Warga Sultra di Banjarmasin Siap Meriahkan HPN di Banjarmasin

  • Whatsapp

Banjarmasin, Sultrademo.co – Warga Sulawesi Tenggara (Sultra) yang tergabung dalam Paguyuban Keluarga Sultra di Banjarmasin siap memeriahkan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 yang berlangsung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 7 sampai 9 Februari 2020. 

Hal itu diungkapkan sejumlah tokoh masyarakat Sultra saat menerima kunjungan perwakilan PWI Sultra dan PWI Baubau, Kamis malam 24 Januari 2019.

Bacaan Lainnya

Pertemuan yang berlangsung di salah satu kediaman warga Sultra, Kompleks Perumahan Wildan, Kelurahan Telaga Biru, Kota Banjarmasin, dihadiri perwakilan tokoh masyarakat Sultra masing-masing, Makmun S.Sos, Ir. La Alihi, AKP Abdul Rahman, dan Aminuddin.

Ketua PWI Baubau, La Ode Aswalin mengungkapkan Pertemuan berlangsung penuh suasana kekeluargaan. Kami yang hadir dalam pertemuan antara lain utusan PWI Sultra yang diwakili Ketua Bidang Siwo, Gafar, Sekretaris PWI Baubau, Yuhandri Hardiman dan perwakilan Pemkot Baubau, Dr. Hamzah Palaloi.

“Dalam kesempatan itu, pihak Paguyuban Sultra menyampaikan kesiapannya untuk mendukung kegiatan HPN di Banjarmasin, termasuk menghadiri malam Galadiner dalam rangka menerima surat keputusan PWI Pusat yang menunjuk Sultra sebagai Tuan Rumah HPN 2021” Ujarnya.

Ia mengatakan warga Sultra di Banjarmasin juga akan menghadiri kegiatan peluncuran buku Walikota Baubau AS Tamrin dalam kegiatan Bedah Buku “Po-5 Gema Pancasila dari Baubau”.

Rahma mewakili masyarakat Sultra di Banjarmasin menyampaikan Sebagai bentuk dukungan, kita akan hadir dan memakai pakaian sentuhan Buton.

Sekadar diketahui, malam gala dinner penyerahan surat keputusan Sultra sebagai tuan rumah HPN 2021 berlangsung di Aula Hotel Golden Tulip pada tanggal 7 Februari 2020. Dihari yang sama pada sore hari akan digelar bedah buku Polima Gema Pancasila dari Baubau.

Polima memuat tentang nilai-nilai moral dan etika yang orang Buton yang berlaku dalam tatanan kehidupan masyarakat sejak masa Kesultanan Buton. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dipandang relevan dengan pancasila dan dipraktekkan kembali di masa pemerintahan AS Tamrin sebagai instrumen revolusi mental.

Ilfa

Pos terkait