Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan, M.Ag
(Ketua Komisi Hubungan antar Umat Beragama MUI Sulawesi Tenggara Masa Khidmat 2021-2026)
Setiap tahun kita mengucapkan kalimat yang sama: Ramadhan Karim. Namun sering kali, ungkapan itu berhenti sebagai slogan, bukan kesadaran. Ramadhan datang, kita berpuasa, tarawih, tadarus, berbagi takjil lalu berlalu begitu saja. Seakan Ramadhan hanyalah kalender ibadah, bukan peristiwa batin.
Padahal, Ramadhan bukan sekadar tentang menahan lapar. Ia adalah bulan pulang: pulang dari hiruk-pikuk dunia menuju keheningan jiwa, pulang dari ego menuju kesadaran, pulang dari kebiasaan menuju makna.
Puasa: Latihan Kehilangan
Puasa mengajarkan satu hal yang sangat jarang kita pelajari: kehilangan secara sadar. Kita sengaja tidak makan padahal mampu, tidak minum padahal tersedia, tidak melampiaskan keinginan padahal bisa. Ini bukan penyiksaan diri, tetapi pendidikan batin: agar manusia sadar bahwa ia tidak harus menuruti semua dorongan.
Dalam dunia yang memuja konsumsi, puasa adalah kritik paling sunyi tapi paling dalam. Ia berkata:
“Kamu bukan apa yang kamu miliki. Kamu adalah apa yang bisa kamu lepaskan.”
Ramadhan dan Krisis Makna
Manusia modern tidak kekurangan fasilitas, tetapi kekurangan arah. Kita tahu cara hidup, tetapi lupa untuk apa hidup. Kita sibuk mengejar target, deadline, likes, views namun jarang bertanya: apakah jiwa kita masih ikut hadir di dalamnya?
Ramadhan hadir sebagai ruang jeda eksistensial. Ia memaksa kita berhenti sejenak dari autopilot kehidupan. Siang hari sunyi dari makan, malam hari ramai dengan ibadah. Ritme ini bukan kebetulan; ia mengatur ulang kesadaran manusia dari luar ke dalam.
Ramadhan Karim: Kemuliaan untuk Siapa?
Kata karim berarti mulia, dermawan, penuh kebaikan. Tapi sering kita pahami seolah Ramadhan yang mulia. Padahal lebih tepat: Ramadhan memuliakan siapa saja yang mau berubah.
Ramadhan tidak otomatis membuat orang lebih baik. Ia hanya membuka pintu. Yang masuk atau tidak, itu pilihan manusia sendiri. Ada yang menjadikannya momentum taubat, ada yang menjadikannya sekadar rutinitas tahunan.
Ramadhan memberi kesempatan, bukan jaminan.
Dari Ritual ke Kesadaran
Masalah kita bukan kurang ibadah, tetapi sering kali ibadah tanpa kesadaran. Kita shalat, tetapi pikiran ke mana-mana. Kita puasa, tetapi emosi tetap liar. Kita tadarus, tetapi hati tetap keras.
Ramadhan sejatinya ingin menggeser kita:
¶ dari ritual ke refleksi,
¶ dari gerakan tubuh ke kehadiran jiwa,
¶ dari agama sebagai kebiasaan ke agama sebagai kesadaran.
Ramadhan sebagai Proyek Diri
Ramadhan bukan hanya proyek pahala, tetapi proyek pembentukan diri. Pertanyaannya bukan “berapa kali khatam?”, tetapi:
apakah lebih sabar?
apakah lebih jujur?
apakah lebih peka?
apakah lebih rendah hati?
Jika setelah Ramadhan kita tetap sama mudah marah, serakah, sinis, merasa paling benar maka mungkin yang berpuasa hanya perut, bukan jiwa.
Penutup: Ramadhan sebagai Jalan Pulang
Ramadhan Karim bukan tentang menjadi suci dalam sebulan, lalu kembali kotor sebelas bulan berikutnya. Ia tentang menemukan arah pulang, lalu melanjutkan perjalanan itu sepanjang tahun.
Pulang ke:
¶ diri yang lebih jujur,
¶ hati yang lebih tenang,
¶ hidup yang lebih bermakna.
Karena sejatinya, Ramadhan tidak datang untuk mengubah kalender kita, tetapi untuk mengubah cara kita menjadi manusia.
Dan barangkali inilah makna terdalam Ramadhan Karim: bulan di mana Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, hanya kejujuran untuk ingin menjadi lebih baik.
Allahu Ta’ala A’lam









