12 Ribu Balita Berisiko Stunting, Wali Kota Kendari Perintahkan Semua Dinas Kerja Ekstra

Ketgam : Wali Kota pimpin rapat koordinasi di dampingi Wakil Wali Kota dan Ketua DPRD Kota Kendari

Kendari, Sultrademo.co – Pemerintah Kota Kendari memperketat penanganan stunting setelah tercatat sekitar 12 ribu balita masuk kategori berisiko, sementara 462 anak telah berstatus stunting per Desember 2025. Wali Kota Kendari menegaskan tidak boleh ada tambahan kasus baru dan meminta seluruh dinas terkait bekerja ekstra dan terintegrasi.

“Yang 12 ribu ini kita jaga supaya tidak terjadi kasus baru. Yang 500-an kasus yang sudah ada ini kita pantau supaya kondisinya membaik,” tegas Wali Kota Kendari usai rapat koordinasi yang berlangsung di Aula Samaturu Balai Kota Kendari, Rabu, (04/02/2026).

Bacaan Lainnya
Data jumlah Balita Stunting kota Kendari Januari-Desember 2025

Wali kota menekankan pentingnya penguatan traking, identifikasi, dan penanganan stunting secara menyeluruh. Ia juga menginstruksikan Sekretaris Daerah Kota Kendari selaku Ketua Satgas Stunting bersama 12 dinas terintegrasi untuk bertindak cepat dan terukur.

“Stunting ini program nasional, jangan main-main mengurusnya. Target zero stunting tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Kendari, jumlah kasus stunting per Desember 2025 mencapai 462 anak, meningkat dua kasus dibandingkan November 2025 yang tercatat 460 anak. Kenaikan tersebut terjadi setelah adanya balita yang mengikuti pemantauan di posyandu.

Presentasi penanganan stunting Kota Kendari, disebutkan total balita tercatat sebanyak 30.310 anak, dengan 26.782 anak atau 88,36 persen telah diukur. Dari jumlah tersebut, prevalensi stunting Kota Kendari berada di angka 1,73 persen.

Adapun kecamatan dengan prevalensi stunting tertinggi yakni Kendari Barat melalui Puskesmas Benu-Benua sebesar 5,57 persen, disusul Kecamatan Kendari (Puskesmas Nambo) 3,23 persen, dan Kendari Barat (Puskesmas Kemaraya) 2,97 persen. Sementara prevalensi terendah tercatat di Kecamatan Kadia (Puskesmas Jati Raya) 0,27 persen, Poasia 0,49 persen, dan Baruga 0,55 persen.

Sementara ituKepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk KB) Kota Kendari, Jahuddin, yang ditemui usai mengikuti rapat menyatakan optimisme bahwa angka stunting di Kota Kendari dapat terus ditekan.

“Sebagaimana disampaikan Ibu Wali Kota, kita punya data balita berisiko sekitar 12 ribu. Ini yang akan menjadi fokus utama intervensi,” kata Jahuddin.

Ia menambahkan, penanganan akan dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor dengan intervensi spesifik dan sensitif, sesuai kondisi masing-masing wilayah. Rapat lanjutan bersama seluruh pemangku kepentingan dijadwalkan digelar untuk merumuskan langkah konkret percepatan penanganan stunting di Kota Kendari.

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Penulis: Hani
Editor: UL

Pos terkait