Kendari, Sultrademo.co – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari menggelar Dialog Kebangsaan dan Konferensi Cabang (Konfercab) V pada Jumat, 7 November 2025, di Aula Hotel Srikandi, Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultrademo).
Kegiatan bertema “Akselerasi Transformasi Leadership GMNI Kendari, Marhaenis Memenangkan Zaman” ini menjadi ruang konsolidasi dan pembaruan kepemimpinan organisasi mahasiswa berlambang banteng moncong putih tersebut.
Ketua DPC GMNI Kendari, Rasmin Jaya, mengatakan konfercab kali ini bukan sekadar pergantian ketua, tetapi momentum memperkuat arah gerakan dan meneguhkan nilai-nilai Marhaenisme di tengah tantangan zaman.
“Konfercab bukan hanya memilih ketua baru, tapi juga memperbarui semangat dan memperjelas arah gerak organisasi. Ini ruang untuk berpikir ulang sejauh mana kita telah menghidupi nilai-nilai Marhaenisme,” ujar Rasmin.
Menurutnya, GMNI harus mampu bertransformasi tanpa kehilangan akar ideologisnya. Ia berharap melalui forum ini lahir pemimpin yang berintegritas, inovatif, dan konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat kecil.
“Kita butuh pemimpin yang tidak hanya melanjutkan estafet perjuangan, tapi juga menghadirkan terobosan baru. GMNI harus jadi pelopor perubahan sosial, bukan sekadar simbol masa lalu,” tegasnya.
Rasmin menambahkan, kegiatan ini juga menjadi ajang refleksi bagi GMNI Kendari yang kini memasuki usia 10 tahun. Ia menyebut usia tersebut sebagai fase kedewasaan organisasi, hasil dari perjuangan panjang para pendahulu.
“Perjalanan ini tidak mudah. Kami berterima kasih kepada para senior dan alumni yang telah mewakafkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk organisasi ini. Kami hanya melanjutkan perjuangan mereka,” katanya.
Selain refleksi internal, Rasmin juga menyoroti isu ketimpangan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) di Sulawesi Tenggara. Menurutnya, kekayaan alam yang melimpah seharusnya menjadi milik rakyat, bukan segelintir pihak.
“Tanah, air, dan seluruh kekayaan alam sejatinya milik rakyat. Tapi realitasnya, justru dikuasai segelintir orang. Masyarakat lokal hanya menjadi penonton yang menerima sisa-sisa hasil tambang dan pembangunan,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Rasmin juga menyinggung hasil Kongres GMNI Bandung yang merekomendasikan GMNI Kendari sebagai salah satu kandidat tuan rumah Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) pada 2027.
Ia optimistis dengan konsolidasi kader, dukungan pemerintah, dan potensi SDA-SDM di Sulawesi Tenggara, GMNI Kendari siap menyambut hajatan nasional tersebut.
“Amanat Kongres Bandung menegaskan, GMNI Kendari siap menjadi tuan rumah Rapimnas 2027. Konsolidasi anggota dan dukungan stakeholder menjadi kunci kesiapan kita,” katanya.
Ketua Umum DPP GMNI, M. Risyad Fahleli, yang membuka kegiatan secara resmi, menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai garda depan pengawal kebijakan publik.
Ia menilai GMNI memiliki tanggung jawab besar menjaga semangat ideologis di tengah dinamika politik nasional yang kian kompleks.
“Kehadiran GMNI dibutuhkan untuk memastikan kebijakan publik tetap berpihak pada rakyat. Mahasiswa tidak boleh kehilangan peran kritisnya,” kata Risyad.
Risyad juga mengingatkan kader agar terus membina diri, ilmu, dan bangsa sejalan dengan prinsip Satyatama yang menjadi roh perjuangan GMNI.
“Kader GMNI harus Satyatama. Bina diri, bina ilmu, dan bina bangsa. Dengan itu GMNI bisa terus naik kelas dan berkontribusi lebih besar,” tegasnya.
Sebelum konfercab dimulai, panitia menggelar Dialog Kebangsaan yang menghadirkan sejumlah narasumber lintas sektor.
Hadir di antaranya Ketua DPP GMNI M. Risyad Fahleli, anggota DPD RI Umar Bonte, Ketua DPD Partai Demokrat Sultra Muh Endang SA, serta akademisi FISIP UHO sekaligus pengamat politik Muh Najib Husain.
Diskusi tersebut membedah arah pembangunan Sulawesi Tenggara dari perspektif politik, ekonomi, dan sosial. Para narasumber berharap forum ini bisa membuka jalan baru bagi sinergi ide dan tindakan antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat.
Laporan: Muhammad Sulhijah









