Penceramah, Saintis, dan ‘Ulama’

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si*

Sudah pernah membaca kisah sopir Einstein? Fiksi atau nonfiksi, kisah itu memiliki makna yang sangat penting, terutama untuk melakukan otokritik dalam dunia intelektual atau dalam istilah keilmuan Islam adalah keulamaan. Karena itu, akan saya ulang di sini untuk memastikan alurnya.

Bacaan Lainnya

Suatu ketika, Einstein mendapatkan undangan seminar di sebuah kota. Namun, hari itu, ia sedang dalam keadaan sakit. Di perjalanan, dia menyampaikan keadaannya itu kepada sopirnya; bahwa kepalanya pusing karena kelelahan dan tenggorokannya serasa tersumbat karena mengalami peradangan, sehingga akan sulit menyampaikan ceramah sebagaimana biasanya. Mendengar itu, sopirnya memberikan jawaban yang mengejutkan: “Saya akan menyelamatkan Anda dari masalah ini, Profesor. Jangan khawatir. Saya telah mengikuti lebih dari 20 kali ceramah Anda tentang relativitas, sampai saya menghafalnya dengan baik. Saya bisa menyampaikannya persis seperti yang Anda sampaikan dan kita tidak perlu khawatir, karena tidak ada seorang pun di kota ini yang mengenal Anda.” Singkat cerita, Einstein pun setuju dan berkata: “Ide yang sangat cemerlang. Dan saya akan menyetir mobil pada saat tempat penyelenggaraan ceramah sudah dekat”.

Sopir Einstein melakukan tugasnya dengan sangat baik. Eisntein pun berdecak kagum, sampai-sampai sakitnya terlupakan dan hilang. Namun, tibalah saat yang tidak diinginkan. Sesi tanya jawab dibuka. Tentu saja muncul pertanyaan yang tidak mungkin bisa dijawab oleh sang sopir. Namun, di luar dugaan Einstein, dalam keadaan yang Einstein menjadi cukup tegang itu, sopirnya menjawab: “Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya tidak bisa menyampaikan konsepsi ini dengan baik. Namun, saya sudah menyampaikan ini berkali-kali, sampai-sampai sopir pribadi saya pun bisa memahaminya dengan sangat baik dan akan mampu menjawabnya.” Audiens pun memberikan tepuk tangan membahana ketika penceramah di atas panggung mempersilakan orang yang tadi datang ke lokasi sebagai sopir. Hanya saja dia berpesan:

“Hadirin jangan terlalu banyak bertanya, karena dia sedang dalam keadaan sakit hari ini”. Setiap pertanyaan dijawab dengan sangat memuaskan dan usai acara, audiens menjadi bingung karena hari itu mereka melihat ada “dua Einstein”.

Cerita ini sangat penting untuk menuntun kita membedakan antara penceramah, saintis, dan ulama’, juga segala turunan dari ketiganya. Ketidakmampuan mengidentifikasi ketiga kategori dengan segala turunannya tersebut bisa menyebabkan tertipu; bahkan bisa dimanfaatkan, sehingga bisa mengalami kerugian, baik material maupun immaterial. Tertipu dalam bentuk sekedar materi bisa dimasukkan dalam kategori besar. Dan tertipu karena pemahaman yang keliru, bisa menyebabkan kerugian yang sangat besar, bukan saja di dunia, tetapi juga di akhirat.

Kisah Eisntein dan sopirnya di atas akan lebih memudahkan untuk memahami tulisan yang menguraikan perbedaan antara penceramah, saintis, dan ulama’ dan segala turunannya ini. Dan tulisan ini berusaha untuk memberikan perspektif dekonstruktif terhadap miskonsepsi yang selama ini terjadi.

