Tragedi Landshut 1977: Ketika Teror Menyatukan Dunia Melawan Ketakutan

Ketgam : “Landshut" di Bandara Roma pada 13 Oktober 1977. Foto: Internet (alliance/AP)

Kendari, Sultrademo.co – Pada era 1970-an, dunia diguncang oleh gelombang perlawanan bersenjata bergaya urban. Dari Timur Tengah hingga Eropa, lahir berbagai organisasi anti-imperialis yang berideologi kiri dan radikal. Di antaranya, Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), Tentara Republik Irlandia (IRA), Euskadi ta Askatasuna (ETA), Brigade Merah di Italia, hingga Tentara Merah Jepang (JRA).

Semua memiliki kesamaan: beroperasi secara bawah tanah, menggunakan kekerasan, dan menargetkan simbol-simbol kekuasaan demi perjuangan politik dan kemerdekaan nasional.
Di Jerman Barat, muncul Faksi Pasukan Merah (Red Army Faction/RAF) yang dipelopori Andreas Baader, Gudrun Ensslin, dan Ulrike Meinhof.

Bacaan Lainnya
 

Gerakan ini lahir dari semangat protes mahasiswa 1968 dan ideologi Marxisme, serta kekecewaan terhadap generasi tua yang dianggap gagal menebus masa lalu kelam Nazi.

Bagi RAF, kemakmuran pascaperang hanyalah topeng bagi sistem otoriter yang belum berubah.
Pemerintah Jerman Barat di bawah Kanselir Helmut Schmidt menolak bernegosiasi dengan kelompok teroris. Sikap keras ini membuat RAF mencari sekutu di luar negeri. Mereka menjalin hubungan dengan PFLP, organisasi Palestina yang dikenal memiliki kemampuan militer tinggi.

Tokoh yang menjembatani dua kelompok itu ialah Wadie Haddad, arsitek berbagai operasi pembajakan pesawat dan serangan lintas negara.

Tahun 1970, sejumlah anggota RAF dilatih di kamp militer PFLP di Yordania, mempelajari taktik gerilya dan penggunaan senjata. Namun, puncak aksi mereka baru terjadi pada 1977 periode yang kemudian dikenal sebagai Deutscher Herbstatau Musim Gugur Jerman.

Segalanya memanas setelah serangkaian serangan yang menewaskan tokoh penting Jerman Barat. Jaksa Agung Federal Siegfried Buback ditembak mati, diikuti pembunuhan bankir Jürgen Ponto, dan penculikan Hanns Martin Schleyer, mantan perwira SS Nazi yang kini menjadi pengusaha besar.

RAF menuntut pembebasan rekan-rekan mereka yang dipenjara, dan ketika tuntutan itu tak dipenuhi, mereka menggandeng PFLP untuk aksi paling berani: pembajakan pesawat Lufthansa “Landshut”.

Pada 13 Oktober 1977, pesawat Boeing 737 itu lepas landas dari Palma de Mallorca menuju Frankfurt dengan 86 penumpang dan lima awak. Tiga puluh menit kemudian, empat militan PFLP bersenjata, yang menamakan diri “Komando Martir Halimah”, mengambil alih kendali.

Dipimpin oleh Zohair Youssif Akache alias Kapten Mahmud, mereka menuntut pembebasan tahanan RAF dan uang tebusan 15 juta dolar.

Krisis berlangsung lima hari, membawa pesawat melintasi langit Eropa dan Timur Tengah mendarat di Roma, Larnaca, Bahrain, Dubai, hingga Aden. Di tengah penderitaan para sandera, kapten pesawat Jürgen Schumann sempat menyelundupkan pesan intelijen penting sebelum akhirnya dieksekusi oleh Mahmud di Aden.

Dengan kopilot Jürgen Vietor yang menolak meninggalkan sandera, Landshut akhirnya terbang ke Mogadishu, Somalia. Di sana, para pembajak mengeluarkan ultimatum terakhir: jika tuntutan tak dipenuhi, mereka akan meledakkan pesawat bersama seluruh penumpang.
Pemerintah Jerman Barat menolak menyerah.

Mereka mengerahkan pasukan elite GSG 9 dalam operasi penyelamatan Feuerzauber (Sihir Api). Tepat pukul 00:05, 18 Oktober 1977, pasukan menyerbu pesawat hanya dalam hitungan detik, melempar granat kejut, dan menembak mati tiga pembajak. Seluruh 86 sandera berhasil diselamatkan.

Pemimpin operasi, Ulrich Wegener, mengirimkan kode keberhasilan lewat radio: “Frühlingszeit!” (Waktu Musim Semi). Dunia memuji keberhasilan itu sebagai simbol keteguhan menghadapi teror.

Namun, kemenangan itu segera dibayangi tragedi baru. Beberapa jam setelah operasi, tiga tokoh utama RAF Andreas Baader, Gudrun Ensslin, dan Jan-Carl Raspe ditemukan tewas di sel Penjara Stammheim. Pemerintah menyebutnya bunuh diri, namun banyak pihak meragukannya. Salah satu anggota yang selamat, Irmgard Möller, menegaskan bahwa kematian mereka bukanlah bunuh diri, melainkan pembunuhan.

Tak lama kemudian, sandera terakhir RAF, Hanns Martin Schleyer, dieksekusi. Jenazahnya ditemukan di bagasi mobil di Prancis. Dengan kematiannya, babak paling gelap dari perang Jerman Barat melawan teror domestik pun berakhir.

Empat dekade kemudian, ingatan tentang tragedi Landshut tetap hidup. Pada 2017, pemerintah Jerman memulangkan bangkai pesawat itu dari Brasil untuk dijadikan monumen sejarah.

“Sampai hari ini, penyelamatan Landshut adalah simbol hidup dari masyarakat bebas yang tidak dapat dikalahkan oleh ketakutan dan teror,” ujar Menteri Luar Negeri Sigmar Gabriel, dikutip dari DW.

Landshut kini menjadi saksi bisu bahwa keberanian dan keteguhan bisa lahir dari teror paling kelam dan bahwa ingatan sejarah, betapa pahit pun, layak untuk dijaga.

Laporan: Arini Triana Suci R

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait