Mencari Oposisi Solutif

  • Whatsapp

Oleh : Laode Rahmat Apiti (Dir.  Aman Center)

Pemerintahan yang demokratis mensyaratkan terjadinya mekanisme chek and balances. Ruang partisipasi publik harus dibuka seluas luasnya, berbagai gagasan dan aspirasi masyarakat harus menjadi “amunisi” untuk memperbaiki kondisi yang belum sempurna.

Bacaan Lainnya

Oposisi dalam pemerintahan menjadi prasyarat mutlak untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Oposisi baik di parlemen maupun di luar parlemen diharapkan bisa memberi kontrol terhadap jalannya pemerintahan sehingga berbagai kebijakan publik tidak menimbulkan “kepanikan” di tengah masyarakat.

Oposisi yang cerdas yakni oposisi yang bisa diajak berdialog atau berdialektika dengan berbagai pihak bukan oposisi yang mengedepankan bahasa propaganda yang bila ditelaa lebih jauh bahasa – bahasa yang dilontarkan hanya pesan kosong, dan lebih fatalnya mencopy paste gagasan pihak lain sehingga oposi seperti ini hanya mencari sensasi serta bergaining dan atau oposisi cari posisi karena mengalam sindrom of power.

Semenjak reformasi, munculnya oposisi tidak bisa dibendung baik oposisi tematik atau paradigmatik maupun oposisi kaleng-kaleng. Bahkan di Sulawesi Tenggara pun kelahiran oposisi bagaikan cendawan di musim hujan yang biasanya kelahiran organ-organ oposisi dimotori oleh aktifis aktfis “veteran” yang kalah bertarung diberbagi ruang politik.

Menurut hemat penulis fenomena oposisi di Sultra ada beberapa kategori.

Pertama, oposisi cari posisi, oposisi jenis ini biasanya dimotori oleh aktvis yang pernah merasakan kursi kekuasan namun karena putaran waktu terdegradasi oleh kekuasaan sehingga pensiun dini dari lingkaran kekuasaan. Ciri khas dari oposisi seperti ini getol melakukan agitasi bila targetnya belum tercapai bahkan sok cerdas serta sok suci bagaikan “ahli” surga namun bila target suda terwujud suda mendapatkan posisi “basa” akan menjadi anak manis dihadapan penguasa. Fenomena yang sangat menjijikan.

Kedua oposisi oplosan. Ciri khas dari oposisi seperti ini bagaikan penjual obat di kaki lima. Melakukan kritik tanpa disertai dengan gagasan yang paradigmatik dan apapun yang dilakukan pemerintah dianggap salah bahkan kelompok mereka yang dianggap benar lebih parah nya kelompok seperti ini anti kritik bahkan lebih feodal dari firaun. “Oposisi” seperti ini biasanya dimotori oleh beberapa kelompok misalnya pengusaha dan atau kontraktor tidak perna mendapatkan “jata” proyek, Pejabat yang non job. Aktvis yang sindrom kekuasaan.

Ketiga, oposisi kaleng-kaleng, oposisi seperti ini kerjanya meneriakan kegagalan pemerintahan namun tanpa ide dan konsep jangka panjang. Teriakan dan gerakan sporadis menjadi ciri khas dengan berbekal spanduk, megaphone, dan pers reles melakukan advokasi namun ketika dimintai solusi akan mengalami kegagapan bahnkan parahya lagi apa yang disampaikan merupakan “orderan” pihak tertentu.

Tiga fenomena diatas merupakan hasil pemetaan penulis dalam mengamati “oposisi” di Sultra. Oposisi yang diharapkan menjadi pengontrol kekuasaan tidak bisa diharapkan lagi karena oposisi yang lahir dijaman “milenial” justru menjadi “polusi” demokrasi dan atau sampah politik karena saat ini oposisi lahir untuk mencari keuntungan politik dan ekonomi.

Kedepan kita berharap ada oposisi yang lahir dari kekuatan masyarakat, oposisi yang cerdas, memiliki agenda agenda terstruktur dan transformatif serta tidak tergoda degan aroma kekuasaan.
oposisi solutif menjadi harapan masyarakat yang melakukan kritik berangkat dari berbagai kajian akademik serta visioner.

Melacurkan diri menjadi oposisi setelah berada diluar kekuasaan, sangat naif karena suara suara “kritis” yang dilahirkan akan menjadi bahan cibirian karena menjadi “pelacur” politik sama dengan “yahudi” jaman milenial.

  • Whatsapp

Pos terkait