Wawancara Imajiner dengan Bang Lafran Pane Tentang HMI: Dulu, Kini, dan Esok

Pewawancara (P): Bang Lafran, kalau kita kembali ke 5 Februari 1947, apa kegelisahan paling mendasar yang melahirkan HMI?

Lafran Pane (LP): Kegelisahan saya sederhana tapi mendasar: Indonesia sudah merdeka, tapi umat Islam—terutama mahasiswa—belum sepenuhnya sadar perannya. Kampus waktu itu cenderung sekuler, umat Islam kuat di pesantren tapi lemah di universitas. Saya ingin ada jembatan: mahasiswa yang intelektual sekaligus religius, nasionalis sekaligus Islami. HMI lahir dari kegelisahan itu.
HMI Dulu: Identitas dan Idealisme

Bacaan Lainnya
 

P: Apa karakter utama HMI di masa awal?
LP: HMI dulu itu lapar makna, bukan lapar jabatan. Kadernya sedikit, fasilitas minim, tapi diskusinya hidup. Kami membaca Natsir, Hatta, Iqbal, bahkan Marx—bukan untuk ikut-ikutan, tapi untuk memahami zaman. HMI bukan organisasi seremonial, tapi ruang pembentukan kesadaran.
HMI Kini: Antara Cita dan Citra

P: Bagaimana Bang melihat HMI hari ini?
LP: Saya melihat dua wajah. Di satu sisi, HMI berhasil melahirkan banyak tokoh: menteri, akademisi, birokrat, aktivis. Itu prestasi. Tapi di sisi lain, ada gejala yang mengkhawatirkan:
HMI terlalu sibuk dengan posisi, lupa posisi historisnya.
Dulu kami bertanya: apa yang bisa kami berikan pada bangsa?
Sekarang sering terdengar: apa yang bisa HMI dapatkan dari kekuasaan?
Ini bukan salah generasi, tapi tanda zaman. Tantangannya berbeda: dulu melawan kolonialisme, sekarang melawan pragmatisme.

HMI Esok: Tiga Agenda Peradaban
P: Kalau Bang Lafran masih hidup hari ini, apa pesan untuk HMI ke depan?
LP: Saya akan titipkan tiga agenda besar:
1. Re-Ideologisasi (Pemurnian Niat)
HMI harus kembali ke raison d’être-nya:
Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur.
Kalau kader masuk HMI hanya untuk jaringan politik, itu degradasi makna. Organisasi ini bukan tangga karier, tapi madrasah kesadaran.
2. Re-Intelektualisasi (Serius Berpikir)
HMI harus kembali menjadi organisasi pemikir, bukan hanya orator.
Diskusi diganti seminar, seminar diganti konten, konten diganti citra.
Padahal tugas mahasiswa adalah mengganggu status quo dengan argumen, bukan dengan baliho.
3. Re-Spiritualisasi (Etika dalam Aksi)
HMI lahir bukan dari ideologi kosong, tapi dari kesadaran tauhid.
Kalau kader rajin demo tapi malas shalat, rajin rapat tapi jarang zikir, maka HMI sedang kehilangan ruhnya.

Pertanyaan Terakhir: HMI di Era Digital
P: Bagaimana HMI harus bersikap di era media sosial dan AI?
LP: Jangan menjadi generasi viral tapi dangkal.
Teknologi harus jadi alat dakwah dan pencerahan, bukan panggung narsisme.
HMI harus melahirkan intelektual publik, bukan sekadar influencer berpeci.

Epilog (Refleksi Pewawancara)
Kalau Bang Lafran Pane hidup hari ini, mungkin ia akan berkata:
“HMI jangan besar karena alumni di kursi kekuasaan,
tapi karena kadernya berdiri di kursi keilmuan dan kejujuran.”
HMI tidak akan mati, tapi bisa kehilangan makna.
Dan organisasi yang kehilangan makna, meski ramai, sejatinya sedang sepi.
Dulu: HMI lahir dari kegelisahan.
Kini: HMI hidup dalam persimpangan.
Esok: HMI akan bertahan bukan karena sejarahnya,
tapi karena keberanian kadernya untuk mengkhianati zona nyaman dan setia pada cita-cita. (Pewawancara: HMI AR)
Untuk Bang Lafran Pane: Al-Fatihah (dibacakan)

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait