Lestarikan Tradisi Syara, Lembaga Adat Kesultanan Buton Gelar Ritual Pakandeayana Anana Maelu

Ketgam : Perangkat Adat Kesultanan Buton duduk dalam prosesi ritual adat Pakandeayana Anana Maelu di Kamali Sultan Buton, mengenakan busana adat khas Buton sebagai simbol pelestarian tradisi Syara.

Baubau, Sultrademo.co — Lembaga Adat Kesultanan Buton versi islah menegaskan komitmennya untuk terus melestarikan adat dan tradisi Syara sebagai kekayaan khasanah budaya Buton.

Lembaga adat mitra Pemerintah Kota Baubau ini kembali menggelar ritual adat bertajuk Pakandeayana Anana Maelu, sebuah tradisi yang berakar dari ajaran Islam dan pernah rutin dilaksanakan di Kamali Sultan Buton pada masa lalu.

Bacaan Lainnya
 

Perangkat Adat Lembaga Adat Kesultanan Buton, Bontoogena Matana Eyo Maa Faizi Drs. H. Masri, M.Pd., dan Bontoogena Sukana Eyo Maa Maruwa Drs. H. Abdul Wahid, M.Si., menjelaskan bahwa ritual Pakandeayana Anana Maelu adalah bagian dari rangkaian Syara Ogena, dimulai sejak 1 Muharam hingga puncaknya pada 10 Muharam. Tradisi ini sarat makna keagamaan sekaligus menjadi sarana poago atau doa bersama demi keselamatan anak-anak yatim dan kesejahteraan negeri.

“Seluruh prosesi mengacu pada adat Syara Ogena masa lalu. Bahkan dari cara mengundang tamu, atau Pokembana Syara, semua dilakukan sesuai tata cara adat. Empat orang Bonto Yi Nunca diutus khusus untuk menyampaikan undangan kepada Pemerintah Kota sebagai mitra dalam pelestarian budaya, maupun pihak-pihak lain yang terlibat,” ujar Bontoogena Matana Eyo, Sabtu (5/6/2025).

Baik Bontoogena Matana Eyo maupun Bontoogena Sukana Eyo menekankan bahwa Pakandeayana Anana Maelu tidak hanya sebatas seremoni, tetapi juga harus menjadi sarana edukasi budaya bagi masyarakat adat, terutama generasi muda, agar nilai-nilai tradisi Syara terus lestari.

Hal senada disampaikan perangkat adat lainnya, Bontona Melai Maa Suhufa MT Muharam Rauf. Menurutnya, ritual ini sudah dilaksanakan sejak masa Kesultanan Buton sebagai wujud peringatan Hari Asyura pada 10 Muharam, yang di masyarakat Buton diperingati dengan membahagiakan anak-anak yatim. Dalam literasi adat, tradisi ini diyakini sebagai pengejawantahan Surat Al-Ma’un yang mengajarkan kepedulian terhadap anak yatim dan kaum duafa.

“Selain doa keselamatan, ritual ini menjadi sarana Syara Wolio untuk menjaga keharmonisan negeri. Kami berharap Pakandeayana Anana Maelu terus dilaksanakan secara proporsional di Kamali Laki Wolio atau Keraton Kesultanan Buton,” jelasnya.

Lebih jauh, ritual ini juga selaras dengan spirit visi misi Pemerintah Kota Baubau sebagai kota berbudaya. Terlebih, Baubau pernah menjadi pusat Kesultanan Buton yang berperan penting dalam sejarah perkembangan adat dan Islam di kawasan Kepulauan Buton.

Dalam pelaksanaannya, ritual Pakandeayana Anana Maelu kali ini turut rencananya akan dihadiri sejumlah perwakilan lembaga adat dari kerajaan Tiworo, Kulisusu, Muna, Kaedupa, serta utusan Kemokolean, sebagai bentuk sinergi lintas kerajaan dalam upaya merawat nilai-nilai budaya leluhur.

Laporan : Uci Lestari
Editor : UL

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait