Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana IAIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI)
Pada suatu titik dalam sejarah, dunia selalu mengalami kelelahan terhadap ketidakadilan yang dipelihara terlalu lama. Ketika dominasi berubah menjadi penindasan, dan stabilitas global justru melahirkan ketimpangan, maka lahirlah kebutuhan akan tatanan baru. Diskusi yang digelar oleh Universitas Paramadina pada 11 April 2026 bukan sekadar forum akademik biasa, melainkan cermin dari kegelisahan zaman: apakah dunia sedang menyaksikan kelahiran ulang sejarah?
Pasca gencatan senjata di Timur Tengah, dunia seperti berdiri di ambang perubahan. Tatanan global yang selama beberapa dekade didominasi oleh satu kutub kekuatan kini menunjukkan retaknya. Retakan ini bukan hanya geopolitik, tetapi juga moral.
Dunia mulai mempertanyakan: apakah kekuatan selalu identik dengan kebenaran? Ataukah selama ini kita hanya hidup dalam ilusi stabilitas yang dibangun di atas ketidakadilan?
Dalam konteks ini, Iran muncul bukan sekadar sebagai aktor negara, tetapi sebagai simbol narasi tandingan. Ia tidak hanya berbicara dengan bahasa senjata, tetapi juga dengan bahasa peradaban—tentang martabat, perlawanan, dan keadilan. Revolusi yang dahulu dianggap anomali kini kembali menemukan relevansinya, seolah mengingatkan dunia bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya menunggu untuk dibaca ulang.
Namun, yang menarik dari diskursus ini bukanlah glorifikasi terhadap satu kekuatan, melainkan pergeseran cara pandang terhadap kekuatan itu sendiri. Dunia tampaknya mulai lelah dengan logika hard power—dominasi militer dan ekonomi—dan perlahan beralih ke sesuatu yang lebih subtil namun lebih menentukan: legitimasi moral. Dalam dunia yang semakin terhubung, keadilan bukan lagi isu lokal, melainkan tuntutan global. Ketika sebuah bangsa berdiri atas nama kemanusiaan, ia berbicara kepada nurani dunia, bukan sekadar kepada sekutunya.
Di sinilah letak kegelisahan sekaligus harapan. Jika benar dunia sedang bergerak menuju tatanan multipolar, maka pertanyaannya bukan lagi siapa yang berkuasa, tetapi nilai apa yang akan memimpin. Apakah tatanan baru ini akan mengulang pola lama dengan aktor yang berbeda? Ataukah ia benar-benar menawarkan paradigma baru yang lebih manusiawi?
Diskusi tersebut juga mengisyaratkan bahwa konflik global hari ini tidak cukup dibaca sebagai pertarungan kepentingan, melainkan sebagai benturan nilai. Dunia tidak hanya terbelah secara politik, tetapi juga secara moral dan peradaban. Dalam situasi seperti ini, agama dan nilai-nilai spiritual kembali menemukan relevansinya—bukan sebagai alat legitimasi kekuasaan, tetapi sebagai sumber kritik terhadapnya.
Indonesia, dalam hal ini, menempati posisi yang menarik. Kehadiran para tokoh lintas latar belakang dalam forum tersebut menunjukkan bahwa negeri ini memiliki potensi sebagai ruang dialog peradaban.
Sebagai bangsa dengan tradisi Islam yang relatif moderat dan inklusif, Indonesia bisa menjadi jembatan antara dunia yang terbelah—bukan dengan kekuatan militer, tetapi dengan kekuatan gagasan.
Peluncuran buku karya Nasir Tamara tentang Revolusi Iran semakin mempertegas bahwa peristiwa historis tidak pernah benar-benar usang. Ia selalu menemukan makna baru dalam konteks yang berbeda. Revolusi Iran, dalam pembacaan kontemporer, bukan sekadar tentang perubahan rezim, tetapi tentang keberanian untuk menantang tatanan yang dianggap mapan namun tidak adil.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang tersisa adalah: apakah dunia benar-benar siap untuk berubah? Sebab tatanan baru tidak lahir hanya dari runtuhnya yang lama, tetapi dari keberanian untuk membayangkan yang berbeda. Jika perubahan hanya mengganti aktor tanpa mengubah nilai, maka yang terjadi hanyalah siklus dominasi yang berulang.
Kita mungkin sedang hidup di masa transisi—masa ketika sejarah bergerak lebih cepat dari biasanya.
Dalam percepatan ini, ada risiko sekaligus peluang. Risiko bahwa dunia akan semakin terfragmentasi, tetapi juga peluang bahwa ia akan menemukan kembali kemanusiaannya.
Dan mungkin, di tengah segala ketidakpastian ini, satu hal yang perlu kita pegang adalah bahwa masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang paling adil.
Wallahu A’lam bi al-Shawwab











