Antara Algoritma dan Asma’: Menyingkap Makna Qalbu di Era Digital

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.

(Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari

Bacaan Lainnya
 

Di zaman ketika algoritma membaca jejak digital kita dengan presisi matematis, manusia menghadapi pertanyaan baru: apakah yang memimpin hidup kita data atau doa? Algoritma bekerja berdasarkan pola klik, durasi tontonan, dan preferensi yang terekam. Ia membentuk “realitas yang dipersonalisasi.” Namun Islam sejak awal telah mengajarkan bahwa pusat kendali manusia bukan pada data, melainkan pada qalbu.

Al-Qur’an menegaskan:

Alā biżikrillāhi taṭma’innul-qulūb

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS.13:28)

Hati menjadi tenang bukan karena notifikasi, melainkan karena dzikir. Di sinilah kita perlu membedakan dua sistem: algoritma dan Asma’. Algoritma mengolah data; Asma’ (nama-nama Allah) menanamkan makna. Algoritma memprediksi perilaku; Asma’ membimbing kesadaran.

Bagi M. Quraish Shihab, qalbu bukan sekadar pusat emosi, tetapi pusat nilai dan kesadaran moral. Dalam berbagai tafsirnya, beliau menjelaskan bahwa kata qalb berasal dari akar kata yang berarti “berbolak-balik.” Hati manusia dinamis—ia bisa terang atau gelap, terbuka atau terkunci.

Ketika Al-Qur’an menyebut:

Afalā yatadabbarūnal-Qur’ān am ‘alā qulūbin aqfāluhā

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. 47: 24)

Menurut Quraish Shihab, “kunci hati” adalah ketertutupan terhadap kebenaran akibat kesombongan atau kelalaian. Dalam konteks digital, kunci itu bisa berupa banjir informasi yang tidak disaring. Algoritma cenderung memperkuat preferensi yang sudah ada (echo chamber), sementara qalbu yang sehat justru terbuka pada koreksi dan refleksi.

Bagi Quraish Shihab, teknologi bukan musuh iman. Yang berbahaya bukan algoritmanya, tetapi ketika manusia kehilangan kendali nilai. Qalbu harus tetap menjadi hakim, bukan hanya penonton.

Sementara itu, Muhammad Sabri melihat relasi agama dan modernitas secara dialogis. Dalam pendekatan integratifnya, ia menekankan pentingnya kesadaran reflektif di tengah arus rasionalitas dan teknologi.

Dalam kerangka ini, qalbu bukan anti-rasional, tetapi melampaui rasionalitas instrumental. Algoritma bekerja dengan logika efisiensi dan prediksi; qalbu bekerja dengan logika etika dan transendensi. Sabri sering mengingatkan bahwa modernitas tanpa kedalaman spiritual akan melahirkan manusia yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral.

Era digital mempercepat arus opini dan emosi. Orang mudah marah, mudah terprovokasi, mudah membagikan tanpa memverifikasi. Dalam situasi seperti ini, qalbu berfungsi sebagai rem etis. Ia bertanya: “Apakah ini benar? Apakah ini adil? Apakah ini membawa maslahat?”

Bagi Sabri, krisis terbesar manusia modern bukan kekurangan informasi, tetapi kehilangan orientasi makna. Qalbu adalah kompas itu.

Antara Algoritma dan Asma’

Algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian; Asma’ mengarahkan perhatian kepada Yang Maha Abadi. Algoritma menguatkan kecenderungan; Asma’ menguatkan kesadaran. Algoritma membentuk kebiasaan; dzikir membentuk karakter.

Kita tidak mungkin keluar dari dunia digital. Tetapi kita bisa memilih bagaimana hadir di dalamnya. Ketika seseorang mengunggah konten, ia bisa bertanya: apakah ini demi validasi atau demi nilai? Ketika membaca berita, ia bisa bertanya: apakah ini memperluas empati atau mempersempit prasangka?

Qalbu yang hidup tidak anti-teknologi. Ia justru memanfaatkan teknologi untuk kebaikan. Dakwah digital, literasi Qur’ani, dan jejaring kemanusiaan adalah bukti bahwa algoritma dapat menjadi alat. Namun alat itu harus tunduk pada Asma’, bukan menggantikannya.

Penutup: Menjaga Kompas Batin

 

Di antara deru notifikasi dan gelombang data, manusia tetap makhluk spiritual. Ia bukan sekadar kumpulan preferensi, tetapi pemilik kesadaran. Jika algoritma membentuk “apa yang sering kita lihat,” maka qalbu menentukan “apa yang layak kita pilih.”

 

Jika M. Quraish Shihab menegaskan bahwa hati adalah pusat nilai, maka Muhammad Sabri mengingatkan bahwa modernitas harus dibimbing oleh kesadaran transenden.

Keduanya seakan sepakat: teknologi boleh berkembang, tetapi qalbu tidak boleh tenggelam.

 

Antara algoritma dan Asma’, manusia sedang diuji.

Apakah ia akan dikendalikan oleh sistem, atau menata sistem dengan nurani?

Apakah ia akan menjadi produk data, atau hamba yang sadar makna?

 

Jawabannya terletak bukan pada layar, tetapi pada qalbu yang terus diasah dengan dzikir, ilmu, dan muhasabah.

 

_Wallahu Ta’ala A’lam_

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait