Kendari, Sultrademo.co – Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, Asrun Lio, membuka kegiatan Safari Kisah Palestina yang dirangkaikan dengan Training for Trainer (TFT) bagi guru TK dan SD se-Kota Kendari, Rabu (4/3/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Koordinator Wilayah Sulawesi Tenggara tersebut diikuti ratusan guru TK dan SD. Hadir pula Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari.
Dalam sambutannya, Asrun Lio menyoroti tantangan global yang semakin kompleks. Ia menilai perkembangan teknologi yang pesat saat ini tidak selalu diiringi dengan penguatan nilai kemanusiaan.
“Kita hidup di era kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi di saat yang sama dunia juga menghadapi krisis empati. Pendidikan harus menjadi benteng agar anak-anak tumbuh dengan kepedulian dan rasa kemanusiaan yang kuat,” ujar Asrun.
Menurutnya, jenjang pendidikan usia dini hingga sekolah dasar merupakan fase penting dalam pembentukan karakter anak. Pada masa tersebut, nilai empati, solidaritas, dan kepedulian sosial perlu ditanamkan secara konsisten melalui pendekatan pembelajaran yang tepat.
Ia juga menekankan bahwa kepedulian sosial tidak hanya terbatas pada lingkungan sekitar, tetapi juga perlu diperluas hingga pada isu kemanusiaan global, termasuk memahami kondisi masyarakat di Palestina.
“Membantu Palestina bukan semata persoalan agama, tetapi juga amanat konstitusi. Dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Ini adalah panggilan kemanusiaan,” katanya.
Melalui kegiatan pelatihan tersebut, Asrun berharap para guru memperoleh metode yang aplikatif untuk menyampaikan kisah-kisah kemanusiaan kepada siswa secara inspiratif di kelas.
Ia mengingatkan agar narasi yang disampaikan kepada anak-anak tidak hanya menampilkan penderitaan, tetapi juga menghadirkan kisah ketangguhan, harapan, dan semangat perjuangan.
Lebih lanjut, ia mendorong agar dukungan terhadap isu kemanusiaan dapat terus dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi, doa, maupun aksi sosial yang terkoordinasi.
“Aspek terpenting adalah menjadikan sekolah sebagai lumbung empati dan pusat tumbuhnya gerakan kemanusiaan,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam membentuk generasi muda di Sulawesi Tenggara yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kuat, kepedulian sosial tinggi, serta wawasan global yang luas.






