudian perlu dikomunikasikan kembali kepada masyarakat secara terbuka.

Dengan pola demikian, aspirasi rakyat tidak berhenti sebagai catatan dalam kegiatan reses atau bahan pidato dalam pertemuan politik. Aspirasi harus bergerak menjadi proses kebijakan yang memiliki sasaran, jadwal, dan ukuran keberhasilan. Masyarakat pun berhak mengetahui apa yang telah diperjuangkan, apa yang berhasil dicapai, dan apa yang masih terkendala.

Relevansi pemikiran Jürgen Habermas dalam Between Facts and Norms dapat menjadi bahan refleksi. Demokrasi membutuhkan hubungan yang sehat antara ruang publik, aspirasi warga, dan proses pengambilan keputusan. Dalam konteks partai politik, komunikasi dengan masyarakat tidak seharusnya bersifat satu arah. Kader tidak cukup hanya menyampaikan keberhasilan atau menjelaskan program; mereka juga harus mendengarkan kritik, menguji kebijakan, dan memberi ruang bagi warga untuk terlibat dalam pembicaraan mengenai kepentingan bersama.

Politik yang dekat dengan masyarakat adalah politik yang bersedia mendengar bahkan ketika suara rakyat tidak menyenangkan bagi penguasa atau pimpinan partai. Kedekatan tidak cukup dibangun melalui kunjungan seremonial, pembagian bantuan sesaat, atau kehadiran dalam acara masyarakat. Kedekatan yang sesungguhnya terlihat ketika persoalan warga diperjuangkan secara konsisten, termasuk setelah perhatian media beralih dan tahapan pemilu telah berlalu.

Bagi Indonesia Timur, pendekatan tersebut memiliki arti strategis. Kawasan ini menyimpan potensi ekonomi, sumber daya manusia, kekayaan maritim, pertanian, perkebunan, pariwisata, dan berbagai sektor produktif lainnya. Namun, potensi tersebut tidak otomatis menjadi kesejahteraan. Tanpa konektivitas yang memadai, investasi yang berkualitas, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta kebijakan yang memberi ruang bagi ekonomi lokal, potensi besar dapat berjalan berdampingan dengan ketimpangan yang berkepanjangan.

Agenda pemenangan Golkar di wilayah timur semestinya dihubungkan dengan agenda pembangunan yang konkret. Lapangan kerja perlu menjadi perhatian serius, bukan sekadar frasa yang diulas MELKIADES LAKA LENA DAN JALAN PANJANG GOLKAR MENUJU 2029

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait