Penyambutan Maba UHO 2025, Rasmin Jaya: Temukan GMNI di Kampusmu

Kendari, Sultrademo.co – Penyambutan mahasiswa baru Universitas Halu Oleo (UHO) yang dijadwalkan berlangsung di lapangan utama kampus pada 1 September 2025 menjadi momentum penting bagi ribuan mahasiswa baru.

Tradisi tahunan ini bukan sekadar seremoni, tetapi ruang pertemuan bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang daerah, suku, agama, dan etnis untuk disatukan dalam sumpah mahasiswa.

Bacaan Lainnya
 

Bagi Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari periode 2023–2025, Rasmin Jaya, momen ini menandai babak baru perjalanan intelektual generasi muda.

“Sejak dulu hingga kini, mahasiswa adalah kekuatan besar untuk mengubah perjalanan bangsa menjadi lebih baik,” ujarnya saat ditemui di Kendari, Selasa (25/8/2025).

Rasmin menegaskan, perubahan sosial dan politik yang lahir dari gerakan mahasiswa tidak pernah hadir secara tiba-tiba. Menurutnya, capaian tersebut merupakan buah dari proses panjang, perjuangan, serta konsistensi yang kuat.

“Perubahan bukan hadiah. Ia lahir dari tekad, komitmen, dan kerja kolektif yang berpihak kepada rakyat,” kata mantan pengurus BEM UHO periode 2020–2021 itu.

Ia mengingatkan bahwa tridarma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—menjadi pijakan utama mahasiswa untuk berperan nyata. Mahasiswa, katanya, tak boleh hanya berdiri di menara gading, tetapi harus menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat.

Bagi mahasiswa baru, lanjut Rasmin, tantangan ke depan tidak ringan. Mereka dituntut memiliki semangat, jejaring luas, mentalitas tangguh, serta konsistensi dalam menghadapi dinamika kampus maupun tantangan sosial di luar kampus.

“Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan,” ujarnya, mengutip tokoh pergerakan nasional, Sutan Sjahrir.

Selain itu, mahasiswa baru juga didorong untuk jeli melihat dinamika organisasi di lingkungan kampus. Mulai dari organisasi intra hingga ekstra kampus, seperti GMNI, HMI, PMII, IMM, LMND, hingga KAMMI.

Organisasi-organisasi tersebut, menurutnya, menjadi ruang kaderisasi kepemimpinan sekaligus wadah untuk menempa kemampuan intelektual dan integritas mahasiswa.

Dalam pandangan Rasmin, salah satu persoalan besar yang dihadapi mahasiswa saat ini adalah krisis legitimasi peran mahasiswa sebagai kontrol sosial. Karena itu, mahasiswa baru diminta untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual yang sejati.

“Bacalah, berdiskusilah, menulislah, dan lakukan aksi. Tradisi intelektual hidup karena ada perdebatan dan konfrontasi gagasan,” ujarnya. Ia menilai, birokrasi kampus sering kali cenderung mengekang tradisi kritis tersebut.

Rasmin juga menyoroti pentingnya kaderisasi yang berkesinambungan bagi organisasi mahasiswa. Tanpa proses yang matang, menurutnya, pergerakan mahasiswa akan kehilangan arah.

“Kaderisasi itu ibarat kawah candradimuka yang melahirkan pemimpin tangguh, berintegritas, dan memiliki idealisme tinggi. Hanya dengan itu, tongkat estafet kepemimpinan bisa dijalankan dengan baik,” katanya.

Di akhir pesannya, Rasmin menegaskan kembali kehadiran GMNI di kampus sebagai salah satu wadah mahasiswa untuk berproses dan berkontribusi. “Temukan kami di kampusmu,” ucapnya.

Laporan: Muhammad Sulhijah

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait