Oleh: H. Muh. Ikhsan AR.
(Ketua Komisi KUB MUI Sulawesi Tenggara dan Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari)
Ada bulan-bulan yang hanya lewat sebagai penanggalan. Tetapi ada pula bulan yang datang sebagai panggilan ruhani. Dzulhijjah termasuk yang terakhir. Ia bukan sekadar penutup kalender Hijriyah, melainkan ruang kontemplasi tempat manusia diajak menengok kembali hakikat dirinya: dari mana ia datang, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa ia akan kembali.
Di langit Dzulhijjah, nama Nabi Ibrahim AS terasa begitu dekat. Seolah-olah setiap gema takbir, setiap hewan kurban, setiap langkah jamaah haji di Tanah Suci, adalah gema dari jejak panjang seorang hamba yang berhasil menaklukkan ego demi cinta kepada Allah. Ibrahim bukan hanya tokoh sejarah. Ia adalah simbol perjalanan manusia menuju ketundukan total.
Kita hidup di zaman yang memuja kebebasan tanpa batas. Manusia modern ingin menentukan segalanya sendiri: identitas, moralitas, bahkan kebenaran. Akibatnya, dunia menjadi bising oleh ego. Semua ingin didengar, tetapi sedikit yang mau mendengar panggilan Tuhan. Dalam situasi seperti ini, Dzulhijjah hadir membawa pesan yang sangat kontras: bahwa kemuliaan sejati justru lahir dari kepasrahan kepada Allah.
Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan terkadang menuntut sesuatu yang paling kita cintai. Ketika beliau diperintahkan meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus Makkah, akal manusia mungkin sulit menerimanya. Ketika beliau diperintahkan menyembelih Ismail, hati manusia tentu bergetar. Namun di situlah letak maqam spiritual Ibrahim: beliau tidak menjadikan cinta dunia lebih tinggi daripada cinta kepada Allah.
Sesungguhnya, yang disembelih dalam ibadah kurban bukan hanya hewan. Yang lebih penting adalah ego, kesombongan, kerakusan, dan keterikatan berlebihan pada dunia. Banyak orang mampu membeli hewan kurban, tetapi tidak semua mampu mengorbankan sifat angkuh dalam dirinya. Padahal, Allah tidak membutuhkan darah dan daging itu. Yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan.
Hari-hari Dzulhijjah juga mengingatkan bahwa hidup ini sejatinya adalah perjalanan haji spiritual. Tidak semua orang mampu berangkat ke Makkah, tetapi setiap jiwa dipanggil untuk berhijrah dari kegelapan menuju cahaya. Ka’bah mungkin berada di Tanah Haram, tetapi “Ka’bah ruhani” berada di dalam hati: tempat manusia menata orientasi hidupnya agar hanya berpusat kepada Allah.
Di tengah dunia digital yang serba cepat, manusia sering kehilangan ruang hening. Kita terlalu sibuk mengejar validasi sosial, popularitas, dan pencitraan. Dzulhijjah datang seperti suara langit yang berkata: “Berhentilah sejenak. Dengarkan kembali suara nuranimu.” Sebab takbir bukan hanya lantunan lisan, tetapi deklarasi spiritual bahwa tidak ada yang lebih besar daripada Allah — bukan jabatan, bukan harta, bukan teknologi, bahkan bukan diri kita sendiri.
Jejak Ibrahim sesungguhnya adalah jejak keberanian melawan diri sendiri. Beliau rela berjalan sendirian demi mempertahankan tauhid di tengah masyarakat penyembah berhala. Hari ini, berhala itu mungkin tidak lagi berupa patung, tetapi bisa menjelma menjadi uang, kekuasaan, fanatisme, bahkan kecanduan terhadap dunia virtual. Maka semangat Ibrahim tetap relevan: menghancurkan segala sesuatu yang membuat manusia lupa kepada Tuhan.
Dzulhijjah akhirnya mengajarkan bahwa jalan menuju Allah bukan jalan kemewahan ego, melainkan jalan pengorbanan. Semakin seseorang mengenal Tuhan, semakin ia rendah hati. Semakin dekat ia kepada Allah, semakin lembut ia kepada sesama. Sebab cinta Ilahi tidak melahirkan kesombongan, tetapi ketundukan.
Mungkin inilah rahasia mengapa takbir terasa begitu menggetarkan pada hari-hari Dzulhijjah. Karena di balik gema “Allahu Akbar”, ada pengakuan terdalam manusia bahwa dirinya kecil, rapuh, dan fana. Dan justru ketika manusia menyadari kefanaannya, saat itulah ia menemukan jalan menuju Keabadian.













