Take a fresh look at your lifestyle.
Iklan Tanah

IAI Dinilai Tak Bertaring Kawal RUU Kefarmasian

Kendari, Sultrademo.co – Saat ini, frofesi Farmasi dinilai miskin kepercayaan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Banyak persoalan yang dihadapi profesi farmasi, namun sampai hari ini belum dilirik oleh pemerintah, dan dilindungi secara hukum seperti beberapa profesi lainnya.

Hal itu dikatakan Ketua Pergerakan Mahasiswa Farmasi Sultra, Awal Rafiul. Kata dia, Organisasi Profesi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) begitu lemah dan tidak ikut memperjuangkan profesi farmasi itu sendiri.

“Dimana organisasi yang melindungi seluruh apoteker namun sampai hari ini tidak ada tindakan ataupun usaha untuk memperjuangkan Rancangan Undang Undang Kefarmasian, terlihat jelas dimana hasil yang dikeluarkan Oleh DPR RI tentang RUU KEFARMASIAN tercover dalam RUU Omnibus Law,” sindirnya.

Ia menambahkan, sejauh ini belum ada tindakan atau bentuk advokasi yang serius IAI atas keputusan DPR RI.

“Selain persoalan payung hukum kefarmasian yaitu RUU Kefarmasian, ada juga keputusan Menteri kesehatan yang mengeluarkan PMK NO. 3 Tahun 2020 yang sangat melecehkan profesi kefarmasian yang dimana profesi kefarmasian disamakan derajatnya dengan tukang loundry yang ada di puskesmas,” keluhnya saat di temui di salah satu warung Kopi di Kota Kendari. Sabtu 15/2.

Dalam pernyataan Menteri Kesehatan, sambung dia, tidak mencerminkan sebagai pejabat negara dan tidak paham tentang kesehatan, mentri menyebut farmasi itu sebagai profesi non medis alias tidak bersentuhan langsung dengan pasien.

“Jadi yang meberikan obat dan konsultasi tentang obat itu siapa, saya berharap IAI Sulawesi Tengara harus menyikapi persoalan ini dan harus ikut terlibat dalam memperjuangkan RUU Kefarmasian,” tutupnya.

Laporan : Irfan
Editor : Adin

Komentar FB

Send this to a friend