Hina Suku Tolaki, Pelaku di Proses Melalui Ritual Adat ” Mosehe Wonua”

  • Whatsapp

Kendari, Sultrademo.co -Terkait adanya tindakan penghinaan suku Tolaki yang dilakukan oleh Adril di media sosial Facebook, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Lembaga Adat Tolaki (LAT) melakukan ritual Mosehe Wonua (Pensucian Negeri) di Kantor DPP LAT Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa (1/9/2020).

Ketua Umum Lembaga Adat Tolaki Sultra Drs. H. Masyhur Masie Abunawas, M.Si, menjelaskan, pelaksanaan ritual adat mosehe maksudnya permintaan maaf dan penyelesaian dari pada masalah yang timbul akibat adanya penghinaan Suku Tolaki melalui media sosial Facebook (FB).

Bacaan Lainnya

“Pelaku penghinaan suku Tolaki atas nama Adril sendiri telah datang memohon maaf pada Suku Tolaki melalui DPP LAT,” Ujarnya, saat diwawancarai oleh awak media.

Hukuman yang harus dilaksanakan yaitu pihak pelaku harus menyiapkan satu ekor kerbau atau sapi.

“Jika ia tidak meminta maaf dan tidak dilakukan ritual mosehe, itu saya tidak tau saya punya adik-adik ini akan mengambil aturan sendiri tapi kami tahan dan sebelum ke polisi kita selesaikan secara adat itu ritualnya tadi, satu ekor sapi. Jadi, dengan adanya penyelesaian ini kami anggap sudah selesai,” Ucapnya.

Ia mengungkapkan, masih banyak penghinaan melecehkan Suku Tolaki yang semuanya sudah dilaporkan ke Polda dan Polres.

“Masalahnya setelah dibedah, ternyata itu semua akun palsu, akunnya diretas kalau ini si pelaku betul-betul dia yang melakukan jadi kita berikan hukuman dan buatkan berita acara kami serahkan ke kepolisian supaya jangan terulang lagi,”terangnya.

Di tempat yang sama, Kasat Binmas Polres Kendari, AKP Yusuf Tawang, mengatakan, dirinya mengucapkan terima kasih kepada DPP LAT dengan bijak telah menyelesaikan secara kekeluargaan secara hukum adat Suku Tolaki.

“Kepada suku-suku lain, baik yang ada di Kota Kendari untuk tidak lagi saling menghina antar suku, karena salah satu bentuk radikal yang bisa berpotensi terjadinya konflik sosial, di sila ke tiga Persatuan Indonesia sudah jelas persatuan Indonesia kita nasionalis baik dalam individu maupun dalam bermasyarakat,”jelasnya, saat menghadiri ritual “Mosehe Wanua“.

Sementara itu, Ketua Hukum dan HAM, Humas DPP LAT Khalid Usman, SH., Mh mengimbau, kepada masyarakat umum, untuk tidak melakukan sebuah tindakan di media sosial atau menulis sesuatu yang tidak menyenangkan atau menghina kelompok atau masyarakat secara umum.

“Kita dalam Bhineka Tunggal Ika kita adalah NKRI kita harus bersatu jangan lagi saling menghina, “Ujarnya.

Ia menjelaskan, pasal yang disangkakan yakni undang-undang pasal 28 dengan kitab undang hukum pidana tentang penghinaan suatu suku atau ras.

“Dengan perbuatan saudara Adril, bisa dikenakan tentang isu SARA dan hukumannya berat bisa mencapai 15 tahun sehingga setelah adanya prosesi hukum adat diberlakukan sapi menjadi simbol keselamatan nyawanya terhadap penghinaan Suku Tolaki,” Pungkasnya.

Laporan : Ilfa
Editor : MA

Pos terkait