Kendari, Sultrademo.co – Sebagai wujud pengabdian dan demi kemajuan pembangunan Kota Kendari, Penjabat Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu mencetuskan Konsep Kendari Bergerak.
Dalam kegiatan coffee morning bersama OPD Pemkot Kendari, Forkopimda Kota Kendari, pengusaha, masyarakat dan unsur media massa di Aula Graha Pena, pada Jumat (4/11), Asmawa memaparkan bahwa pembangunan daerah sejatinya bermuara pada kesejahteraan, sebagai patron atau muara utama yang wajib ditanamkan setiap penggerak roda pemerintahan.
“Tentunya melibatkan seluruh elemen dan stakeholder terkait. Pembangunan dalam desain pentahelix (multipihak) melibatkan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media massa,” ujar Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu, pada Jumat (4/11/2022).

Menurutnya prinsip pembangunan pentahelix dapat diterjemahkan sebagai pembangunan yang bersifat sinergisitas seluruh komponen untuk menciptakan inovasi program yang terintegrasi. Tujuannya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang adil. Misalnya dari aspek pelayanan harus maksimal memberi kemudahan dan sebisa mungkin tidak menyulitkan.
“Tugas pemerintah yakni pembangunan yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Jika program kerja pembangunan yang ditunaikan tidak menghasilkan kesejahteraan, maka bisa dikatakan pembangunan tersebut gagal,” tuturnya.
Disisi lain kata Asmwa muara tersebut juga akan berimplikasi pada pemberdayaan untuk menciptakan kemandirian. Kata orang bijak, jangan beri ikan tapi beri kail. Dengan kail maka bisa menghasilkan ikan secara mandiri. Berbeda jika hanya diberikan ikan yang sifatnya sementara.
“Artinya dalam rangka pemberdayaan masyarakat mesti ada kemandirian,” tandas Kepala Biro Umum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) itu.
Lebih lanjut, Asmawa Menguraikan pada aspek regulasi juga sangat esensial yang bertujuan untuk menertibkan agar program-program yang diaktualisasikan berjalan dengan efektif dan tepat sasaran. Mana kala regulasi yang dihasilkan tidak menghasilkan kesejahteraan, maka regulasi tersebut perlu ditinjau kembali.
Kemudian pada unsur perusahaan baik swasta maupun BUMD, berfungsi melahirkan inovasi dan investasi untuk menunjang pembangunan. Termasuk melakukan riset dan pengembangan.
Asmawa berharap pertemuan pentahelix tersebut sebagai cikal bakal untuk menstimulus investasi dan pembangunan Kota Kendari yang berkemajuan melalui tagline “Kendari Bergerak”.
Dia menjelaskan, tagline Kendari Bergerak diambil dari filosofi budaya Kota Kendari sebagai Kota Lulo. Prinsip dasar Molulo adalah bergerak. Artinya untuk melakukan perubahan untuk Kota Kendari yang maju, tidak bisa hanya berdiam diri. Harus ada langkah konkret atau bergerak untuk memajukan Ibu Kota Sultra ini.
Tagline Kendari Bergerak diterjemahkan dalam lima hal. Pertama, Kota Kendari yang bersih. Tidak hanya dari sisi lingkungan semata tetapi termasuk bersih penyelenggaraan pemerintah dan bersih di hati.
“Senantiasa bersih dalam menjalankan roda pemerintah, termasuk sektor swasta,” jelas Pj. Wali Kota Asmawa.
Kedua adalah gesit. Artinya, lincah, kreatif dan inovatif. Alasannya, Kota Kendari tidak memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah untuk menunjang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kota Kendari hanya memiliki tambang galian C di Kecamatan Nambo. Namun Pemkot Kendari tidak memiliki kewenangan, karena masuk dalam otoritas pemerintah provinsi. Sehingga Kota Kendari tidak bisa mengandalkan pendapatan dari SDA. Dibutuhkan usaha-usaha kreatif masyarakat.
Ketiga, menghadirkan nuansa Kota Kendari yang ramah. Bukan saja ramah antarsesama warga, ataupun seluruh komponen masyarakat, namun juga ramah terhadap investasi, dan lingkungan.
“Kota Kendari adalah Kota transit. Yang mau ke Morosi (Konawe), Morowali (Sulteng), Langgikima (Konut), Wakatobi, dan lain-lain transit di Kota Kendari. Sebagai kota transit, Kendari sangat berpeluang untuk menjadi kota jasa yang bisa mendongkrak pertumbuhan atau PAD,” beber Pj.Wali Kota Asmawa .
Keempat adalah Kota Kendari yang asri. Saat ini sedang dilaksanakan penebangan pohon yang dapat membahayakan masyarakat. Di satu sisi, Kota Kendari dipoles menjadi kota hijau, indah, dan ditunjang kebersihan lingkungan.
Kelima adalah kondusif. Kondusivitas wilayah prasyarat utama menjamin aktivitas masyarakat.
“Kami juga berharap kepada masyarakat tercipta perubahan perilaku untuk menjadikan Kota Kendari yang aman, tertib dan nyaman,” tutur Pj.Wali Kota Asmawa.
Peran media massa dibutuhkan untuk mengampanyekan program-program yang dicanangkan pemerintah.
“Tak hanya kampanye program, namun juga dibutuhkan kritik solutif dari media jika menemukan polemik dari pemerintah,” pungkas Pj. Wali Kota Asmawa Tosepu. (adv)
















