Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Dosen Sejarah Peradaban dan Pemikiran Islam IAIN Kendari)
Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Ia adalah ruang kontemplasi, tempat umat Islam diajak menengok kembali jejak para nabi dan membaca ulang makna perjalanan hidup manusia. Di antara hari-hari istimewa dalam bulan ini terdapat Tasu’a (9 Muharram) dan ‘Asyura (10 Muharram), dua hari yang menyimpan pesan sejarah, spiritualitas, dan pembebasan yang sangat mendalam.
Ketika berbicara tentang ‘Asyura, kita tidak hanya berbicara tentang puasa sunnah yang bernilai pahala besar. Kita sedang berbicara tentang sebuah peristiwa agung: kemenangan kebenaran atas kezaliman, kemenangan iman atas kesombongan, serta kemenangan harapan atas keputusasaan.
Jejak Nabi Musa: Kisah Pembebasan yang Abadi
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ mendapati kaum Yahudi Madinah berpuasa pada hari ‘Asyura. Ketika ditanya alasannya, mereka menjelaskan bahwa pada hari itu Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.
Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:
> نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ
“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang terputus dari sejarah kenabian sebelumnya. Nabi Muhammad ﷺ tidak datang untuk menghapus jejak para nabi terdahulu, melainkan menyempurnakan dan melanjutkan risalah tauhid yang mereka bawa.
Kisah Musa dan Fir’aun sesungguhnya bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah drama kemanusiaan yang terus berulang sepanjang sejarah. Fir’aun tidak hanya hidup di Mesir kuno; ia dapat menjelma menjadi kesombongan, ketidakadilan, kerakusan, dan penyalahgunaan kekuasaan di setiap zaman.
Jalan Nabi Muhammad: Jalan Syukur dan Keteladanan
Jika Nabi Musa mengajarkan pembebasan dari tirani eksternal, maka Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan pembebasan yang lebih dalam: pembebasan jiwa dari tirani hawa nafsu.
Puasa ‘Asyura bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi meneladani sikap syukur para nabi.
Allah berfirman:
> وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Wa idz ta’adzdzana rabbukum la’in syakartum la’azīdannakum.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim [14]: 7)
Puasa ‘Asyura adalah ekspresi syukur yang diwujudkan melalui pengendalian diri. Dalam keadaan lapar dan dahaga, manusia belajar bahwa hidup bukan hanya soal memiliki, tetapi juga soal mensyukuri.
Tasu’a dan ‘Asyura: Membelah Laut Ego
Dalam perspektif sufistik, laut yang dibelah Nabi Musa bukan hanya Laut Merah yang berada di hadapan Bani Israil. Laut itu juga dapat dimaknai sebagai simbol berbagai penghalang spiritual yang menghalangi manusia menuju Allah.
Setiap manusia memiliki “laut” yang harus diseberangi: laut kesombongan, laut kemarahan, laut iri hati,
laut cinta dunia yang berlebihan, dan laut hawa nafsu yang tidak terkendali.
Fir’aun yang paling sulit dikalahkan bukanlah Fir’aun di luar diri, melainkan Fir’aun yang bersemayam di dalam hati.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa jihad terbesar adalah perjuangan melawan hawa nafsu yang terus mengajak manusia menjauh dari Allah. Karena itu, puasa menjadi salah satu sarana paling efektif untuk melemahkan dominasi ego dan menguatkan ruh.
Tasu’a dan ‘Asyura mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri.
Relevansi bagi Manusia Modern
Di era digital, manusia hidup dalam kelimpahan informasi tetapi sering mengalami kekosongan makna. Teknologi semakin canggih, tetapi tidak selalu membuat manusia semakin bijaksana.
Kita menyaksikan berbagai bentuk “Fir’aun modern”:
1. kesombongan intelektual,
2. penyalahgunaan kekuasaan,
3. hoaks dan manipulasi informasi,
4. budaya pamer di media sosial,
5. kerakusan ekonomi yang mengabaikan nilai kemanusiaan.
Dalam konteks ini, puasa Tasu’a dan ‘Asyura menjadi latihan spiritual yang sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa kebebasan sejati tidak diperoleh dengan mengikuti semua keinginan, tetapi dengan kemampuan mengendalikan keinginan.
Manusia modern sering merasa merdeka karena dapat melakukan apa saja. Namun para nabi mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika seseorang tidak lagi diperbudak oleh hawa nafsunya.
Menapaki Jalan Para Nabi
Tasu’a dan ‘Asyura mempertemukan dua jejak kenabian: jejak Nabi Musa AS dan jalan Nabi Muhammad ﷺ. Dari Musa kita belajar keberanian melawan kezaliman; dari Muhammad kita belajar kesyukuran, keteladanan, dan penyucian jiwa.
Puasa pada hari-hari tersebut bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga deklarasi spiritual bahwa kita ingin keluar dari perbudakan ego menuju kemerdekaan ruhani.
Sebagaimana Allah membelah laut untuk Nabi Musa, semoga Dia juga membelah segala penghalang yang menutupi hati kita. Sebagaimana Allah menyelamatkan Musa dari Fir’aun, semoga Dia menyelamatkan kita dari “Fir’aun-Fir’aun” yang bersembunyi dalam diri.
Karena pada akhirnya, makna terdalam Tasu’a dan ‘Asyura bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan tentang menemukan jalan pulang menuju Allah melalui jejak para nabi.
“Puasa bukan sekadar menahan lapar; ia adalah perjalanan membebaskan jiwa dari segala yang bukan Allah.”
 






