Anak ustadz jadi ustadz itu biasa. Seperti anak dokter jadi dokter, anak insinyur jadi insinyur, dan anak politisi jadi politisi, itu sudah jamak di mana-mana. Karena itu, dulu, jika ada anak tukang becak jadi sarjana, jadi berita. Sekarang, jika ada anak petani gurem, jadi wisudawan terbaik, masih bisa viral. Tapi anak ustadz atau kiai yang menjadi kiai masih dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Bahkan kadang muncul pandangan bahwa kepintarannya dalam pengetahuan agama karena mendapatkan ilmu ladunni, alias ilmu pengetahuan yang didapatkan secara khusus tanpa belajar, karena langsung dari sisi Allah Swt.. Sering juga muncul cerita-cerita yang berbumbu mistis pertemuan misterius dengan Nabi Khadlir. Padahal, bahkan menurut sebagian tafsir, Nabi Khadlir sudah meninggal.
Lalu bagaimana cara memandang fenomena ini secara faktual, objektif, dan rasional? Berikut ini wawancara dengan Pendiri dan Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang, atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, M.Si. yang juga pengajar Ilmu Politik di FISIP UMJ dan Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan STEBANK (Sekolah Tinggi Ekonomi dan Perbankan) Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Jakarta.
Baladena: “Abah Nasih, kalangan santri pada umumnya, ada pemahaman tentang ilmu ladunni. Apakah pemahaman itu benar?”
Abana: “Pemahaman yang mana. Kan harus spesifik dulu. Kan harus jelas dulu. Kalau saya baca kitab Imam al-Ghazali berjudul “al-Risalah al-Ladunniyyah”, menurut saya masih bisa dinalar. Masih masuk akal saya.”
Baladena: “Katanya bertemu dengan Nabi Khadlir, lalu diajari secara personal, seperti Nabi Musa mendapatkan pengajaran dari Khadlir. Kalau begitu bagaimana? Kan istilah ladunni juga berasal dari kata yang digunakan untuk menceritakan kedua nabi itu.”
Abana: “Kalau ladunni menggunakan istilah yang dalam kisah kedua nabi itu itu, justru malah tidak tepat. Coba saja lihat. Kata ladunni itu ada di mana dan konteksnya bagaimana? Lihat QS. al-Kahfi: 65 dan 76. Kalau di ayat 65, istilah yang digunakan adalah ladunnâ. Ini adalah dari sisi kami, dan kami di sini maksudnya adalah Allah. Kalau di ayat 76, kata yang digunakan adalah ladunnî, tapi itu justru dari sisi Nabi Musa. Maka konsep ilmu ladunnî yang selama ini dibesar-besarkan di dunia pesantren kita ini mengandung persoalan epistemologis yang sangat serius. Ini hanya otak atik yang sebenarnya tidak gatuk, tetapi digatuk-gatukkan dan diterima oleh orang-orang yang malas berpikir. Sayangnya terus dibesar-besarkan oleh mereka yang ingin diposisikan pada posisi yang luar biasa.”
Baladena: “Jadi sebenarnya kenapa anak-anak ustadz atau kiai memiliki kemampuan di atas rata-rata?”
Abana: “Di bidang apa? Harus jelas ini.”
Baladena: “Ya di bidang keilmuan agama.”
Abana: “Nah, itu baru jelas. Ini yang harus diterangkan. Tentu saja, anak-anak ustadz memiliki kemampuan di atas rata-rata. Dan ini bukan satu faktor saja penyebabnya, tetapi multi faktor. Setidaknya ada tiga faktor yang bisa saya sebuktkan, yaitu: gizi, intensitas belajar, dan tantangan. Mengenai gizi, jangan bandingkan anak ustadz atau kiai dengan santri. pak ustadz atau kiai makan makanan yang bergizi. Kalau ada acara apa saja, Pak ustadz bahkan bisa mendapatkan tentengan ganda. Kalau jama’ah pada umumnya, hanya dapat satu berkat, pak ustadz bisa dapat dua atau bahkan lebih. Isinya bahkan bisa beda. Pokoknya yang terbaik kalau untuk tokoh agama ini. Kalau urusan asupan gizi ini sudah terpenuhi, jika tidak ada faktor X, maka cikal bakal SDM yang berkualitas lahir. Kedua, lalu soal intensitas belajar. Ini yang menurut saya paling sulit dibandingkan. Kalau mata pelajaran yang lain, para orang tua bisa mencari guru privat dengan mudah. Tapi kalau untuk pendalaman pemahaman keislaman, membutuhkan guru yang memiliki kedalaman keilmuan. Mau minta kepada pak ustadz atau kiai untuk memberikan privat? Nyaris tidak mungkin kan? Yang mendapatkan fasilitas privat itu yang anak-anak kiai sendiri. Saya sering melakukan kalkulasi dan rekalkulasi waktu untuk santri dan anak saya sendiri. Mahasantri saya di Monasmuda Institute Semarang ada 70 orang. Dan santri di Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO ada 200 orang. Seberapa intensif mereka bertemu dengan saya? Mari kita hitung. Saya membagi waktu saya menjadi tiga: untuk Monasmuda Institute, Planet NUFO, dan acara lain. Yang ketiga ini, terutama sejak covid-19, awalnya sebenarnya sejak empat tahun lalu sudah sangat saya batasi. Anggap saja masing-masing mendapatkan jatah 3 hari. Dan anggap saja saya mengajar shubuh dan habis maghrib, masing-masing 1,5 jam. Dan setiap mengajar, saya meminta santri untuk maju membaca teks, lalu saya menerangkan. Kalau setiap kajian, ada dua orang yang mendapatkan kesempatan, berapa orang yang akan mendapatkan kesempatan? Hanya 4 kali 3, sama dengan 12 orang. Berarti kira-kira dua bulan sekali mereka mendapatkan kesempatan. Kalau anak saya? Setiap hari mereka bertemu dengan saya. Di rumah, di mobil, dalam kesempatan lain, saya memastikan kemampuan anak-anak saya sesuai dengan disiplin ilmu saya. Anak-anak saya bisa bertanya apa saja kepada saya dan saya langsung menjawabnya. Lalu anak-anak ustadz atau kiai kan langsung mendapatkan kesempatan untuk aktualisasi diri dengan cara mengajar dan berceramah. Bisa di pesantren, bisa ceramah di masyarakat. Makin banyak ceramah, makin banyak persiapan. Persiapannya ya membaca. Makin banyak baca, makin banyak informasi dan pengetahuan baru. Makin banyak ceramah, makin percaya diri, dan seterusnya tahu sendiri kan?”
Baladena: “Lalu yang ketiga, Bah?”
Abana: “Yang ketiga tantangan. Anak-anak ustadz atau kiai, apalagi kalau memiliki lembaga pendidikan yang sudah stabil, mereka dituntut untuk menjadi kader penerus orang tuanya. Kalau mereka tidak memiliki kapasitas yang memadai, lembaga yang sudah dirintis, bisa mati. Di sinilah ustadz kiai harus mempersiapkan kader tangguh. Maka mereka harus mengondisikan dzurriyyah atau anak-anak mereka untuk menjadi SDM dengan kualitas itu. Anak-anak mereka kemudian diberi motivasi, bahkan ditunjukkan tantangan yang harus mereka hadapi dan selesaikan. Tantangan ini kan seringkali memicu dan memacu adrenalin. Inilah yang membuat para anak kiai kemudian lebih tertantang untuk maju. Kalau santri-santri biasa? Mereka sudah bisa ngaji sudah bagus, apalagi kalau orang tuanya buta huruf al-Qur’an. Bisa baca al-Qur’an saja itu sudah prestasi besar.”
Baladena: “Jadi, ternyata karena belajar keras ya, Bah?”
Abana: “Bukan hanya belajar keras, tetapi juga belajar cerdas. Sebab, para orang tua, dalam disiplin ilmu apa saja, bisa memberikan bekal mulai dari dasar. Mereka kan menguasai peta jalannya. Yang orang tuanya dokter, mampu memberikan peta jalan untuk menjadi dokter. Yang isinyur juga begitu. Yang pengusaha memberikan pengalaman dan bahkan juga modal. Yang ustadz juga sama kan?. Semua kan harus dimulai dari ilmu dasarnya, dan itu adalah ilmu alat. Tanpa itu ya tidak akan bisa. Yang sering saya jadikan analog kan orang mau menangkan ikan di laut, hanya bermodal tangan kosong. Tidak membawa jarring, jala, atau pukat harimau. Itu kan orang nekat namanya. Ya hanya akan kelelahan saja. Pulang dengan tangan hampa. Orang datang ke majelis ilmu, tetapi tidak memiliki ilmu dasarnya. Anda datang ke seminar kedokteran, sementara anda mahasiswa FISIP misalnya. Ya anda akan mlongo saja saat ada pembicara menjelaskan. Namun, setelah itu, pemahaman yang seolah anda dapatkan saat seminar, akan segera hilang tertiup angin. Bagaikan debu yang beterbangan. Sebab, tidak ada akar yang menghunjam di dalam tanah.”
Baladena: “Kalau begitu, bagaimana cara agar para santri ini naik kelas menjadi ustadz atau kiai?”
Baladena: “Jawabannya ya sederhan. Jika ingin pintar, belajar! Jika ingin kaya, usaha!. Mau lulus ujian, ziarah ke kuburan. Ya tetap tidak lulus. Ziarah ke kuburan itu dalam rangka mendokan orang saleh yang ada di dalamnya agar mendapatkan rahmat dan maghfirah Allah, juga mengingatkan kita bahwa kita akan mati. Karena itu, para santri-murid harus diberi pemahaman tentang peta jalan untuk menguasai ilmu, dan yang tak kalah penting juga jadi kaya, agar mereka menjadi orang-orang yang berbeda. Yang sering saya tekankan adalah kemandirian intelektual dan finansial. Kalau ilmu dipegang, maka kemandirian intelektual bisa diraih. Kalau harta kekayaan didapat, maka kemandirian finansial akan dirasakan. Dengan keduanya, kita bisa memulai berjuang. Dengan belajar cerdas ini, anak siapa pun, akan bisa menjadi ustadz-uztadz baru, kiai-kiai baru di masa depan. Peningkatan jumlah ini sangat diperlukan, karena masih banyak umat yang belum mendapatkan sentuhan pemahaman keagamaan.” (AH)
Artikel ini telah tayang di Baladena.id dengan judul yang sama






