Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam dan Maheswara Utama Pembibaan Iseologi Pancasila BPIP RI)
Ada saat di mana manusia tidak lagi merasa gelisah ketika jauh dari Tuhan. Ia tetap beribadah, tetapi tanpa getar. Ia membaca ayat-ayat suci, tetapi tidak lagi menangis. Pada titik itulah, QS. Al-Hadid: 16 turun sebagai teguran yang lembut namun mengguncang:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah dan terhadap kebenaran yang telah turun?”
Ayat ini bukan sekadar pertanyaan. Ia adalah bisikan langit—yang menyapa hati-hati yang mulai lelah, bahkan mungkin mulai kehilangan arah.
Hati yang Lelah di Tengah Kebisingan Dunia
Kita hidup di zaman yang bising. Informasi mengalir tanpa henti. Notifikasi tak pernah benar-benar berhenti. Dalam dunia seperti ini, kelelahan bukan hanya fisik—tetapi juga kelelahan spiritual.
Hati menjadi cepat jenuh,
sulit khusyuk, dan perlahan kehilangan sensitivitas terhadap kebenaran.
Padahal, masalahnya bukan karena kita tidak tahu. Kita tahu mana yang benar. Kita tahu kewajiban kita. Namun, seperti yang disindir ayat ini, yang hilang bukan pengetahuan—melainkan getaran.
Khusyuk sebagai Kesadaran Eksistensial
Menurut Nasaruddin Umar, khusyuk bukan sekadar sikap tubuh dalam ibadah, melainkan kesadaran eksistensial yang mendalam akan kehadiran Tuhan.
Kehilangan khusyuk berarti kehilangan rasa diawasi (ihsan); kehilangan kedalaman makna dalam ibadah; dan akhirnya kehilangan arah hidup.
Dalam perspektif beliau, ayat ini adalah panggilan untuk kembali menyadari posisi manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam “pandangan Ilahi”.
Artinya, hati yang lelah bukan karena terlalu banyak aktivitas, tetapi karena terlalu jauh dari kesadaran Ilahi.
Krisis Khusyuk di Era Digital
Sementara itu, Muhammad Sabri AR membaca ayat ini dalam lanskap modern sebagai krisis perhatian (attention crisis).
Di era digital, kita terus terhubung, tetapi tidak hadir; kita banyak melihat, tetapi sedikit merenung; kita sering membaca, tetapi jarang merasakan.
Akibatnya, ayat-ayat Allah kehilangan daya getarnya, dzikir berubah menjadi rutinitas mekanis, hati menjadi “kebal” terhadap cahaya.
Menurutnya, kerasnya hati hari ini bukan karena kurang iman, tetapi karena: terlalu banyak distraksi yang menggerus kedalaman kesadaran.
Dari Lelah Menjadi Beku
QS. Al-Hadid: 16 juga mengingatkan bahaya laten:
“Janganlah seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya… lalu hati mereka menjadi keras.”
Kerasnya hati tidak terjadi seketika. Ia adalah proses: Lalai kecil yang diulang; Dzikir yang ditunda; dan Khusyuk yang diabaikan.
Hingga akhirnya: hati tidak lagi tersentuh, kebenaran terasa biasa saja, dosa tidak lagi terasa berat. Di sinilah kelelahan berubah menjadi kebekuan.
Kembali Mendengar Bisikan
Namun ayat ini tidak hanya menegur—ia juga mengundang. Ia tidak berkata: “kalian telah gagal,” melainkan: “belumkah waktunya?”
Artinya, selalu ada kesempatan untuk kembali, selalu ada ruang untuk melembutkan hati.
Dalam bahasa sufistik, ini adalah: undangan untuk “pulang”—dari kebisingan menuju keheningan, dari kelalaian menuju kesadaran.
Penutup: Menemukan Getar yang Hilang
Barangkali masalah terbesar kita hari ini bukan kurangnya ibadah, tetapi hilangnya rasa dalam ibadah. Dan QS. Al-Hadid: 16 datang sebagai pengingat: bahwa iman bukan sekadar diketahui, tetapi harus dirasakan bahwa dzikir bukan sekadar diucapkan, tetapi harus menghidupkan.
Di tengah dunia yang terus memanggil keluar, ayat ini memanggil kita masuk—ke dalam diri, ke dalam hati. Sebab di sanalah, bisikan langit masih menunggu untuk didengar.







