Kendari, Sultrademo.co — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Sulawesi Tenggara mencapai 4,17 persen pada September 2026. Inflasi tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berada di level 114,62.
Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kolaka sebesar 4,42 persen dengan IHK 116,55. Sementara inflasi terendah tercatat di Kota Baubau sebesar 3,23 persen dengan IHK 115,04.
Kepala BPS Sulawesi Tenggara Hadi Susanto mengatakan inflasi tahunan terjadi karena kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran.
Kenaikan harga terbesar terjadi pada kelompok transportasi yang mencapai 6,85 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,82 persen serta kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,52 persen.
“Kenaikan juga terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran,” kata Hadi dalam keterangan BPS.
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami kenaikan 3,78 persen. Kemudian kelompok pendidikan naik 3,55 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,03 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,64 persen.
Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik 2,10 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya 1,54 persen; kesehatan 0,87 persen; serta pakaian dan alas kaki 0,58 persen.
Secara bulanan, Sulawesi Tenggara mengalami inflasi sebesar 0,53 persen. Adapun secara kumulatif sepanjang tahun atau year to date (y-to-d), inflasi mencapai 4,57 persen.
NTP Sultra Naik
Di tengah tekanan harga konsumen, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Tenggara justru meningkat pada September 2026.
NTP naik 2,16 persen, dari 113,12 pada Agustus menjadi 115,56 pada September 2026.
Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) tumbuh 2,72 persen, lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang hanya meningkat 0,55 persen.
BPS juga mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Sulawesi Tenggara naik 0,52 persen pada September 2026. Salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan tersebut adalah peningkatan indeks kelompok kesehatan.
Hunian Hotel Menurun
Sementara itu, aktivitas pariwisata yang tercermin dari tingkat hunian hotel bintang mengalami pelemahan.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Sulawesi Tenggara pada Agustus 2026 tercatat 35,16 persen. Angka itu turun 1,59 poin persentase dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 36,75 persen.
Namun, Tingkat Pemakaian Tempat Tidur (TPTT) justru naik tipis 0,29 poin persentase, dari 38,14 persen pada Juli menjadi 38,43 persen pada Agustus.
Rata-rata lama menginap tamu juga turun dari 1,40 malam menjadi 1,38 malam.
Mayoritas tamu hotel bintang masih berasal dari dalam negeri. Pada Agustus 2026, sebanyak 98,24 persen merupakan tamu domestik, sedangkan tamu asing hanya 1,76 persen.
Penumpang Udara dan Laut Turun
Penurunan aktivitas juga terlihat pada sektor transportasi. Jumlah penumpang angkutan udara domestik yang berangkat dari Sulawesi Tenggara pada Agustus 2026 tercatat 56.062 orang, turun 1,83 persen dibandingkan Juli yang mencapai 57.109 orang.
Jumlah penumpang yang datang melalui angkutan udara juga turun 9,50 persen, dari 59.311 orang pada Juli menjadi 53.676 orang pada Agustus.
Penurunan lebih besar terjadi pada angkutan laut. Jumlah penumpang domestik yang berangkat tercatat 116.374 orang, turun 12,03 persen dari 132.282 orang pada Juli.
Penumpang yang tiba melalui angkutan laut juga turun 11,72 persen, dari 131.903 orang menjadi 116.441 orang.
Ekspor dan Impor Meningkat
Di sisi perdagangan luar negeri, nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada Agustus 2026 mencapai US$278,46 juta.
Volume ekspor tercatat 206,98 ribu ton, naik 0,36 persen dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 206,23 ribu ton.Komoditas besi dan baja masih menjadi penopang utama ekspor Sulawesi Tenggara. Nilai ekspor komoditas tersebut tercatat mencapai US$272,08 juta pada Agustus 2026.
Sementara itu, nilai impor Sulawesi Tenggara pada Agustus 2026 mencapai US$64,68 juta atau melonjak 926,37 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Dalam periode Januari-Agustus 2026, negara pemasok barang impor utama antara lain Tiongkok dan Malaysia.Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Sulawesi Tenggara pada Agustus 2026 masih mencatat surplus sebesar US$24 juta.
 






