Kendari, Sultrademo.co – Sebanyak 60 mahasiswa asal Sulawesi Tenggara resmi menerima kuota Beasiswa SDM Sawit 2025 dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Program ini menjadi angin segar bagi pengembangan sumber daya manusia di sektor strategis kelapa sawit.
Direktur The Sawit & Nickel Analytics Institute (The SINAI), Muhamad Tonasa, menyebut program ini sebagai wujud nyata komitmen pemerintah dalam mendorong peningkatan kualitas SDM, khususnya di sektor sawit yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
“Beasiswa ini tidak hanya mencakup biaya pendidikan dan uang saku, tapi juga memberikan sertifikat kompetensi dan kesempatan magang langsung di industri kelapa sawit Indonesia. Ini adalah peluang emas agar mahasiswa bisa lebih mudah mengakses dunia kerja ke depan,” kata Tonasa, Senin (19/5/2025).
Di Sultra, dua perguruan tinggi yang menerima kuota beasiswa ini adalah POLINA Bombana untuk program studi S1 Akuntansi Sektor Publik, dan Universiras Sulawesi Tenggara (UNSULTRA) untuk jurusan S1 Agribisnis. Kedua program studi ini dinilai sangat relevan dengan kebutuhan industri sawit nasional.
Menurut Tonasa, The SINAI berkomitmen mendorong lahirnya SDM berkualitas yang mampu menjawab tantangan industri. Ia berharap para penerima beasiswa kelak bisa menjadi agen perubahan di sektor sawit dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami percaya, beasiswa ini akan berperan sebagai katalisator dalam peningkatan kapasitas anak-anak muda di sektor strategis. Semoga mereka menjadi penggerak perubahan yang membawa dampak positif, tidak hanya bagi industri tapi juga bagi daerah masing-masing,” ujarnya.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Direktur Asosiasi SPKS Indonesia, Sabarudin, M.Dev., yang merupakan tokoh utama Serikat Petani Kelapa Sawit. Ia mengapresiasi langkah konkret pemerintah dalam membuka akses pendidikan dan pelatihan profesional bagi generasi muda.
“Ini langkah penting dalam memperkuat posisi petani dan pelaku sektor sawit di masa depan. SDM yang kuat adalah pondasi keberlanjutan industri ini,” ujar Sabarudin.
Dengan hadirnya program beasiswa ini, diharapkan Sulawesi Tenggara bisa berkontribusi lebih besar dalam pembangunan sektor sawit yang inklusif dan berkelanjutan, baik secara ekonomi maupun sosial.
Laporan: Muhammad Sulhijah










