Kendari, Sultrademo.co — Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari mulai menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) pada 9–13 Februari 2026 untuk menahan lonjakan harga bahan pokok menjelang Ramadan. Menariknya, program stabilisasi harga ini tetap berjalan meski tanpa dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dengan melibatkan puluhan mitra, distributor, dan pelaku UMKM pangan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari, Abd Rauf, mengatakan pelaksanaan GPM awal tahun ini sepenuhnya ditopang kolaborasi berbagai pihak, di antaranya Kadin Sultra, Kadin Kendari, Bank Indonesia, Baznas, PT Sosro, PT Kalbe, hingga TNI melalui program TMMD.
“Sebanyak 22 distributor dan sekitar 20 UMKM pangan ikut terlibat. Jadi kegiatan ini bisa tetap berjalan walaupun tanpa APBD,” kata Abd Rauf saat kegiatan pembukaan, Senin (9/2/2026).
Dalam GPM, masyarakat bisa membeli sejumlah komoditas pokok dengan harga lebih rendah dari pasaran. Beras menjadi komoditas utama, disusul bawang merah dijual sekitar Rp35–40 ribu per kilogram, bawang putih Rp40 ribu per kilogram, serta telur ayam Rp56 ribu per rak.Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan sosial sebesar Rp400 ribu kepada 100 kepala keluarga miskin.
Abd Rauf menegaskan kehadiran pangan murah di berbagai titik kota menjadi strategi pengendalian harga sekaligus mencegah kepanikan belanja masyarakat.
“Kalau pangan murah sering hadir di sudut kota, tekanan harga di pasar bisa terkendali. Masyarakat tidak harus berbondong-bondong ke pasar karena kebutuhan pokok sudah tersedia di dekat mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan GPM terbuka bagi seluruh warga tanpa membedakan latar belakang. Program ini ditujukan menjaga stabilitas harga secara menyeluruh serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
“Kalau pangannya hadir, energinya pasti bangkit. Ini soal kebutuhan dasar,” katanya.
Sementara itu, Asisten I Setda Kota Kendari, Adriana Musarudin, yang mewakili Wali Kota Kendari mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah konkret pemerintah daerah mengantisipasi lonjakan permintaan bahan pokok menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
Menurutnya, peningkatan konsumsi masyarakat setiap Ramadan berpotensi memicu kenaikan harga dan menurunkan daya beli, terutama bagi kelompok rentan.
“Karena itu pemerintah kota melakukan langkah konkret dan terukur melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah,” ujarnya.
Ia mengungkapkan sepanjang 2025 Pemkot Kendari telah melaksanakan 120 kali GPM. Pada 2026, kegiatan ini ditargetkan meningkat menjadi 150 kali, dengan 20 kali pelaksanaan sudah dilakukan sepanjang Januari.Program tersebut, lanjut Adriana, merupakan wujud kehadiran pemerintah dalam memastikan ketersediaan pangan, keterjangkauan harga, serta kelancaran distribusi sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang.
Pemkot Kendari juga menegaskan GPM menjadi salah satu instrumen pengendalian inflasi daerah. Ke depan, pemerintah berkomitmen memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan produksi lokal, penguatan cadangan pangan, serta pengawasan distribusi dan harga di pasar.
Kegiatan pembukaan ditutup dengan peninjauan stan pangan dan produk UMKM. Pemerintah memastikan program serupa akan terus digelar di berbagai titik kota sebagai strategi pengendalian inflasi sekaligus penguatan ketahanan pangan masyarakat menjelang Ramadan.











