Kendari, Sultrademo.co – Komisaris PT. Rantai Emas Bersaudara (REB), Andriani Porosi melaporkan pengacara Azwar Anas Muhammad (AAM), SH ke Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan dugaan penipuan dan penggelapan uang. 

Kebenaran laporan tersebut dikuatkan melalui laporan polisi bernomor : LP/306/VII/2020/SPKT POLDA SULTRA, atas dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan, sebagaimana diatur dalam UU nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal 378 KUHP, dan Pasal 372 KUHP.

Andriani Porosi mengatakan, bahwa aksi saling lapor tersebut berawal saat dirinya tengah menghadapi masalah dengan pihak lain. Kemudian, AAM menawarkan jasa untuk mencarikan lawyer atau pengacara.

“Saya tak ada niat melaporkan AAM ke ranah hukum, hal itu terpaksa dilakukan karena AAM sebelumnya sudah terlebih dahulu melaporkan saya dugaan pencemaran nama baik,”ungkap Andriani Porosi, Kamis (23/7).

Andriani memaparkan, dirinya menerima tawaran tersebut dan menanyakan biaya untuk jasa pengacara yang dimaksud. AAM kemudian menyampaikan bahwa biayanya Rp 5 juta, dan Andriani pun menyanggupi besaran biaya yang disebutkan.

“Kemudian, AAM ini menyampaikan bahwa lawyer yang dimaksud sudah ada atas nama DD. Jadi saudara AAM ini kemudian memfasilitasi dan menyampaikan kepada saya untuk berkomunikasi sendiri terkait dengan pembayaran atau honornya tadi yang 5 juta, saya kemudian berkomunikasi dengan DD dan menyampaikan bahwa honor yang lima juta tadi dibayar dulu Rp 3 juta via trasfer ke rekening DD,” ungkapnya.

AP mengatakan , pengacara DD mendampinginya ke Polda. Namun, tiba-tiba DD mencabut kuasanya. Tindakan pencabutan kuasa tersebut membuat AP kaget, dan dia tidak menjelaskan mengapa mencabut surat Kuasa tersebut.

“Saya konfirmasi ke AAM, bagaimana kelanjutan saya punya perkara ini, dan dia mengatakan bahwa dia akan mencarikan lagi lawyer yang lain tapi upahnya tetap sama, masih kelanjutan yang 5 juta tadi, kemudian dicarikanlah seorang lawyer atas nama RHH dan dialah yang melanjutkan kuasa,”ujarnya.

Baca Juga :  BNNP Sultra Kembali Musnahkan 1.002 Gram Narkotika Jenis Sabu

“Saat saya menanyakan terkait sisa biaya Rp 2 juta harus diserahkan ke siapa, AAM kemudian meminta agar dana yang dimaksud diserahkan kepada AAM,”tambahnya.

Sehingga, lanjut AAP uang jasa lawyer itu diserahkan kepada AAM saat bertemu di Polda. Setelah perkara berjalan, RHH curhat ke Andriani bahwa Ia hanya menerima Rp 1 juta.

“Saya kaget, selama ini kan pembicaraan kan Rp 5 juta. Saya merasa bahwa ada yang tidak benar, dan merasa kasian sama RHH ini, maka saya kasih dia Rp 3 juta. Jadi total yang keluar uangku sudah Rp 8 juta. Nah, setelah keluar Rp 3 juta itu, beberapa hari kemudian saya konfirmasi ke AAM mempertanyakan secara baik-baik, kenapa dia hanya berikan RHH Rp1 juta, dari situlah AAM merasa keberatan sampai tidak mengembalikan itu uang, karena saya merasa ditipu maka saya dilakukan upaya hukum,” ungkapnya.

Andriani mengaku, dirinya meminta penjelasan AAM sebenarnya dan menanyakan secara baik-baik. Tapi AAM memberikan jawaban dengan menyerang dirinya.

“Dia singgung soal pacarnya. Saya nda tau siapa pacarnya? yang saya tagih dan saya minta penjelasannya duitnya lawyer saya tapi dia serang saya, itu yang saya tidak suka. Tapi saya sebenarnya belum ambil keputusan apa-apa mau melapor atau apa, tapi karena dia lapor saya duluan terpaksa saya harus lapor,” jelasnya.

“Intinya, tidak ada lagi jalan mediasi saya nda mau karena saya sudah cukup baik dan dia pun tidak memiliki itikad baik,”tutupnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya di salah satu media, bahwa Azwar Anas Muhammad mengadukan Andriani Porosi ke Polda Sultra atas dugaan pencemaran nama baik. Karena diduga menulis status di media sosial yang bernada merusak kredibilitasnya sebagai pengacara.

Laporan : Ilfa

Editor : MA

Komentar