Kendari, Sultrademo.co– Milad Taman Pemuda dan Mahasiswa Tolaki Provinsi Sulawesi Tenggara yang ke 20 tahun berlangsung lancar, selain meria juga nampak harmoni dengan skema perayaan dan usungan tema Silaturahim dalam Bingkai Pluralisme.
Pada panggung megah, setiap perwakilan etnis diberi kesempatan menyampaikan harapan persatuan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Beberapa perwakilan etinis dan lembaga kepemudaan adalah, Kerukunan Keluarga Bugis Bone, Kerukunan Keluarga Minangkabau, Himpunan Mahasiswa Papua, Arek Jawa timur dan lainnya.
Secara bergantian, gemuruh persatuan dan bahu membahu menjaga kedamaian diserukan.
Kapolda Sultra yang diwakili Dir Intelkam Polda Sultra dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan kebanggaan terhadap komitmen Tamalaki menjadi garda dalam menjaga kondusifitas daerah Sultra.
“Ini kita harapkan terhadap semua organisasi, menjadi pelopor persatuan,”katanya saat membawakan sambutan.
Sementara itu, Ketua Panitia Milad, Oscar Sumardin, S.Pd dalam laporannya menjelaskan, Tema Plural yang diusung pihaknya merupakan kesadaran penuh dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Bagi pihaknya, momen peringatan Milad Tamalaki yang ke 20 merupakan bagian dari menghimpun organ-organ kepemudaan, dan kemasyarakatan guna menjalin silaturahim dalam bingkai Pluralisme.
“Makanya dalam Milad tadi perwakilan etnis kita beri kesempatan membawakan sambutan, itu dalam rangka mengkampanyekan persatuan dan kedamaian di bumi anoa,” tuturnya.
Dikuatkan Ketua Tamalaki Sultra, Alpian Annas SH, MH. Bahwa Tamalaki sendiri bukanlah organisasi preman, Tamalaki adalah organisasi yang didalamnya terhimpun pemuda dan pelajar atau mahasiswa Tolaki dari berbagai daerah.
Salah satu tujuannya adalah menjaga marwah adat istiadat, menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, adab hidup dalam keragaman, dan menjadi lembaga edukatif dalam mensosialisakan sikap saling menghargai sesama suku dan budaya, ras dan agama, serta menjaga dan melestarikan kebudayaan.
“Tamalaki mencetak pemimpin, bukan pasukan, kami komitmen menjaga kedamaian, menghargai sesama, dan melestarikan kebudayaan. Siapapun dan darimanapun yang datang di daerah ini, senantiasa kami lindungi, dan merupakan saudara kami, seperti semboyan kami, inae Konasara ie pinesara, inae liasara ie pinekasara, siapa menghargai adat, akan diperlakukan baik, dan siapa tidak menghargai adat maka akan diperlakukan sebaliknya,” tutupnya.
 






