Kendari, Sultrademo.co – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Tenggara (Sultra) menanggapi polemik terkait maskot Seleksi Tilawatil Qur’an dan Musabaqah Al-Hadits (STQH) Nasional XXVIII Tahun 2025.
Ketua PW GP Ansor Sultra, Saninuh Kasim, menilai persoalan tersebut seharusnya tidak perlu diperpanjang, apalagi setelah Pemerintah Provinsi Sultra resmi menarik penggunaan maskot yang dipersoalkan.
“Kalau memang murni karena kepedulian, maka setelah Pemprov menarik maskot itu berarti masalah selesai. Tapi ini masih terus dibuat drama,” kata Saninuh, Jumat (10/10/2025).
Saninuh menegaskan, tidak ada unsur pelecehan atau penistaan dalam pembuatan maskot tersebut. Menurutnya, maskot adalah bentuk kreativitas dan simbol semangat penyelenggaraan, bukan objek tafsir bebas yang bisa dimaknai negatif.
“Kalau namanya maskot, tidak ada ceritanya kreativitas disebut pelecehan. Maknanya ada pada pembuatnya, tidak bisa diterjemahkan seenaknya,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk menghentikan perdebatan yang tidak produktif dan kembali fokus menyukseskan pelaksanaan STQH Nasional 2025 di Sulawesi Tenggara.
“Tidak ada penistaan di situ, jadi jangan berlebihan. Kalau memang peduli, ayo kita sukseskan acara ini dan sambut para tamu dengan baik,” ujarnya.
Saninuh menambahkan, kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat kepada Sulawesi Tenggara sebagai tuan rumah STQH Nasional harus dijaga bersama.
“Republik sudah memberikan kepercayaan, maka mari kita sukseskan bersama. Ini berbicara tentang wajah Sultra,” tutupnya.
Laporan: Muhammad Sulhijah









