Menanti Rektor UHO yang Berani Meninggalkan “Tradisi Jam Lima Sore”

Ketgam : Universitas Halu Oleo. Foto: Internet

Kendari, Sultrademo.co — Kuliah inspiratif Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian, di hadapan para Wakil Rektor se-Indonesia baru-baru ini, menggema hingga ke pelosok kampus. Bukan sekadar bicara tentang target Indonesia menjadi negara maju, tetapi tentang mentalitas kerja yang menjadi penghalang utama: mentalitas jam lima sore.

Sebuah istilah yang sederhana, namun menggigit. Karena ia menggambarkan dengan telak budaya kerja yang berhenti ketika jam kantor usai, sementara dunia luar terus berlari mengejar inovasi.

Bacaan Lainnya
 

Peringatan Prof. Brian itu menjadi relevan ketika Universitas Halu Oleo (UHO) bersiap menghadapi pemilihan rektor tahun 2026. Di tengah semangat membangun kampus sebagai pusat riset dan inovasi, pertanyaan mendasar pun muncul: apakah calon-calon rektor UHO siap meninggalkan “tradisi jam lima sore”?

Dalam kuliahnya di ITS Surabaya, Prof. Brian menegaskan bahwa negara maju hanya lahir dari industri yang kuat, dan industri yang kuat hanya lahir dari kampus yang produktif. “Dosen yang hebat,” katanya, “adalah dosen yang menerima royalti dari hasil penelitiannya.”

Pernyataan itu bukan sekadar motivasi, melainkan tuntutan zaman. UHO, sebagai universitas terbesar di Sulawesi Tenggara, kini dihadapkan pada pilihan: tetap nyaman dengan tradisi administratif yang berulang, atau bertransformasi menjadi universitas berbasis riset yang berorientasi pada solusi industri dan inovasi.

Pemimpin UHO berikutnya harus memahami bahwa riset tidak lagi cukup berhenti di jurnal atau seminar. Ia harus bernilai ekonomi, sosial, dan teknologi. Kampus harus hadir di ruang-ruang nyata: pabrik, kawasan industri, dan bahkan ruang kebijakan publik.

Semangat “jam sembilan malam” yang disinggung Prof. Brian menggambarkan etos kerja luar biasa dari negara-negara maju seperti Korea Selatan. Di sana, mahasiswa dan dosen masih bergelut di laboratorium hingga malam demi kemajuan ilmu pengetahuan.

Sebuah kontras dengan sebagian kampus di Indonesia yang aktivitas akademiknya kerap berakhir saat matahari terbenam.
Pemilihan Rektor UHO 2026 mestinya menjadi momentum untuk menguji siapa yang benar-benar siap mengubah kultur itu. UHO tidak membutuhkan pemimpin seremonial, melainkan rektor visioner yang berani menantang kenyamanan, membuka pintu kolaborasi lintas sektor, dan menempatkan riset sebagai jantung kemajuan kampus.

Prof. Brian menyebut para pemimpin kampus sebagai panglima industri. Kantor mereka, katanya, “bukan di dalam kampus, tapi di luar: di pabrik, di ruang rapat Kadin, di kementerian.”

Spirit ini sejatinya cocok untuk UHO yang memiliki potensi besar dalam bidang kelautan, pertanian tropis, dan energi. Dengan kepemimpinan yang progresif, UHO bisa menjadi pusat inovasi regional bukan hanya menyiapkan lulusan pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja berbasis sains dan teknologi.

Pemilihan rektor mendatang bukan sekadar rutinitas lima tahunan. Ini adalah pertarungan gagasan antara kenyamanan dan keberanian, antara “jam lima sore” dan “jam sembilan malam.”
Jika UHO berani memilih pemimpin dengan semangat jam sembilan malam, maka kampus ini bukan hanya menjadi kebanggaan Sulawesi Tenggara, tetapi juga penopang nyata bagi mimpi besar Indonesia menjadi negara maju.

Laporan: Arini Triana Suci R
Editor : UL

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait