Ketika Perut Berpuasa, Hati Berempati

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari)

Puasa sering dipahami sekadar sebagai ritual menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga matahari terbenam.

Bacaan Lainnya
 

Namun sesungguhnya, di balik rasa lapar yang kita alami, terdapat pesan kemanusiaan yang jauh lebih dalam: membangkitkan empati sosial terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan. Lapar dalam puasa bukan hanya pengalaman biologis, melainkan jalan spiritual untuk memahami penderitaan orang lain.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa ibadah tidak pernah terpisah dari kepekaan sosial. Allah berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Ara’ayta alladzī yukadzdzibu bid-dīn.
Fażālika alladzī yadu‘ul-yatīm.
Wa lā yaḥuḍḍu ‘alā ṭa‘āmil-miskīn.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?
Dialah yang menghardik anak yatim,
dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma‘un: 1–3)

Ayat ini menegaskan bahwa agama kehilangan maknanya jika tidak melahirkan kepedulian sosial. Ibadah bukan sekadar urusan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga komitmen horizontal dengan sesama manusia.

Dalam konteks puasa, lapar menjadi jembatan empati. Ketika seseorang menahan lapar seharian, ia mulai merasakan sebagian kecil dari kenyataan yang setiap hari dialami oleh kaum miskin. Pengalaman ini menumbuhkan kesadaran bahwa makanan yang sering kita anggap biasa sesungguhnya adalah nikmat besar.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa salah satu hikmah puasa adalah agar orang kaya merasakan penderitaan orang miskin sehingga hatinya tergerak untuk berbagi. Menurutnya, rasa lapar melembutkan hati dan menghidupkan belas kasih.

Pemikir kontemporer Indonesia Nurcholish Madjid juga menekankan bahwa puasa adalah latihan spiritual yang memiliki dimensi sosial. Ia menyatakan bahwa puasa mendidik manusia untuk keluar dari egoisme menuju solidaritas. Dengan kata lain, puasa adalah pendidikan moral untuk membangun masyarakat yang berkeadilan. Dalam realitas modern, pesan empati sosial ini justru semakin relevan.

Dunia digital sering membuat kita hidup dalam “gelembung kenyamanan”—melihat foto makanan mewah di media sosial, sementara di tempat lain masih banyak orang yang kesulitan mendapatkan makanan sehari-hari. Puasa seharusnya memecahkan gelembung itu. Ia mengingatkan bahwa di balik statistik kemiskinan terdapat manusia nyata dengan perut yang kosong dan harapan yang sederhana: sekadar bisa makan hari ini.

Karena itu, empati sosial tidak boleh berhenti pada perasaan. Ia harus berubah menjadi tindakan. Memberi makan orang yang lapar, mendukung program bantuan sosial, atau sekadar berbagi makanan dengan tetangga yang membutuhkan adalah bentuk konkret dari nilai puasa.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ

Man faṭṭara ṣā’iman kāna lahu miṡlu ajrih.
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa memberi makan orang lain adalah ibadah yang sangat mulia, karena ia menggabungkan dimensi spiritual dan sosial sekaligus.

Pada akhirnya, puasa mengajarkan bahwa lapar bukan sekadar ujian fisik, tetapi bahasa kemanusiaan. Ia mengajak manusia untuk merasakan penderitaan sesama, mematahkan kesombongan, dan menumbuhkan kasih sayang. Jika setelah Ramadhan seseorang menjadi lebih peduli kepada orang miskin, lebih ringan tangan untuk berbagi, dan lebih peka terhadap penderitaan sosial, maka puasa itu telah mencapai tujuannya.

Sebab hakikat puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi membangun hati yang mampu merasakan lapar orang lain. Di situlah agama menemukan wajahnya yang paling manusiawi: empati yang berubah menjadi solidaritas.

Wallahu A’lam bi al-Shawwab

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait