Teheran, Sultrademo.co – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, melontarkan ancaman keras terhadap Teheran. Ia menyatakan siap menggempur pembangkit listrik hingga jembatan jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Menanggapi ancaman tersebut, pemerintah Iran melalui Kementerian Olahraga dan Pemuda mengajak generasi muda turun langsung menjaga fasilitas vital negara. Mereka diminta membentuk rantai manusia di sekitar pembangkit listrik sebagai bentuk perlindungan simbolik.
Seruan ini disampaikan Wakil Menteri Urusan Pemuda Iran, Alireza Rahimi. Ia menegaskan bahwa gagasan aksi tersebut justru datang dari kalangan muda sendiri.
“Aksi ini (perisai rantai manusia) dibentuk atas saran dari kaum muda itu sendiri,” kata Rahimi dalam pesan video.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa, seniman, hingga organisasi kepemudaan mengusulkan pembentukan lingkaran manusia di sekitar objek vital negara.
“Sejumlah pemuda universitas, seniman muda, dan organisasi pemuda mengusulkan agar kita membentuk lingkaran manusia atau rantai manusia di sekitar pembangkit listrik negara,” ujarnya.
“Kami berharap dengan partisipasi kaum muda di seluruh negeri, rantai manusia ini akan terbentuk di sekitar pembangkit listrik, dan itu akan menjadi tanda komitmen kaum muda untuk melindungi infrastruktur negara dan membangun masa depan yang cerah,” imbuhnya.
Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung pada Selasa (7/4/2026) pukul 14.00 waktu setempat, hanya beberapa jam sebelum tenggat ultimatum dari Trump berakhir.
Di sisi lain, Trump memperluas ancamannya tidak hanya pada fasilitas energi, tetapi juga infrastruktur penting lain. Ia bahkan menyebut potensi kehancuran besar dalam waktu singkat.
“Seluruh negara dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam,” kata Trump seperti dikutip dari Reuters.
Ia juga menegaskan bahwa ultimatum tersebut bersifat final setelah sebelumnya beberapa kali diperpanjang.
“Setiap jembatan di Iran akan hancur pada pukul 24.00 malam besok,” katanya. “Dan semua pembangkit listrik akan terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi.”
Saat ditanya mengenai potensi tuduhan kejahatan perang, Trump menjawab tegas, “Tidak, sama sekali tidak.”
Trump bahkan mengklaim bahwa sebagian warga Iran menginginkan tindakan tersebut demi perubahan politik di negaranya.
“Warga Iran bersedia menderita demi kebebasan,” katanya.
Namun demikian, situasi di dalam negeri Iran belum menunjukkan adanya gelombang pemberontakan. Warga justru dilaporkan berlindung dari serangan udara yang melibatkan AS dan sekutunya, termasuk Israel.
Di tengah tekanan militer, Iran tetap menolak proposal gencatan senjata sementara selama 45 hari. Teheran mengajukan versi sendiri berupa rencana 10 poin melalui mediator utama, Pakistan.
Perwakilan diplomatik Iran di Kairo, Mojtaba Ferdousi Pour, menegaskan sikap negaranya.
“Kami hanya menerima pengakhiran perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi,” katanya kepada Associated Press.
Ia juga menyebut Iran kehilangan kepercayaan terhadap pemerintahan Trump setelah dua kali serangan terjadi di tengah proses negosiasi sebelumnya.
Meski situasi memanas, jalur diplomasi disebut masih terbuka. Seorang pejabat regional yang terlibat dalam perundingan menyatakan komunikasi antara kedua pihak masih berlangsung, meski dilakukan secara tertutup.
“Kami masih berbicara dengan kedua belah pihak,” ujarnya.






