Kendari, Sultrademo.co – Desa Suka Damai, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara, kini menjelma jadi contoh nyata kehidupan rukun di tengah perbedaan.
Potret kerukunan itu diangkat lewat peluncuran video dokumenter bertajuk Desa Sadar Kerukunan yang digelar di Aula Kanwil Kemenag Sultra, Senin malam (21/4/2025).
Peluncuran ini dihadiri Wakil Gubernur Sultra Hugua, Kakanwil Kemenag Sultra Muhamad Saleh, hingga Bupati Muna Barat La Ode Darwin. Kegiatan ini sekaligus menjadi pembuka acara Orientasi Deteksi Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan tingkat provinsi.
Acara juga diramaikan kehadiran berbagai unsur penting daerah, mulai dari Forkopimda, pengurus FKUB, pimpinan ormas keagamaan seperti MUI dan PWNU, hingga tokoh masyarakat dan agama.
Kakanwil Kemenag Sultra, Muhamad Saleh, menyebut Desa Suka Damai sebagai bukti bahwa kerukunan bukan sekadar slogan.
“Masyarakat di sana hidup rukun, saling membantu tanpa memandang agama atau latar belakang. Ini jadi contoh nyata toleransi yang tumbuh dari akar rumput,” ujarnya.
Video dokumenter ini merupakan bagian dari Program Kampanye dan Publikasi Kerukunan yang mengusung tagline “Kita Beda Tapi Rukun”. Program ini bertujuan mengajak masyarakat melihat perdamaian sebagai nilai yang lahir dari desa-desa, bukan hanya dari kota besar.
“Ini bukan sekadar tontonan. Ini cerita nyata. Perbedaan bukan penghalang, tapi kekuatan bila dijaga dengan nilai-nilai kemanusiaan,” tegas Saleh.
Sementara itu, Wagub Sultra Hugua mengaku bangga atas pencapaian Desa Suka Damai. Menurutnya, desa ini bisa jadi rujukan nasional soal bagaimana menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.
“Desa ini mencerminkan semangat kolektif menjaga kebhinekaan. Indonesia bisa damai kalau dimulai dari desa-desa seperti ini,” kata Hugua.
Ia berharap video ini bisa jadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk memperkuat toleransi dan kerja sama antarumat beragama.
Peluncuran video dokumenter ini jadi langkah strategis Kemenag Sultra dalam menyebarluaskan praktik baik dalam membangun perdamaian sosial. Harapannya, semakin banyak desa yang menjadikan toleransi sebagai budaya hidup.
“Kerukunan adalah warisan terbaik untuk generasi mendatang,” tutup Saleh.
Laporan: Arini Triana Suci R
Editor: Muhammad Sulhijah








