Litanto dan UB Saling Berbalas “Pantun”

  • Whatsapp

Kendari, Sultrademo.co – Suasana memanas di tubuh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mulai nampak.

Kali ini antara Litanto, Anggota Desk Pilkada DPD PDIP Sultra dengan Umar Bonte salah satu kader PDIP yang saling berbalas pantun

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, Litanto melalui media massa menyampaikan beberapa ketersinggungannya terhadap stateman salah satu bakal calon bupati yang akan bertarung di Pilkada Muna, Rajiun.

Litanto merasa, panitia penjaringan di PDIP dipermalukan oleh Rajiun yang menyebut berhasil membungkam tim penjaringan PDIP saat wawancara.

Litanto yang tidak terima berusaha menampik, dan sontak membeberkan beberapa kekurangan Rajiun, termaksud soal komitmen dan janji Rajiun terhadap partai yang seringkali diingkari.

Menanggapi itu, Umar Bonte sontak menyampaikan permintaan maaf kader PDIP atas perlakuan tim penjaringan yang ia nilai kurang profesional. Yakni menyudutkan Rajiun yang notabenenya adalah calon, dan yang menyudutkan adalah panitia sendiri. UB menilai hal itu kurang feer dan tidak profesional.

Bagi UB, Seperti apapun aeadaann Rajiun , panitia tidak harus menyerangnya. Panitia mestinya membiarkan mekanisme berjalan. Dan tetap profesional, serta tidak menunjukan sinyal keberpihakan. “Jika tidak setuju dengan Rajiun kan tidak ada masalah,  asal marwah dan profesionalitas partai dijaga,” ujarnya.

Apalagi, lanjut UB, Rusman Emba yang diketahui adalah calon kepala daerah turut menjadi panitia seleksi di PDIP.

Hal itu, sambung UB akan berimbas pada ketidakadilan dalam pelaksanaan penjaringan. Panitia dinilai berat seblah dan cenderung menunjukan keberpihakannya dan mengesampingkan mekanisme dan syarat.

” Rusman Emba pun belum tentu dapat pintu partai, DPD hanya menjalankan mekanisme, selebihnya DPP, ibu Negawati yang akan diikuti. Sehingga panitia jangan menunjukan sikap tidak adil dengan menyerang atau menyudutkan calon lain, biarkan semua berjalan dengan normal. Sebab itu itulah saya mewakili kader PDIP meminta maaf, dengan kata lain, tim penjaringan fokus jalankan mekanisme nanti DPP putuskan,” kata UB.

Terkait pernyataan ulang Litanto yang menyebut PDIP tidak pernah meminta maaf, dan tidak pernah merasa terwakili oleh UB untuk minta maaf kepada Rajiun.

UB nampaknya sangat santai menjawab.
“Saya ini kader Nasional PDIP. Saya ini bukan hanya numpang nama di PDIP, tapi saya adalah kader nasional, dan kader utama yang disekolahkan, saya sekolah partai loh, sehingga jangan menyebut saya ini kader asal-asalan, yang cenderung menfaatkan partai untuk bergaya, berdasarkan aturan partai” kader itu adalah mata, mulut dan telinga bagi partai untuk mengambil keputusan,” jelasnya.

Jadi Wajar, tegas UB, ketika dia menyampaikan permohonan maaf kader, sebab bagi dia, tugas kader adalah memberi peringatan dan masukan kepada siapapun pengurus partai yang dinilai kurang profesional menjalankan mekanisme partai, apalagi jika itu merugikan partai.

“Ini bukan soal dukung mendukung Rajiun atau dukung Rusman, ini soal partai yang harus bisa kita pastikan berada dalam posisi feer menjalankan mekanisne, toh Rusman belum tentu di rekom, rajiun juga demikian, yang pasti siapapun yang diberi rekom dia lahir dari hasil mekanisme yang profesional,” tutupnya.

Laporan : Adin

  • Whatsapp

Pos terkait