Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tenggara 2025-2030)
Kepergian Hamim Ilyas meninggalkan duka mendalam bagi Persyarikatan Muhammadiyah, dunia akademik, dan umat Islam Indonesia. Beliau bukan sekadar seorang ulama, tetapi juga seorang pemikir tajdid yang menghadirkan Islam dengan wajah yang luas, teduh, rasional, dan visioner.
Sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027, almarhum dikenal memiliki keluasan ilmu yang mengagumkan. Setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya tidak pernah dijawab secara sempit atau hitam-putih. Beliau menjelaskan agama dengan kedalaman tafsir, keluasan wawasan, dan keberanian intelektual untuk membaca tantangan zaman.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi kegaduhan dan polarisasi, beliau tampil sebagai ulama yang lugas namun menyejukkan. Cara berpikirnya progresif, tetapi tetap berakar kuat pada Al-Qur’an dan Sunnah. Gagasan-gagasannya futuristis, namun tidak tercerabut dari tradisi keilmuan Islam yang kokoh.
Beliau memperlihatkan bahwa tajdid bukan berarti meninggalkan agama, melainkan menghadirkan nilai-nilai Islam agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman. Dari tangan dan pikirannya, Islam tidak tampak sebagai agama yang kaku, melainkan agama yang mampu berdialog dengan kemanusiaan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban modern.
Persyarikatan Muhammadiyah tentu sangat kehilangan sosok seperti beliau. Sebab ulama seperti Prof. Hamim Ilyas tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki keberanian moral dan kejernihan hati. Beliau mampu menjembatani teks dan konteks, tradisi dan modernitas, nalar dan spiritualitas.
Namun sebagaimana keyakinan orang beriman, kita percaya bahwa Allah lebih mencintainya. Allah memanggilnya dalam keadaan husnul khatimah, setelah mengabdikan hidup untuk ilmu, dakwah, dan pencerahan umat.
Doa terbaik mengalir untuk beliau:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
Latin:
Allāhumma-ghfir lahū warhamhū wa ‘āfihī wa‘fu ‘anhū.
Artinya:
“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dia, dan maafkanlah dia.”
Kepergian ulama sejatinya bukan hanya kehilangan seorang manusia, tetapi juga redupnya satu cahaya ilmu di bumi. Namun cahaya itu tidak benar-benar padam, sebab ilmu, pemikiran, dan keteladanan yang diwariskan akan terus hidup dalam ingatan murid-muridnya, dalam ruang-ruang pengajian, dan dalam denyut gerakan tajdid Muhammadiyah.
Semoga Allah melapangkan kuburnya, menerima seluruh amal baktinya, dan menempatkannya bersama para ulama, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
“Ulama boleh wafat, tetapi cahaya ilmunya akan terus berjalan melintasi zaman.”















