Kendari, Sultrademo.co – Di balik tugasnya sebagai perwira polisi, AKP Abdul Rakhman tetap memegang teguh akar kehidupannya sebagai petani. Sejak kecil, tanah dan sawah telah menjadi bagian dari hidupnya.
Kini, meski menjabat sebagai PS Kasubag Yanma Polda Sulawesi Tenggara, ia masih meluangkan waktu untuk menggarap lahan pertanian.
Lahir di Labakkang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada 3 Mei 1977, Abdul Rakhman tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, seorang wiraswasta di bidang pertanian dan perbengkelan, menanamkan nilai kerja keras sejak dini. Sejak usia lima tahun, ia sudah terbiasa turun ke sawah membantu keluarga.
Selepas lulus dari Sekolah Bintara Polri pada 1997, Abdul Rakhman meniti karier di kepolisian. Namun, kecintaannya terhadap pertanian tak pernah luntur. Tahun 2001, demi menambah penghasilan, ia sempat menjadi tukang ojek dan menggunakan uang hasil mengojek untuk membeli bahan baku gorengan yang diolah istrinya.
Seiring waktu, usahanya berkembang. Ia mulai bertani jahe dalam karung dan membeli lahan tambak di Konawe Selatan. Pada 2022, ia memperluas usahanya dengan mengolah lahan tidur seluas empat hektar di Kecamatan Unaaha menjadi sawah produktif.
Setiap hari, selepas dinas pukul 15.00 Wita, ia langsung menuju sawah. Kadang ia menyemprot gulma, membajak tanah, atau memastikan tanaman dalam kondisi baik hingga larut malam. Akhir pekan ia manfaatkan untuk bekerja lebih lama, dibantu anaknya yang kini kuliah di Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo.
Tantangan tentu ada. Cuaca ekstrem dan panggilan tugas mendadak kerap menguji komitmennya. Namun, Abdul Rakhman tetap bersemangat. Baginya, bertani bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan bagian dari misinya untuk menginspirasi petani lain agar bangga dengan profesinya.
“Jangan biarkan lahan tidur terbengkalai. Kita bisa menanam padi, jagung, atau sayuran. Sekarang teknologi pertanian sudah maju, dan kita harus bangga menjadi petani,” ujarnya.
Dengan semangat pantang menyerah, Abdul Rakhman membuktikan bahwa bertani dan mengabdi kepada negara dapat berjalan beriringan. Ia menjadi contoh nyata bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama dan pertanian adalah masa depan yang harus dijaga.
Laporan: Arini Triana Suci R
Editor: Muhammad Sulhijah
 






