Lahan Seluas 150.000 M2 di Sultra Bakal Diratakan untuk Bandara Internasional, Pakai Nama Penguasa Buton

Ilustrasi, lahan seluas 150.000 ha yang diratakan untuk bandara internasional dengan nama penguasa Buton/istimewah

Kendari, sultrademo.co – Masyarakat Sulawesi Tenggara bersiap menyambung keberadaan bandara internasional.

Selama ini memang belum ada bandara internasional yang bisa dinikmati masyarakat Sulawesi Tenggara.

Bacaan Lainnya
 

Tak heran apabila proyek ini akan menjadi sejarah baru bagi perkembangan provinsi tersebut.

Dilansir dari JatimNetwork.com proyek bandara internasional di Sulawesi Tenggara ini didanai langsung oleh pemerintah pusat.

Pemerintah pusat telah menyiapkan anggaran senilai Rp99,3 miliar untuk proyek tersebut.

Sebenarnya, proyek ini sudah direncanakan pemerintah provinsi sejak 2014 silam.

Sayangnya ada banyak kendala yang terjadi, sehingga proyek tersebut tak kunjung diwujudkan.

Salah satu kendala yang paling serius ialah pembebasan lahan untuk bandara internasional.

Saat pemerintah provinsi melakukan pembebasan lahan pada 2022, ternyata juga ditemukan banyak masalah.

Beberapa warga protes karena lahan mereka dibeli dengan harga yang terlalu murah.

Namun persoalan yang paling serius ialah tumpang tindihnya tanah warga yang sudah memiliki sertifikat.

Tentu hal tersebut menyulitkan pemerintah untuk melakukan pembebasan lahan dan pembayaran ganti ruginya.

Meski demikian, pada akhirnya pembebasan lahan seluas 150.000 ha berhasil dilakukan sehingga target selesai 2024 kemungkinan akan tercapai.

Dilansir dari laman agj10.com, proyek ini ternyata merupakan pengembangan dari Bandara Haluoleo.

Bandara Haluoleo merupakan bandara terbesar yang ada di Sulawesi Tenggara untuk saat ini.

Proyek ini akan menambah panjang landasan pacu dari 2.500 meter menjadi 3.100 meter.

Hal ini dilakukan untuk memenuhi syarat agar bisa menjadi bandara internasional.

Adapun lokasi bandara Haluoleo ini berada di Kabupaten Konawe Selatan.

Dalam sejarahnya, ternyata bandara di Sulawesi Tenggara ini pernah berganti nama.

Dulunya, kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara ini bernama Robert Wolter Monginsidi.

Dia merupakan pahlawan nasional yang meninggal dunia selama perang revolusi berkecamuk

Namun sejak 2010, namanya diganti menjadi salah satu tokoh penguasa Kendari, Haluoleo.

Mengutip dari laman dephub.go.id, pergantian nama itu merupakan aspirasi masyarakat yang ingin menampilkan tokoh sejarah dari daerahnya.

Sosoknya dikenal luas oleh masyarakat melalui tradisi lisan yang disebarkan dari mulut ke mulut.

Usut punya usut, ternyata Haluoleo merupakan seorang penguasa atau Raja Buton ke-6.

Saat menjadi raja, gelarnya adalah Sultan Muhammad Isa Kaimuddin Khalifatul Khamis.

Itulah lahan seluas 150.000 ha yang diratakan untuk pembangunan bandara internasional dengan nama penguasa Buton.

Laporan: Muh Sulhijah

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait