Institut Timurnesia: Film Pesta Babi “Menyesatkan”

Film dokumenter “pesta” babi yang mengkritisi proyek PSN di Papua bagi kami bagian dari kritik sosial” itu kritik,namun”profokatif” kalau kritiknya “solutif tentu ada solusi kongkrit yang di tawarkan dalam film tersebut.

Namun film itu tidak menawarkan solusi kongkrit ” film propaganda kalau tidak di telah secara kritis akan “menyesatkan” bahkan bisa memicu konflik sosial”

Bacaan Lainnya
 
 

Membangun kesadaran masyarakat tentu tidak dengan cara-cara yang profokatif dan agitatif ” kalau menonton film tersebut sepertinya papua akan kiamat padahal fakta nya masyarakat di Papua khusus nya Papua Selatan tidak seantagonis dalm film tersebut menyikapi Proyek strategi nasional (PSN).

PSN di Papua Selatan bukan untuk menindas masyarakat  tapi bagian dari program pemerintah pusat untuk membangun wilayah Papua Selatan.

Proyeknya baru berjalan beberapa saat dan hasil nya belum maksimal namun secara jangka panjang manfaat nya akan dirasakan oleh rakyat indonesia khusus nya masyarakat Papua.

Keinginan masyarakat Papua dengan Jawa tentu berbeda jadi ketika ada berbagai program pembangunan berjalan di Papua lantas ada pihak di luar warga Papua  yang tidak hepy patut di dipertanyakan,” jangan sampai mereka tidak mau warga Papua sejahtera?”

warga Papua Selatan dengan proyek itu fine fine saja bahkan berbagai fasilitas yang di bangun perusahaan mereka nikmati dan bebas digunakan masyarakat

film dokumenter tersebut saya menilai tujuan nya bukan hanya untuk mengkampanyekan hal negatif terkait proyek PSN namun seperti nya ada “bandar” lain yang “menumpangi” pembuatan film tersebut karena tidak hepi proyek ini di kerjakan oleh pengusaha pribumi Haji isam (Johnlin Grup).
Sehingga berbagai narasi di kembang biakan untuk menyudutkan corporasi tersebut.
Sementara itu fakta lain yang juga jadi rujukan Kehadiran Jhonlin di Bombana. Sekrng sudah dinikmati Masyrakat sekitar. Jalan yang dibangun. Dinikmati Masyrakat. Pelabuhan yang dibangun dinikmati Masyrakat untuk bongkar Muat dan jual hasil bumi.

Oleh:
Direktur Institut timurnesia,
Laode Rahmat

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait