Kendari, Sultrademo.co — Wayang tidak sekadar pertunjukan tradisional, melainkan sarana pendidikan moral yang kian relevan di tengah era digital. Inilah pesan utama dalam acara pengukuhan Pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Sulawesi Tenggara (Sultra) masa bakti 2024–2029 yang digelar Sabtu malam, 10 Mei 2025, di Hotel Sahid Azizah Syariah Kendari.
Pemerintah Provinsi Sultra menegaskan komitmennya untuk mendukung pelestarian budaya lokal, khususnya seni pedalangan, yang kini menghadapi tantangan serius dari derasnya arus budaya global dan minimnya regenerasi dalang.
“Wayang bukan hanya seni, tetapi juga media edukasi yang mengajarkan nilai-nilai luhur kepada masyarakat. Ini harus diwariskan kepada generasi muda,” ujar Kepala Badan Kesbangpol Sultra, Adrian Nursalam, mewakili Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, yang berhalangan hadir.
Menurutnya, kehadiran Pepadi sangat penting dalam upaya merawat identitas budaya sekaligus menjadi wadah kreatif bagi lahirnya dalang-dalang muda dari kalangan milenial dan Gen Z.
Pemerintah, kata Adrian, siap menyediakan ruang dan dukungan kebijakan untuk memperkuat eksistensi seni pedalangan di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Sekjen DPP Pepadi, Ragil Radyo, menegaskan bahwa wayang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO sejak 2003, dan menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia di kancah global.
“Di Amerika Serikat, wayang dan gamelan sudah diajarkan di kampus-kampus. Tantangan kita saat ini adalah bagaimana membuatnya tetap menarik dan dekat dengan anak muda Indonesia sendiri,” katanya.
Karena itu, regenerasi menjadi kunci. Pepadi Sultra diharapkan tak sekadar menjaga tradisi, tetapi juga menjadi penggerak inovasi budaya misalnya, dengan mengembangkan pertunjukan wayang digital, kolaborasi dengan seniman muda, hingga menjadikan cerita pewayangan sebagai media kampanye nilai-nilai kebangsaan dan pembangunan daerah.
Pengukuhan kepengurusan ini juga menjadi momentum strategis untuk merancang program-program kebudayaan yang tidak hanya bersifat seremoni, tetapi berdampak langsung pada penguatan karakter masyarakat.
“Wayang bisa menjadi alat komunikasi pembangunan, bukan hanya hiburan semata. Kita bisa gunakan pertunjukan untuk menyampaikan pesan tentang antikorupsi, toleransi, hingga penguatan ekonomi kerakyatan,” tutup Adrian.
Laporan: Arini Triana Suci R








