Kendari, Sultrademo.co – Kelangkaan dan lonjakan harga gas elpiji 3 kilogram bersubsidi kembali dikeluhkan warga di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Pemantauan di lapangan menunjukkan harga gas melon di sejumlah kios pengecer di kawasan Bundaran Gubernur hingga sepanjang Jalan M.T. Haryono hingga Andounohu melonjak hingga mencapai Rp65.000 per tabung, jauh di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan sebesar Rp22.000.
Berdasarkan pantauan media, keberadaan gas elpiji bersubsidi di jalur utama tersebut sangat sulit ditemukan. Dari sejumlah titik yang diperiksa, hanya tercatat sekitar lima kios yang masih menyediakan stok, namun dengan harga yang bervariatif mulai dari Rp50.000 hingga Rp65.000 per tabung.
Salah satu harga tertinggi tercatat di Kios Anugrah Saleh di kawasan Bundaran Gubernur, yang hanya memajang empat tabung dengan harga Rp65.000 per tabung. Di lokasi lain, kios hanya memiliki stok satu hingga dua tabung dengan kisaran harga Rp50.000 hingga Rp60.000.
Para pedagang mengaku terpaksa menjual dengan harga tinggi karena barang yang mereka peroleh dari penyalur sudah dibanderol dengan harga mahal.
“Saya beli dari pengecer sudah Rp50.000, saya jual Rp60.000,” ungkap salah satu pedagang, Jumat, (29/05/2025).
Kelangkaan ini juga terlihat di sejumlah pangkalan resmi. Pangkalan Pesantren Hidayatullah dan Pangkalan Nasrudin tercatat kehabisan stok. Menurut Nasrudin, pengelola pangkalan, pasokan yang masuk sangat minim dibandingkan tingginya permintaan masyarakat.
“Memang agak susah masuk gas. Permintaan banyak tapi jumlah gas yang masuk kurang,” ujarnya.
Meski pasokan sulit, Nasrudin menegaskan tetap menjual sesuai harga ketetapan pemerintah, yaitu Rp22.000 per tabung. Ia menduga lonjakan harga di tingkat pengecer disebabkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Tidak ada saya jual lebih, kalau di luar mahal tidak tahu. Kemungkinan ada pangkalan nakal menjual mahal. Atau bisa jadi ada orang yang mencari keuntungan dengan membeli dari tangan ketiga,” tegasnya.
Hal senada diakui oleh Albar, salah satu sopir pengantar gas subsidi. Ia menjelaskan bahwa pembagian jatah gas sangat terbatas.
“Saya hanya mengantar, setiap pangkalan paling dikasih 50 tabung. Ini satu mobil untuk lima pangkalan,” ungkap Albar, mengindikasikan alokasi pasokan yang tidak sebanding dengan kebutuhan warga.
Kondisi ini sangat meresahkan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro. Lely, salah satu pelaku UMKM kuliner, mengaku kesulitan dan pusing harus berkeliling mencari gas, apalagi harganya melambung hingga dua hingga tiga kali lipat dari harga resmi. Padahal, usahanya membutuhkan setidaknya satu tabung setiap minggu.
“Sebenarnya ke mana itu gas elpiji? Setengah mati kita mencarinya. Begitu dapat, harganya mahal sekali. Susah dicari, harganya juga mahal,” keluh Lely.
Ia berharap pemerintah dapat turun tangan mengawasi penyaluran agar gas subsidi benar-benar sampai ke masyarakat dengan harga wajar, serta menindak tegas oknum yang memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan pribadi.

