Penceramah adalah orang yang memiliki kemampuan retorika yang baik untuk menyampaikan sebuah konsepsi atau pemahaman yang dihasilkan oleh orang lain, tetapi ia sendiri sesungguhnya tidak mampu untuk melakukan verifikasi terhadap pemahaman yang ia tangkap. Penceraman hanyalah orang yang memiliki kemampuan menangkap sebuah konsep atau tema secara apa adanya, sehingga yang disampaikan sesungguhnya hanyalah pengulangan tentang apa yang sudah pernah disampaikan, bahkan diulang-ulang oleh orang-orang lain sebelumnya. Tidak ada sesuatu yang baru yang bisa diharapkan dari seorang penceramah ini. Para penceramah tidak memiliki kapasitas untuk melakukan riset untuk menemukan sesuatu yang baru. Ia sesungguhnya tak lebih hanya alat rekam hidup saja dengan tambahan cerita-cerita atau ungkapan-ungkapan yang terkadang lucu yang membuat para pendengar menjadi terhibur. Karena itulah, anak kecil yang cakap mengingat dan menyampaikan ulang pun bisa menjadi penceramah yang mengagumkan.

Dalam tradisi Yunani Kuno, dikenal istilah sofis untuk menyebut ahli retorika. Tujuan sofis bukanlah kebenaran, melainkan terlihat hebat dan mampu mengalahkan lawan bicara. Levelnya mungkin sedikit di atas sekedar penceramah. Namun, karena orientasinya tidak sampai pada pencarian kebenaran, maka nilainya bisa dianggap sama. Di masa Arab pra Islam dikenal para pujangga atau penya’ir. Mereka merangkai kalimat yang sangat indah, terutama dalam rama. Yang terpenting adalah orang yang mendengarkan terpesona karena efek suara disebabkan oleh huruf dan pelafalan yang sama. Namun, sesungguhnya sang pujangga tidak memahami apa isi kalimat-kalimat indah yang mereka buat sendiri. Karena itulah, al-Qur’an mengkritik mereka sebagai orang yang sesungguhnya mengalami kebingungan.

Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (al-Syu’ara’: 224-227)

Namun, al-Qur’an kemudian memberikan perspektif baru mengenai penyair dengan tambahan variabel iman di dalam dirinya. Jika sang pujangga beriman dengan benar, maka gubahan puisinya akan memiliki nilai yang berbeda, karena di dalamnya terdapat perspektif yang jauh lebih jauh ke depan dan mendalam. Sama-sama memiliki rima yang baik, tetapi memiliki nilai lebih berupa perspektif yang tidak hanya duniawi, tetapi juga ukhrawi. Membicarakan bukan hanya yang nampak saja, tetapi juga yang tidak nampak.

Saintis adalah orang yang memiliki fokus untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi tidak terikat nilai apa pun. Karena itulah, dalam filsafat ilmu, ilmu pengetahuan disebut sebagai bebas nilai. Ia tidak memiliki agama dan afiliasi politik. Awalnya, definisi saintis hanya mencakup orang yang menguasai disiplin ilmu alam. Namun, ia kemudian meluas mencakup juga ilmu-ilmu sosial. Seorang saintis bisa melakukan riset tentang apa saja. Karena kemampuan melakukan riset, saintis bisa menghasilkan sesuatu atau temuan baru. Hasil riset itu bisa digunakan untuk keperluan apa saja yang relevan, termasuk untuk keperluan yang bersifat murni duniawi, di antaranya untuk mendapatkan keuntungan material. Para saintis pada umumnya adalah orang yang memiliki kecerdasan yang sangat spesifik. Einstein misalnya, hanya memiliki kecerdasan menonjol di bidang fisika dan matematika. Kemampuan umumnya bahkan di bawah standar yang membuatnya pernah tidak diterima di perguruan tinggi. Kemampuan spesifiknya di bidang matematika dan fisika yang kemudian disalurkan secara tepat, mengantarkannya menjadi ilmuan yang masuk dalam kategori paling berpengaruh di seluruh dunia.

