Ribuan Kasus HIV Terdeteksi di Sultra, Pelibatan Generasi Muda Jadi Kunci

Kendari, Sultrademo.co Fenomena gunung es kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Sulawesi Tenggara (Sultra) kian mengkhawatirkan. Hingga tahun 2025, tercatat ribuan kasus kumulatif dengan dominasi penularan terjadi di kelompok usia produktif. Pelibatan generasi muda melalui pendekatan kreatif dinilai krusial untuk menekan laju penularan dan menjaga keberlanjutan layanan kesehatan.

Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan, secara kumulatif dari tahun 2011 hingga 2025, ditemukan sebanyak 3.925 kasus HIV. Angka ini dinilai belum merepresentasikan kondisi riil di lapangan mengingat masih banyaknya kasus yang belum terdeteksi.

Bacaan Lainnya
 

Hal tersebut terungkap dalam Talkshow Hari AIDS Sedunia 2025 bertajuk “Bersama Hadapi Perubahan, Jaga Keberlanjutan Layanan HIV: Generasi Muda Bebas HIV” yang digelar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Sultra di Aula Bachtiar, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO), Kamis (18/12/2025).

Perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, Chintya Devi Oktovianus, memaparkan bahwa sepanjang Januari hingga Oktober 2025 saja, terdapat 491 kasus baru. Kota Kendari menjadi penyumbang tertinggi dengan 233 kasus, atau rata-rata ditemukan 23 kasus baru setiap bulannya.

“Kasus yang ditemukan ini baru yang terlihat. Yang tidak terdeteksi jumlahnya jauh lebih besar,” ujar Chintya di hadapan peserta diskusi.

Lebih lanjut, Chintya menyoroti tantangan kepatuhan pengobatan. Dari total kasus kumulatif, hanya sekitar 1.879 orang yang tercatat aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV). Sisanya tidak terpantau atau putus obat, yang sering kali disebabkan oleh kejenuhan pasien dan kurangnya dukungan lingkungan. Padahal, pengobatan rutin sangat penting untuk menekan jumlah virus dan mencegah penyakit penyerta yang fatal.

Secara demografi, kasus tertinggi ditemukan pada kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL), disusul kelompok transpuan, pekerja seks, dan populasi umum termasuk ibu rumah tangga.

Wakil Dekan III FISIP UHO, Dr. Jopang, menyoroti posisi Indonesia dalam peta global penyebaran HIV. Ia menyebutkan, Indonesia saat ini berada pada peringkat ke-14 dunia untuk jumlah populasi berpotensi terinfeksi, dan peringkat ke-9 untuk kelompok berisiko.

“Data ini memprihatinkan. Di Sultra, setelah Kendari, kasus tertinggi ada di Baubau dan Kabupaten Kolaka. Kelompok usia 20 hingga 50 tahun adalah yang paling rentan,” kata Jopang.

Oleh karena itu, ia menilai tema “Generasi Muda Bebas HIV” sangat relevan. Institusi pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi komprehensif terkait pencegahan dan deteksi dini bagi mahasiswa.

Ketua Pengurus Daerah IAKMI Sultra, Amrin Karzan, menekankan bahwa pendekatan konvensional sering kali kurang efektif menjangkau anak muda. Ia mendorong metode edutainment atau edukasi berbasis hiburan yang lebih cair dan tidak menggurui.

“Edukasi sambil ngopi, ngobrol santai, atau kegiatan kreatif lainnya justru lebih efektif menjangkau kelompok berisiko. Kita butuh relawan muda yang aktif menyebarkan informasi secara berkelanjutan,” jelas Amrin.

Editor: Muhammad Sulhijah
Laporan: Nur Mina, Aji Said (Magang)

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait