Sultrademo.co – Muhamad Fajar Hasan, calon Bupati Muna Barat, mengatakan bahwa ketika nanti diberi amanah oleh masyarakat untuk memimpin Muna Barat, maka akan melibatkan para perintis atau deklarator Muna Barat serta para tokoh masyarakat dalam membangun Muna Barat. Para sesepuh atau tetua di Mubar senantiasa akan dilibatkan dalam setiap denyut nadi pembangunan di Muna Barat. Pikiran-pikiran mereka harus menyertai setiap program pembangunan dan perumusan kebijakan strategis di Muna Barat. Mubar menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB), oleh karena perjuangan para deklarator, tokoh masyarakat, pemuda dan mahasiswa serta seluruh masyarakat Mubar. Kita tidak boleh melupakan jasa mereka dan patut selalu meminta petuah dari para pejuang pemekaran dan tokoh masyarakat Mubar.
Wakil Bendahara Umum ICMI Pusat tersebut melanjutkan, kita perlu menggali kembali tentang tujuan dibentuknya DOB Muna Barat, apa saja yang melatari perjuangan saat itu. Tentu ada alasannya yang lebih hakiki kenapa Mubar harus mekar. Bukan tentang alasan yang normatif saja, misalnya kebutuhan rentan kendali pemerintahan, pelayanan publik dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Hal yang lebih hakiki tersebut adalah agar masyarakat Mubar berdaya dan menjadi tuan di kampunya sendiri dalam semua aspek. Kita mendengar suara kekecewaan disana-sini dalam bentuk laten, misalnya pengusaha lokal terabaikan dalam pusaran pembangunan, ASN asli Mubar menjadi second line bukan yang utama dalam pengisian jabatan pemerintahan, dan masih banyak lagi. Hal-hal semacam ini harus dikoreksi, tidak boleh lagi terulang di masa datang. Itu sebabnya, nilai-nilai perjuangan pembentukan DOB Mubar perlu direfresh kembali, sebagai pengingat dan panduan dalam membangun Muna Barat.
Pengurus Pusat Asosiasi Penambang Nikel ini menguraikan, bahwa membangun Mubar secara teknokratis harus berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah hukum dan pembangunan. Namun, semuanya harus didasarkan pada nilai-nilai luhur, budaya, keberagaman dan adat istiadat masyarakat Mubar. Nilai-nilai dimaksud, harus menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan pembangunan. Penggabungan strategi pembangunan secara teknokratis dan kultural, agar identitas Mubar sebagai daerah yang beradat dan berbudaya tidak tergerus zaman, sehingga tetap menjadi kebanggaan masyarakat Mubar. Secara konsepsional dan praktikal, ornamen-ornamen adat, kebudayaan dan keberagaman harus terinternalisasi dalam wajah pemerintahan. Untuk mewujudkan semuanya, diperlukan keterlibatan secara langsung para pendiri/deklarator terbentuknya DOB Mubar dan para tokoh masyarakat, tidak hanya dalam acara-acara seremonial semata, akan tetapi peran tersebut akan diinstitusionalisasi dan menjadi partner dialektika bupati dan jajarannya. Dan, untuk mengenang dan menghormati perjalanan perjuangan pembentukan DOB Mubar, kita akan membangun monumen, sebagai mengingat bagi kita semua dan pengingat bagi generasi berikutnya bahwa pembentukan DOB Mubar bukanlah hadiah, tetapi melalui perjuangan yang tidak mudah.***









