Jembatan Teluk Kendari (Foto: Lukas - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Kendari, Sultrademo.co – Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sultra, Ir. La Ode Moh. Saidin, MT menyebutkan bahwaJembatan Teluk Kendari yang baru saja diresmikan Presiden Jokowi kemarin (22/10), digagas oleh mantan Gubernur Sultra H. Nur Alam sebagai bagian dari program Bahteramas di awal pemerintahan Nur Alam.

“Karena program jembatan ini adalah program Gubernur Sultra H. Nur Alam, pada saat itu beliau punya program Bahteramas, itu sudah program tahun pemerintahan Nur Alam seperti Rumah Sakit Bahteramas, Masjid Al Alam, Jembatan Bahtermas Teluk Kendari itu satu paket jadi namanya sudah begitu,” ungkapnya.

Ia memaparkan, Jembatan Teluk Kendari ini, dianggarkan lewat APBN bukan APBD dan satu-satunya jembatan di Indonesia yang didesain oleh Dinas PU bukan didesain oleh Kementerian PU.

“Jadi perjuangan kita itu agar disahkan atau diterima oleh Kementrian PU itu cukup berat, ini adalah gagasan Nur Alam untuk memperjuangkan Jembatan Bahtermas,” tegasnya.

“Jembatan ini, sudah didesain sudah saya jadi Kadis PU kemudian konsultan perencanaan itu adalah Yodia Karya dan dalam kontrak jembatan itu dua tahun anggaran,” terang La Ode Moh. Saidin.

Kemudian, kata Saidin Presiden Jokowi sudah dua kali melihat proses Jembatan Bahteramas ini sebelum di bangun yaitu di Bandara Halu Oleo.

“Jadi pada saat itu Gubernur ketemu presiden di Istana Bogor menulis permohonan dan dalam permohonan itu jembatan ini bernama Jembatan Bahteramas Teluk Kendari, pada saat itu presiden sangat antusias langsung memerintahkan Menteri PU supaya Jembatan Bahteramas diproses, karena jembatan ini sudah saya pernah lihat maka diproseslah jembatan ini,” jelasnya.

Desain jembatan Bahtermas, kata Saidin diuji oleh tim ahli jalan dan terowongan di Indonesia yaitu para pakar jembatan ada dari ITB, Gajah Mada dan Universitas Indonesia ( UI ) .

“Ada beberapa kali rapat dilakukan dengan tim ini dan pada setiap rapat Nur Alam pada waktu itu, Ketua Bapeda dan saya sendiri selalu hadir dan setiap rapat itu lebih kurang empat jam agar supaya jembatan ini layak teknis, karena Kementerian PU ini pertamanya menganggap jembatan ini tidak layak tehnis. Setelah itu barulah proses jembatan ini diproses dimasukan ke dalam anggaran untuk tahun 2016 dan didalam kontrak itu rencananya dua tahun anggaran pertama sekitar 850 miliar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pimpin Apel Konsolidasi Siaga Bencana, Ini Instruksi Gubernur Sultra

Selanjutnya, permohonan mantan Gubernur Sultra, Nur Alam kepada Presiden nama Jembatan Bahteramas. Kemudian membangun jembatan yang besar ini harus diketahui oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI ) Angkatan Laut.

“Karena ada sisa-sisa ranjau di dalam teluk maka TNI Angkatan Laut lah yang membersihkannya, saat itu mendatangkan kapal penyapu ranjau untuk mengamankan tiang pancang jembatan Teluk Kendari,” tuturnya.

Menurutnya, dengan adanya Jembatan Bahteramas akan mempersingkat waktu tempuh di antara kawasan Kota Lama dengan Kecamatan Abeli dan Poasia. Diperkirakan kemacetan pun akan berkurang hingga 25 tahun mendatang.

“Seandainya jembatan tidak dibangun saat ini mungkin sekarang atau lima tahun akan datang terjadi kemacetan. Prinsipnya kembatan ini mengurangi kemacetan juga memperpendek jarak tempuh. Pemangunannya layak teknis dan layak ekonomis,” terangnya.

La Ode Moh. Saidin menegaskan bahwa Jembatan Bahteramas salah satu maha karya Nur Alam sewaktu menjabat Gubernur Sultra. Perjuangan dan lobi – lobi Nur Alam dipusat masih hangat diingatan. Sehingga tidak ada lagi alasan bagi pihak lain untuk mengklaim sebagai hasil karyanya.

Ia berharap, semua masyarakat Sultra untuk merawat Jembatan Bahtermas ini karena jembatan bersama artinya ini hanya kenangan perjuang Nur Alam.

“Alangkahh baiknya itu namanya itu tetaplah Jembatan Bahteramas, karena Jembatan Bahteramas yang direspon Presiden dan Menteri PU,” pungkasnya.

Komentar