Ulama’ adalah orang yang memiliki pemahaman yang baik kepada al-Qur’an dan hadits, dan dengan modal itu melakukan penelitian secara saintifik. Dengan demikian, seorang ulama’ pastilah seorang saintis. Dengan kata lain, ulama’ adalah saintis yang mendasarkan atau setidaknya mengkorelasikan ilmu pengetahuannya dengan ajaran-ajaran Islam. Bahkan ajaran-ajaran Islam menjadi sumber inspirasi untuk mengembangkan sains dan teknologi, atau menemukan sesuatu yang baru. Untuk mendapatkan pengetahuan, ada tiga metode yang bisa ditempuh, yaitu: bayani, burhani, dan ‘irfani. Sesungguhnya ini belum cukup. Seorang baru benar-benar bisa disebut sebagai ulama’ apabila ilmu yang dipahami benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan diperjuangkan dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam kehidupan bernegara, maupun minimal kehidupan bermasyarakat. Dan implikasi dari pengetahuannya itu adalah rasa “takut” kepada Allah Swt.. Rasa takut yang dimaksud di sini adalah dorongan untuk menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Allah.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Fathir: 28)

Banyak orang terkecoh karena menganggap penceramah atau saintis sebagai ulama’. Karena kesadaran moral yang lahir dari nilai ajaran yang dipahami oleh penceramah tidak sekuat ulama’, maka tidak mengherankan jika tidak sedikit penceramah hanya bisa bicara tetapi dia sendiri tidak melakukannya. Itulah yang menyebabkan al-Qur’an melakukan kritik keras kepada para penyair. Sebab, mereka memproduksi kalimat-kalimat yang indah memesona, tetapi mereka sendiri tidak tahu apa sesungguhnya makna ungkapan yang mereka ciptakan itu.

Namun, ulama’ dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ulama’ akhirat dan ulama’ dunia. Al-Ghazali telah membuat kategori ini di dalam kitab Ihya’ Ulum al-Dîn. Ulama’ akhirat adalah ulama’ yang menjadikan ilmu yang dikuasai dan berbagai temuan yang dihasilkan diorientasikan untuk mendapatkan ridla Allah. Sedangkan ulama’ dunia menjadikan ilmu yang dikuasai untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Namun, mereka ini biasanya menggunakan berbagai cara untuk menutupi orientasi duniawi ini. Karena motivasi duniawi ini, mereka tidak melakukan usaha yang serius untuk mencerdaskan kehidupan umat. Sebab, jika umat menjadi cerdas, maka motivasi duniawi mereka akan teridentifikasi. Dalam konteks ini, ulama’ duniawi mengalami degradasi derajat.

Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan jumlah orang yang tertipu akan bisa diminimalisir. Sebaliknya, jumlah orang yang mengikuti ulama’ sejati diharapkan bisa bertambah. Masalah penipuan dengan memanipulasi ilmu dan pengetahuan ini sudah terjadi sejak lama. Dalam tradisi keagamaan yang diungkapan oleh al-Qur’an, itu sudah terjadi pada kalangan elite Yahudi dan juga Nashrani. Karena itu, usianya sangat bisa jadi lebih tua lagi. Terlebih kalau dibuka referensi-referensi filsafat Yunani Kuno. Penipuan dengan kedok filsafat sudah terjadi saat itu. Pada saat itu, di samping dikenal para filsuf yang menyampaikan kebenaran dengan segala kriterianya, juga dikenal para sofis yang menjadikan ilmu mereka sebagai bahan jualan keliling. Mereka mengajarkan retorika kepada para politisi untuk memenangkan perdebatan. Benar atau tidak benar bukan tujuan, melaikankan keuntungan material. Maka tidak perlu heran jika saat ini tidak sedikit pemakai jubah, surban, dan berbagai atribut luar keulama’an, sesungguhnya adalah sekedar penjual bahan-bahan spiritual. Wallahu a’lam bi al-shawab.

*) Penulis : Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Mlagen Pamotan Rembang, Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang; Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI

Pos terkait