Hari Ketiga, Dilan 1991 Tembus 4 Ribu Penonton Di Hollywood Square Kendari

  • Whatsapp

Kendari, (SultraDemoNews) – Rilisnya film Dilan 1991 pada 28 Februari lalu, mengundang banyak antusiasme di kalangan masyarakat, khususnya remaja di Kota Kendari.

Film Dilan 1991 merupakan lanjutan dari Dilan 1990, yang juga berhasil buming pada 2018 lalu.

Bacaan Lainnya

Dilansir dari viva.co.id, sampai hari ketiga pemutaran film Dilan 1991, berhasil menembus 2 juta penonton, dengan kata lain, jumlah sebanyak itu mengalahkan rekor avangers : infinite war

Di bioskop Hollywood Square Kendari sendiri, sampai hari ketiga pemutaran film sudah tembus 4 ribu penonton.

Jika dibandingkan dengan Dilan 1990, Dilan 1991 ditargetkan, akan lebih buming dikarenakan unsur dramatisnya lebih terasa dan menarik.

Film yang di angkat dari kisah nyata, karya Pidi Baiq dengan judul yang sama ini, membuat jam tayang di bioskop Hollywood Kendari menjadi full, jam tayang film yang normalnya mulai pukul 16.00 dimajukan menjadi pukul 12.00 Wita, dan itu didominasi penayangan Dilan 1991.

Saat diskusi ringan bersama jurnalis sultrademo.co, Manager Hollywood Kendari, Steven mengakui, film Dilan 1991 kali ini berhasil menghipnotis masyarakat hingga membludaknya jumlah penonton Dilan dibandingkan dengan film-film lainnya.

“Dibanding Dilan 1990 terus terang kami tidak menyangka akan serame itu, Dilan 1991 yang sekarang melanjutkan dari film sebelumnya. Semenjak ini bioskop hampir tiap hari full terus, dan luar biasanya, Dilan 1991 ini berhasil mengalahkan Avanger,” katanya.

Steven juga menambahkan, salah satu daya tarik dari film Dilan 1991 ini, adalah sasaran penontonya yang tidak monoton, tetapi untuk semua kalangan.

“Ya, menurut saya, kenapa film ini bisa buming karena sasaran penontonnya tidak untuk anak muda saja, dan film ini bisa diterima oleh masyarakat Indonesia, khususnya Kendari,” tambahnya.

Sementara itu, menanggapi video beberapa mahasiswa yang menolak film Dilan d Makassar Sulawesi Selatan yang sempat viral beberapa waktu lalu, Steven mengatakan hal itu sepertinya tidak wajar dilakukan, pasalnya, se Indonesia tidak ada tindakan untuk menolak film tersebut, apalagi dengan alasan konten dari film itu tidak mendidik.

“Aneh aja sih menurut saya, maksudnya kan, kita juga gak langsung nayangin gitu aja, sebelum filmnya kita tayangin, kita sudah melalui Lembaga Sensor Film (LSF) dan saya pikir LSF kita saat ini, sudah sangat tegas dan bijak dalam menentukan penayanga film,” pungkasnya. Minggu, 03/03/19

Anggun Abubakar

  • Whatsapp

Pos terkait